Nasehat Kanjeng Sunan Kalijaga Yang Cocok Diterapkan Di Era Milenial

 

Sira Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Kalijaga Waliyullah Tanah Jawi Langgeng ing Bawana atau SUNAN KALIJAGA rahumahullah (1450 M, Tuban – 1513 M Kadilangu) adalah figur penting dalam sejarah pembentukan karakter arif umat Islam di tanah Jawa, dgn karakternya berwajah budaya, lentur, toleran, berkeadilan dan berkeseimbangan. Sebagai salah satu anggota Walisongo, Sunan Kalijaga adalah arsitek budaya Islam Jawa dan peletak dasar ideologi pendirian Kesultanan Mataram. Sang Sunan juga adalah tokoh penting lintas generasi yg menjaga proses krusial transisi kerajaan2 nusantara (Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram Islam).

Tumbuh sbg tokoh ruhani yg mumpuni, juga seniman dengan penguasaan khazanah budaya yg mendalam dan memiliki proyeksi politik kebudayaan yg berkarakter. Melalui perjuangan Sunan Kalijaga pula, kebudayaan Indonesia menjadi penuh warna dan cahaya. Berakar pada sejarah dan tradisi sendiri, namun terbuka dan sensitif terhadap perkembangan zaman.

Sunan Kalijaga tidak hanya berupaya membenahi budaya yg ada, tetapi juga memberikan tafsiran budaya tidak lepas dari imajinasi masyarakat pada masa itu. Lahirlah naskah lakon2 wayang caragan sbg salah satu tafsiran karya Sunan Kalijaga. Rekuperasi (pemulihan) masyarakat melalui jalur budaya, menunjukkan sikap arif Sang Sunan sebagai tokoh yg memahami sejarah masa lalu, masanya dan masa yg akan datang.

Dari seorang figur besar Sunan Kalijaga pula, tentu kita telah mengetahui semangat perjuangannya menyebarkan nilai2 Islami ke masyarakat melalui budaya, dgn semangat perjuangannya yg gigih dalam melakukan gerakan sosiokultural-keagamaan.

Semangat perjuangan dan kearifan Sunan Kalijaga dalam menjaga kebudayaan bangsa inilah yg pada waktu itu pernah dibahas pada seminar yg diselenggarakan oleh UIN Sunan Kalijaga.

BHINEKA TUNGGAL IKA, itulah simbol yg sering didengungkan masyarakat Indonesia, artinya menggambarkan Indonesia terdapat berbagai budaya dan kearifan lokal di setiap daerahnya. Sehingga wajah kehidupan masyarakat Indonesia pun tidak bisa terlepas dari wajah budaya yg sangat beragam. Tentu wajah kebudayaan ini bisa menjadi nilai tambahan yg sangat kuat bagi pembentukan karakter keislaman di Indonesia. Karakter bangsa Indonesia akan menjadi kuat apabila Islam dan kebudayaan di negeri ini bisa dikembangkan. Islam dan kebudayaan bisa saling bersinergi dan bisa saling menguatkan.

Inilah yg perlu ditanamkan ke seluruh lapisan masyarakat, artinya karya2 budaya asli daerah, tradisi dan kesenian lokal sebagai kekayaan kebudayaan nusantara dikembangkan untuk mendukung dakwah Islam dan gerakan keagamaan. Sehingga jalur kebudayaan dgn mengedepankan dakwah islamiyah, akan menjadi karakter kuat bagi bangsa Indonesia yg Islami.

Tentu pernah kita ketahui dalam sejarah bahwa Sunan kalijaga memanfaatkan wayang sbg media dakwah Islamiyah di tanah Jawa. Budaya tidak harus semerta2 dihilangkan seluruhnya, akan tetapi dari sebagiannya tsb bisa menguatkan dakwah Islamiyah dgn disisipkan nilai2 keislaman didalamnya.

Menelaah kembali visi, pemikiran, kepribadian, dan kehidupan Sunan Kalijaga itu sendiri yaitu berupaya membumikan Islam dengan pendekatan budaya, sehingga nilai2 Islam benar2 merasuk dan membudaya dalam perilaku masyarakat. Masyarakat yg terbentuk adalah masyarakat yg terbangun jiwa raganya, seimbang kesalehan ritual dan sosialnya dan sebanding antara semangat dan pemahaman agamanya. Islam budaya adalah Islam yg tampil dalam kerja membudayakan manusia yg mengambil Islam sbg panutan.

Dengan Islam dan budaya, manusia beriman berangkat dari pengembangan kedalaman, sehingga tampilan luarnya menunjukkan kedewasaan perilaku dan kebebasan berkreasi tanpa melewati batas2 syariat yg telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Indikatornya yg terpenting adalah adanya keseimbangan antara semangat beragama serta pemahamannya dgn kebudayaan dan kearifan lokal. Islam dan budaya senantiasa menekankan pada sisi substansial ajaran Islam ketimbang formalitasnya.

Dalam bahasa Sunan Kalijaga, seorang muslim harus mampu ANGLARAS ILINING BANYU ANGELI, ANANGING ORA KELI. Kurang lebih artinya yaitu ” Menyesuaikan mengalirnya air, sengaja mengikuti arus tapi jangan terbawa arus “. Ucapan Sunan Kalijaga itu artinya kurang lebih mengajak kita untuk menyelaraskan diri dgn arus zaman, tapi jangan sampai terhanyut dalam arus itu.

Memang, terkadang kita temui orang2 yg maunya hanya melawan arus, tapi lebih sering kelelahan dan mati di tengah jalan, atau minimal berbalik arah sebab tidak kuat menahan arus. Tipe yg kedua adalah mereka yg sejak awal selalu cari aman, cari enaknya saja. Tipikal yg seperti ini susah untuk dijadikan pelopor. Sunan Kalijaga pun jauh2 hari sudah berpesan pada kita, bahwa zaman memang tidak bisa ditentang. Tapi kita harus punya prinsip, punya pijakan. Sebab dgn itu, kita tidak bakal kebingungan menentukan arah.

Menurut Prof Dr. Maharsi (Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga) mengemukakan bahwa pada masa sekarang umat Islam, harus mampu mengikuti perkembangan sosial budaya masyarakat global, didukung informasi dan teknologi yg terus berkembang. Namun yg terpenting adalah masyarakat Indonesia harus mempunyai pegangan agama, yakni; tauhid dan akhlaq sehingga tidak hanyut oleh perkembangan dan kebebasan yg tak terbatas.

Dari itu berkenaan dgn zaman yg terus berkembang pesat sampai saat ini, teringat akan sebuah opini dari seseorang akan kutipan pesan Sunan Kalijaga tsb bahwa kutipan ini berkaitan dgn globalisasi. Ikuti perkembangan iptek, tapi hindari dampak negatifnya. Jangan ikut2an orang barat yg dengan teknologi itu membawa kehancuran pada dunia jelsanya.

Pesan lain yg melengkapi pesan Sunan Kalijaga yg telah dibahas diatas yaitu :

UNINGA SUCINING GANDANING NABI , yaitu kurang lebih artinya “Selalu ingat/sadar akan kesucian harum/ajaran Nabi”.

Betapa indahnya pesan seorang figur besar dalam kejayaan Islam di tanah Jawa. Pesannya tsb mengingatkan kita bahwa jangan sekali lupa akan kesucian dan keagungan ajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Ini sebuah wanti2 dari jauh hari akan gambaran perkembangan zaman yg begitu pesat dan umat muslim tidak bisa menghindari pesatnya kemajuan zaman tsb sampai dgn era globalisasi ini. Sebagai umat muslim tentu harus tetap mengikuti perkembangan zaman yg terus maju pesatnya, akan tetapi jangan sampai terbawa arus negatifnya. Dgn dilengkapi sebuah pesan bahwa kita harus terus ingat dan yakin akan kesucian dan keagungan ajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tetaplah berpegang teguh dgn ajaran2nya, karena umat islam sejatinya nanti akan dihadapkan banyak hal2 negatif dgn seiring bergulirnya zaman. Mungkin apabila mereka itu sendiri belum atau mungkin tidak memiliki prinsip dan karakter yg kuat dalam hidupnya, akan sangat mudah terbawa arus akan hal2 negatif di sekelilngnya.

Bagitulah perkiraan makna yg termuat dari pesan seoraang figur besar Sunan Kalijaga yg terkenal akan kearifannya menjaga budaya bangsa dgn mengdepankan nilai dakwah Islamiyah. Alangkah indahnya pesan Sunan Kalijaga itu kalau kita bisa jalankan.

Source @nahdlatululama www.bankriza.blogspot.com picture SABDA PERUBAHAN Menyerap Makna Pesan Sunan Kalijaga : Angalaras Ilining banyu angeli, ananging ora keli. Uninga sucining gandaning Nabi reshared by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA