Dakwah Adem, Masyarakat Ayem catatan Halal bi Halal Kiai Kampung

 

Jepara-menaramadinah-“Dakwah Adem, Masyarakat Ayem,” itulah tema krusial yang diusung Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Jepara semalam dalam balutan Halal bihalal Kiai Kampung secara virtual. Era disrupsi nyatanya tidak terlalu berpengaruh terhadap eksistensi kiai kampung.

Bagi Kiai Abdul Wahab Saleem, Ketua LDNU Jepara yang juga inisiator kegiatan, istilah kiai kampung yang disematkan kepada tokoh-tokoh agama level akar rumput tidak boleh dimaknai secara peyoratif, tapi justru mengandung spirit kebanggaan. Peran mereka sebagai tumpuan sentral masyarakat mustahil kita nafikan. Kampung bukan berarti kampungan, namun sarat dengan nilai-nilai luhur.

Dakwah adem jadi visi utama para da’i dengan mengedepankan prinsip “wasathiyah”. Apalagi di tengah wabah pandemik, dakwah provokatif sebisa mungkin harus dihindari. Landasan dakwah tak boleh keluar dari koridor “bilhikmah” (kendali). Jangan sok mencari muka di hadapan Tuhan dengan alasan meramaikan tempat ibadah, padahal kita sedang membahayakan banyak orang. Selain itu, dai juga perlu mengemas tausiyahnya dengan “mauidlah hasanah”. Di internal Kiai NU, jangan “saling serang”. Harus satu komando agar jamaah tidak dibingungkan. Kalaupun harus menempuh perdebatan, saling berbantahlah dengan etis (jidal billati hiya ahsan”. Tempuh cara-cara terbaik.

Kiai Akhirin Ali dari Mantingan, sebagai narasumber pertama, berpesan kepada da’i-da’i muda NU agar menyeimbangkan “dakwah bil kalam” dengan “bil qalam”. Jadi pembicara dari panggung ke panggung saja tak cukup. Butuh lompatan lebih dengan jalan beraksara. Pun dalam konteks ruang lingkupnya, dakwah “fardiyah” dengan “ammah” sama pentingnya.

Karakteristik dakwah “fardiyah” yang individualistik, informal, murah, mudah, maslahah, dan bisa kita lakukan kapanpun serta dimanapun, perlu senantiasa diintensifkan. Sehingga, tenaga da’i tidak dihabiskan untuk dakwah “ammah” yang relatif mahal dan penuh tetek-bengek. Hindari konten dakwah yang panjang, menyesatkan, dan membahayakan. Kemasan dakwah yang efektif semestinya singkat, mencerahkan, dan mengundang kebermanfaatan (thala, dalla, dan naf’a).

Aspek yang juga substansial, da’i harus berani melepas baju kepartaian. Sehingga, di kalangan NU, tak ada lagi kesan pengkotak-kotakan kiai. Si A, Kiai PKB, si B da’i PPP, dan lain sebagainya. Karena, da’i pada hakikatnya milik jamaah. Bukan punya partai.

Kiai Akhirin mewanti-wanti pula, supaya semangat dakwah kita bernuansa merangkul, tidak memukul. Membina bukan menghina. Menambah kawan, bukan lawan. Rasional bukan emosional. Menyentuh bukan menyinggung. Menyentuh berarti membangkitkan kesadaran. Beda dengan menyinggung, yang memantik perseteruan.

Pada domain materi (maddah), da’i perlu jeli dalam membungkus diksi. Prinsipnya adalah “biqadri uqulihim”. Sementara dari sisi metode (kaifiyah), da’i mesti pandai menempatkan posisi.

Sedangkan Kiai Nur Rohman Fauzan, narasumber kedua, memberikan atensi terhadap fenomena para da’i yang cenderung semrawut dalam tampilan narasi dakwahnya. Pemicunya ialah perbedaan referensi yang dijadikan rujukan. Solusinya, setidaknya para da’i jangan malas belajar dan menambah wawasan. Metode dakwah yang telah dicontohkan para nabi dan wali yang santun dan menyejukkan, hendaknya dijadikan prototipe ideal. Jauhi penggunaan frasa-frasa pemicu kekerasan. Sebagaimana pesan almarhum Mbah Fauzan, ulama kharismatik asal Jepara, “becik ketitik, olo ketoro. Coro agomo, coro Negoro. Seng sopo nglanggar ing toto coro. Ning akhirat bakal keloro-loro.”

Jadi, ukuran baik atau buruk dalam dakwah tak hanya harus sejalan dengan tuntunan agama. Tapi juga aturan negara. Begitu kira-kira pesannya.

Adapun Kiai Ahmad Barowi, pada kesempatan itu mengulas filosofi “lebaran” dan “kupatan”. Kupat berarti “ngaku lepat”. Mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Lebaran maknanya “wes lebar, luber, lebur, dan laburan”.

Dengan dipandu Prof-Kiai Muda Berbahaya, Muhammad Makmun Abha, halal bihalal Kiai Kampung semalam berjalan gayeng. Dua jam lebih waktu yang disediakan panitia, nyatanya tak begitu terasa. Tiba-tiba saja sudah sampai pada penghujung acara. Semoga di lain waktu saya bisa kembali tabarrukan dengan mereka, poro masyayih dan kuyaha’ yang luar biasa. Amin.

DAKWAH ADEM, MASYARAKAT AYEM
Catatan Halal bihalal Kiai Kampung

“Dakwah Adem, Masyarakat Ayem,” itulah tema krusial yang diusung Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Jepara semalam dalam balutan Halal bihalal Kiai Kampung secara virtual. Era disrupsi nyatanya tidak terlalu berpengaruh terhadap eksistensi kiai kampung.

Bagi Kiai Abdul Wahab Saleem, Ketua LDNU Jepara yang juga inisiator kegiatan, istilah kiai kampung yang disematkan kepada tokoh-tokoh agama level akar rumput tidak boleh dimaknai secara peyoratif, tapi justru mengandung spirit kebanggaan. Peran mereka sebagai tumpuan sentral masyarakat mustahil kita nafikan. Kampung bukan berarti kampungan, namun sarat dengan nilai-nilai luhur.

Dakwah adem jadi visi utama para da’i dengan mengedepankan prinsip “wasathiyah”. Apalagi di tengah wabah pandemik, dakwah provokatif sebisa mungkin harus dihindari. Landasan dakwah tak boleh keluar dari koridor “bilhikmah” (kendali). Jangan sok mencari muka di hadapan Tuhan dengan alasan meramaikan tempat ibadah, padahal kita sedang membahayakan banyak orang. Selain itu, dai juga perlu mengemas tausiyahnya dengan “mauidlah hasanah”. Di internal Kiai NU, jangan “saling serang”. Harus satu komando agar jamaah tidak dibingungkan. Kalaupun harus menempuh perdebatan, saling berbantahlah dengan etis (jidal billati hiya ahsan”. Tempuh cara-cara terbaik.

Kiai Akhirin Ali dari Mantingan, sebagai narasumber pertama, berpesan kepada da’i-da’i muda NU agar menyeimbangkan “dakwah bil kalam” dengan “bil qalam”. Jadi pembicara dari panggung ke panggung saja tak cukup. Butuh lompatan lebih dengan jalan beraksara. Pun dalam konteks ruang lingkupnya, dakwah “fardiyah” dengan “ammah” sama pentingnya.

Karakteristik dakwah “fardiyah” yang individualistik, informal, murah, mudah, maslahah, dan bisa kita lakukan kapanpun serta dimanapun, perlu senantiasa diintensifkan. Sehingga, tenaga da’i tidak dihabiskan untuk dakwah “ammah” yang relatif mahal dan penuh tetek-bengek. Hindari konten dakwah yang panjang, menyesatkan, dan membahayakan. Kemasan dakwah yang efektif semestinya singkat, mencerahkan, dan mengundang kebermanfaatan (thala, dalla, dan naf’a).

Aspek yang juga substansial, da’i harus berani melepas baju kepartaian. Sehingga, di kalangan NU, tak ada lagi kesan pengkotak-kotakan kiai. Si A, Kiai PKB, si B da’i PPP, dan lain sebagainya. Karena, da’i pada hakikatnya milik jamaah. Bukan punya partai.

Kiai Akhirin mewanti-wanti pula, supaya semangat dakwah kita bernuansa merangkul, tidak memukul. Membina bukan menghina. Menambah kawan, bukan lawan. Rasional bukan emosional. Menyentuh bukan menyinggung. Menyentuh berarti membangkitkan kesadaran. Beda dengan menyinggung, yang memantik perseteruan.

Pada domain materi (maddah), da’i perlu jeli dalam membungkus diksi. Prinsipnya adalah “biqadri uqulihim”. Sementara dari sisi metode (kaifiyah), da’i mesti pandai menempatkan posisi.

Sedangkan Kiai Nur Rohman Fauzan, narasumber kedua, memberikan atensi terhadap fenomena para da’i yang cenderung semrawut dalam tampilan narasi dakwahnya. Pemicunya ialah perbedaan referensi yang dijadikan rujukan. Solusinya, setidaknya para da’i jangan malas belajar dan menambah wawasan. Metode dakwah yang telah dicontohkan para nabi dan wali yang santun dan menyejukkan, hendaknya dijadikan prototipe ideal. Jauhi penggunaan frasa-frasa pemicu kekerasan. Sebagaimana pesan almarhum Mbah Fauzan, ulama kharismatik asal Jepara, “becik ketitik, olo ketoro. Coro agomo, coro Negoro. Seng sopo nglanggar ing toto coro. Ning akhirat bakal keloro-loro.”

Jadi, ukuran baik atau buruk dalam dakwah tak hanya harus sejalan dengan tuntunan agama. Tapi juga aturan negara. Begitu kira-kira pesannya.

Adapun Kiai Ahmad Barowi, pada kesempatan itu mengulas filosofi “lebaran” dan “kupatan”. Kupat berarti “ngaku lepat”. Mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Lebaran maknanya “wes lebar, luber, lebur, dan laburan”.

Dengan dipandu Prof-Kiai Muda Berbahaya, Muhammad Makmun Abha, halal bihalal Kiai Kampung semalam berjalan gayeng. Dua jam lebih waktu yang disediakan panitia, nyatanya tak begitu terasa. Tiba-tiba saja sudah sampai pada penghujung acara. Semoga di lain waktu saya bisa kembali tabarrukan dengan mereka, poro masyayih dan kuyaha’ yang luar biasa. Amin.¬†Ahmad Saefudin, Litbang LD PCNU Jepara dan Dosen UNISNU Jepara