
Oleh : yahya aziz
Selama jadi wali santri Gontor & Lirboyo (2014-2020), kami bersyukur ditakdirkan oleh Allah selalu bertemu WALI SANTRI pilihan, PAK HERMAN (nama samaran) dari Semarang di penginapan bapenta, baik di gedung Al-Azhar (2014-2018), maupun gedung satelit (2018-2020).
Beliau bercerita, begitu bahagia nya sebelum tes ujian masuk CAPEL calon pelajar Gontor anak nya, mimpi bertemu dengan trimurti pendiri pondok,
bah kyai Ahmad Sahal sempat mengalungkan sorban. Dan itu bukti tanda kelulusan seleksi ujian masuk capel dan diterima di Gontor 1 Ponorogo.
Sampai di rumah kampung nya Semarang, dia merenungi makna tentang TABIR MIMPI BERTEMU DENGAN TRIMURTI pendiri pondok.
Apakah ada makna lain ? selain berita kelulusan ujian masuk putra nya.
Bersilaturahmi lah beliau ke rumah salah satu kyai sepuh menanyakan makna lain tabir mimpi itu. Sang kyai sepuh hanya berdiam diri sejenak sambil menghisap rokok Djisamsoe, dan mengatakan :
“Her, Iki mau pas merem ko metu ayat Alquran surat Rum ayat 60”
( Mas Herman, tadi ketika memejamkan mata terlintas sejenak dan terlihat jelas firman Allah surat Rum (30) ayat 60) :
فاصبر ان وعد الله حق
( Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar )
Abah Herman penasaran dan bertanya, apa makna ayat itu bagi kami kyai ? Sang kyai sepuh menjawab : maknanya kalau ingin jadi wali santri Gontor harus SUPER SABAR DAN IKHLAS. Setelah anak mu lulus ujian masuk Gontor, banyak ujian, godaan. Dan yang menggoda orang yang terdekat mu. Jika kamu kuat, anakmu akan berhasil dunia akhirat. Dah pulang, anda renungkan.
Benar kata kyai sepuh tadi, banyak ujian kehidupan bagi wali santri yang anaknya baru kelas 1, termasuk Abah Herman. Hampir setahun putra nya sakit sakit-sakitan, opname di BKSM sebulan kena cacar. Opname lagi di rumah sakit Madiun karena paru paru basah. Sehabis liburan semester awal, masuk rumah sakit lagi tangannya patah, jatuh di tangga gedung baru Aligarh, dirawat di Solo.
Hampir tiap bulan dua kali dia menjenguk anak nya ke pondok Semarang – Ponorogo.
Istrinya tidak kuat, ingin selalu mengajak anak nya untuk pindah sekolah. Tapi anehnya, anaknya bersikukuh gak mau pindah sekolah dan tetap ingin di Gontor.
Puncaknya ujian akhir semester penyakitnya paru paru kambuh dirawat di RSUD Ponorogo, ujian lisan dan tulis sambil diinfus tangannya.
Ketika bulan ramadhan inilah waktu yang mendebarkan, menunggu surat pengumuman kenaikan kelas.
Tanggal 10 ramadhan, surat itu datang dengan tulisan :
“Putra Anda Belum Mendapat Kesempatan Untuk Duduk di Kelas 2, dan tetap di Gontor 1”
Istrinya menangis membaca surat ini, tapi Abah Herman tetap tegar dan sabar. Dipangggillah putra nya, diajaklah dialog dari hati ke hati, nak anda tidak naik kelas, terserah kamu, mau pindah sekolah atau tetap di Gontor ?.
Sang anak dengan tegas menjawab : kembali ke Gontor lagi. Saya gak naik karena sakit, belum bisa adaptasi.
Abah Herman senang dengan jawaban putra nya, tapi istri nya menangis terus ingin pindah sekolah. Bulan syawwal, putra nya kembali ke pondok berangkat sendiri tanpa diantar oleh ayah ibunya. Subhanallah….
Pelajaran kehidupan dari kisah ini :
1. Jika anak mondok, orang tua juga ikut mondok. Belajar sabar dan ikhlas.
2. Ketenangan hati anak di pondok, tergantung juga ketenangan hati orang tua di rumah.
3. Memondokkan anak di bumi pesantren, hati anak, suami, istri harus seirama dan sehati
4. Santri yang naik kelas kembali ke pondok itu biasa, tapi bagi santri yang tidak naik kelas dan mau kembali ke pondok itu baru LUAR BIASA.
5. Di Gontor tidak naik kelas itu biasa, karena persaingan yang ketat. Dan itulah PENDIDIKAN tidak ada jual beli nilai.
6. Mental teruji bagi santri yang tidak naik kelas mau kembali ke pondok.
7. Di Gontor tidak ada istilah tidak naik kelas, yang ada adalah KESUKSESAN YANG TERTUNDA.
8. Sungguh Memondokkan anak itu membutuhkan perhatian, perjuangan doa,biaya, dan tenaga.
9. Semua Wali santri Gontor adalah PEMENANG KEHIDUPAN.
10. Jangan lihat putra putri anda sekarang, apa kelas B – Z, apa pernah tidak naik kelas. Lihatlah 20-30 ke depan.
Bagaimana kisah selanjutnya ?, Apakah putranya Abah Herman bisa lulus KHUSNUL KHOTIMAH sampai kelas 6 ?
Kita lanjutkan kisahnya pada episode yang akan datang…
Barakallah…
Y A : Alumni 1992 dan Wali santri Gontor Ponorogo Lirboyo Kediri.
