Teladan Guru Guru Senior

Oleh : Yahya Aziz


Alhamdulillah selama belajar di K M I ( Kulliyatul Muallim Al-Islamiyah ), yang paling berkesan adalah duduk di kelas 6 era 1991-1992. Pada waktu itu jumlah kelas 6 sepuluh kelas dengan abjad B – K. Kami menempati kelas 6 E, seluruh anggota kelas 6 hanya 400 santri. Hampir semua para kyai kyai sepuh, guru guru tua senior mengajar kami.
Almarhum KH.Shoiman Luqman Hakim ( pimpinan pondok/ santri pertama Gontor) mengajar mustholahul Hadits. Almarhum KH.Ibrohim Thoyib (Pengasuh pondok pesantren Wali songo Ngabar) mengajar Tafsir. Almarhum KH. Imam Subakir Ahmad mengajar Tarikh hadoroh. Almarhum KH Abdullah Mahmud mengajar ilmu tata negara. Almarhum KH.Imam Badri mengajar Ilmu tar biyah. Almarhum KH. Sutaji Tajuddin mengajar balaghoh.
Sebelum mengajar materi inti, hampir semua para kyai kyai sepuh ini memotivasi kami dalam belajar, dan bercerita tentang perjuangan almarhum Kyai Zarkasyi dalam mengembangkan nilai-nilai ruh keihklasan di pondok Gontor.
KH. Ibrahim Thoyib bercerita tentang keihklasan kewibawaan Pak Kyai Zarkasyi ketika mengajar. Pak Zar itu tiap pagi selalu keliling kelas, memantau mana kelas yang kosong. Bahkan pak Zar pernah mengajar 2 kelas sekaligus, ketika waktu istirahat beliau hanya menaruh kopyah di atas meja guru. Para santri tidak ada yang berani keluar dari kelas walaupun bel istirahat. Mengapa mereka gak berani keluar…?….ya masih ada kopyah / peci di meja guru.
KH.Imam Subakir Ahmad selalu bercerita tentang IJAZAH Gontor, menurut pak Zar ijazah Gontor itu bukan secarik lembaran kertas. Bagi Gontor, ijazah untuk santri setelah menamatkan di KMI, atau IPD adalah IJAZAH KEHIDUPAN atau ilmunya bermanfaat bagi masyarakat setelah pulang dari Gontor.
Bahkan orang besar versi Pak Zar bukan yang duduk jadi presiden, DPR, pejabat. Tapi bagi beliau Orang yang ikhlas mengajar Al-Qur’an walaupun di tengah hutan, itulah orang besar versi beliau.
Beliau juga bercerita tentang ijazah untuk sarjana IPD. Akhir tahun 1984 pak kyai Zarkasyi memanggil seluruh calon alumni IPD (sekarang UNIDA) untuk berdiri di depan rumahnya dia memberi ijazah kepada calon sarjana IPD yang dikenal dengan istilah IJAZAH THAREKAT GONTORIYAH :
Setelah kamu lulus dan tamat dari IPD, ilmumu berguna bagi masyarakat berarti kamu sudah berterima kasih kepada saya, tetapi kalau kamu mengecewakan masyarakat, berarti kamu kencing di atas kuburan saya.
Itulah pelajaran kehidupan dari pak kyai Zarkasyi, kisah dari almarhum KH. Imam Subakir Ahmad yang mengajar dikelas kami.
Hampir setiap acara khutbatul Arsy selalu dipidatokan oleh Kyai Abdullah Syukri…di jidatmu ada tulisan PM. Pondok Modern…
Pelajaran kehidupan dari Kyai Kyai sepuh, guru guru senior kami adalah :
1. Kesederhanaan.
Sederhana bukan berarti miskin, sederhana sesuai dengan kebutuhan hidup, bukan keinginan hidup. Hampir tiap hari mereka mengajar dengan sepeda ontel, hanya Pak Kyai Ibrahim Thoyib yang mengajar pakai sepeda motor. Itupun sepeda motor Honda bebek tahun 1975.
2. Keihklasan.
Inilah ruh Guru Guru Senior kami mengajar di kelas. Sehingga ada magnet yang mampu menyetrum sanubari kami sebagai santri. Motivasi motivasi perjuangan trimurti masuk ke hati kami.
3. Kesabaran.
Selama duduk di kelas 6, para kyai kyai sepuh guru senior ini mengajar belum pernah marah.
Ya itulah watak santri, kalau pas cerita tidak ngantuk, tapi pas pelajaran ngantuk semua.
Ketika mengajar santrinya tidur, para kyai kyai sepuh cukup membangun kan dan disuruh wudlu…. subhanallah…
4. Istiqomah.
Guru guru senior ini lah yang menjadi teladan bagi guru guru yunior dan santri kelas 1-6, mereka datang tepat waktu, semangat mengajar dan memberi ilmu….
Setiap habis shalat dan ziarah makam Trimurti kami bacakan fatehah, tanpa terasa air mata meleleh di wajah kami….
Semoga pendiri pondok Trimurti, dan almarhum para kyai kyai sepuh guru guru senior kami, seluruh amal jariyah nya diterima oleh Allah SWT….Hamba hamba Nya.
‘ Majhulun fil Ardhi walakin masyhurun fissamaa’i’ TIDAK TERKENAL di BUMI tapi TERKENAL di LANGIT…. Alfaatihah…!
Y A , alumni 1992 Wali santri Gontor Lirboyo, penulis buku buku kehidupan.