AURA RAMADHAN SUDAH MULAI TERASA DIKAMPUNGKU

 

Oleh :Musthofa Zuhri

 

Doeloe, ketika mendekati ramadhan, orang tuaku meminta kakak lelakiku untuk ungkal ungkal pisau.

Tak hanya itu , ibuku menyuruh aku dan saudara lelakiku untuk menangkap ayam jago untuk persiapan Megengan, dan biasanya aku hanya disuruh melihat cara menyembelih ayam yang benar.

Kulihat Ibu dan kakak perempuanku begitu luar biasanya menyiapkan segala nya . Dan kulihat Kesibukan didapurpun luar biasa.

Dan aku yang masih kecil, diajak untuk mengantarkan hasil masakan ibu untuk diedarkan ( bersedekah ) ketetangga juga pada saudara yang lain.

Demikian juga dengan para tetangga, saudara melakukan hal yang sama. Tukar masakan. Luar biasa memang aura ramadhan di detik detik yang menentukan itu.

Peristiwa itu disebut tompo ramadhan alias Megengan. Dan tradisi tukar masakan ini sangat mengesankan buat generasi seumurku. Tanpa harus menjelaskan dalilnya ada apa gak. Yang pasti, aura ramdhan sudah terasa.

Sore harinya, ayahku mengajak saudar laki lakiku bersama diriku untuk bersih makam leluhur. Juga kirim kemul, fatihah dan ngaji. Dan itu dilakukan agak menjelang sore hari. Dibutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit

Luar biasa arura ramadhan masih terasa terekam dengan jelas.

Oh ya, habis ashar, dimuholla dekat rumah sdh berkumpul beberapa pria dewasa memukul mukul BEDUG secara bergantian dengan bunyi bunyian yang menggetarkan hati. Bedug yang ditabuh pun, mengiayaratkan Aura
ramdhan telah hadir.

Bagi anak – anak kecil seusiaku, menikmati suasana itu. Sambil sesekali, mencoba memainkan alunan bedug dengan warna tersendiri.

Apa ada hikmah dibalik ini semua?

Sangat jelas. Betapa luar biasanya suasana ritmis, khas, magis, khusuk dan cerianya ramadhan sudah dibentuk sejak beberapa hari jelang ramadhan tiba.

Mulai shodaqoh masakan yang diantar tetangga, jalin silaturrahmi antar saudara, kirim fateha leluhur, sampai Ekspresi kegembiraan dengan gema bedug yang ditabuh bertalu talu adalah semata mata hanya satu tujuanya mehyambut ramadhan dengan ceria.

Sampai aku dewasapun, alhamdulillah suasana itu tetap lestari dikampungku. Dan kuyakin, akan terus berjalan dengab baik. Konon sekarang malah lebih seru, diadakan Drumband keliling desa.

Apa ada dalilnya cak?

Kalau kebaikan, gak usah takon dalil, lagian kebiasaan yang berlaku dimasyarakat itu adalah bukti, ia adalah dalil.

Itu cerita dikampungku, mana cerita dikampungmu?? Sama nggaaakkkk….

Marhaban ya ramadhan.