TETAP PRODUKTIF DALAM BERISLAM KAFFAH DI TENGAH GEJOLAK COVID 19

Oleh: Fuad Amsyari

Dalam kondisi apapun kita harus tetap hidup produktif dItinjau dari ukuran agama Islam.

Di saat kita dalam kondisi pembatasan sosial / social distancing dll. karena pandemi covid19 hendaknya masing-masing kita tetap bisa produktif dalam berislam, termasuk dalam beeislam Siyasi/Politik, mengikuti contoha Nabi dalam berislam. Bagaimana bentuk operasionalnya tentu amatlah variatif sesuai kondisi diri dan lingkungan masing-masing.

Mengapa kita haruss tetap produktif dalam berislam walau di tengah pandemi covid19 yang dinilai amat mengerikan? Jawaban dari tinjauan aqidah Islam amatlah jelas yakni jika umat terus dan bahkan tambah produktif dalam berislamnya tentu akan kian dekat dg Allah SWT. sehingga semakin besar pula berkah yang kita terima dalam berbagai bentuk yang tidak bisa dikirakan. Berkah itu bisa berupa misalnya ketenteraman hati, rizki yg lancar, kehormatan sosial, bahkan dapat berupa perlindungan dari infeksi covid19. Bukankah hal-hal seperti itu menjadi harapan setiap muslim di dunia saat ini, di samping nanti di akhirat masuk surga?

Di saat sekarang yang mungkin dipertanyakan adalah bgmn kategorisasi bentuk nyata dalam berislam secara kaffah/utuh untuk dijadikan tolok ukur evaluasi diri. Berikut ini check list bentuk-bentuk aktifitas berislam secara kaffah/utuh dengan berharap bisa memperoleh kecintaan Allah SWT sehingga hadirlah berbagai bentuk berkahNya.

I. Aktifitas berislam personal:

1. Ibadah mahdhah/Ritual: mari ditingkatkan secara khusyu dengan menghindari yang berupa bid’ah dhalalah

2. Ahlaq: mari terus disempurnakan ahlaq kita termasuk sifat mulia tidak menyebar kebohongan seperti hoax, tidak mendatangkan ketakutan dan kerugian pada orang lain, meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat termasuk sikap boros, menyia-nyiakan waktu dan harta, hidup glamour, serta sifat sombong.

3. Amal sosial: mari diperbanyak, terutama fokus untuk menolong merek yang sedang kesulitan ekonomi di tingkat kebutuhan primer seperti terlanda kelaparan.

II. Aktifitas berislam siyasi/politik yang memberi dampak besar pada kehidupan masyarakat luas.

1. Teguh bersama Hizbullah, kelompok perjuangan Politik bervisi penerapan tuntunan Allah SWT dalam mengelola tatanan sosial plural. Bentuk operasionalnya yang sederhana adalah meninggalkn dukungan pada Partai Sekuler dan bersikap sebaliknya meningkatkan dukungan kepada Partai Islam yang berkualitas.

2. Bekerja tekun istiqomah berupaya memperoleh rizki halal dan membelanjakannya sesuai ajaran Islam. Juga terus berupaya menambah kemampuan keilmuan yang dimilikinya, baik dari sumber Wahyu (al Qur’an dan Hadits shahih) maupun dari sumber Sains-teknologi secara luas dan yg terkait dengan yang diminati-ditekuni.

3. Mengintensifkan komunikasi untuk menguatkan jaringan perjuangan Islam memperbesar peluang kemenangan Mukmin cerdas intelek menjadi Pemimpin Formal Tatanan Sosial plural.

4. Proaktif mengembangkan dan berpartisipasi mencari SOLUSI SYAR’I bagi permasalahan yangg sedang dihadapi masyarakat setempat atau masyarakat luas termasuk mengatasi pandemi covid19 sesuai dengang kemampuan diri dan kelompok.

III. Syiar Islam.
Umat tidak boleh meninggalkan upaya-upaya dan bahkan perlu terus gelorakan SYIAR ISLAM dalam kondisi apapun. Syiar Islam ke masyarakat bisa dilakukan melalui medsos dll media, fokuskan dalam 2 bentuk perspektif dasar yakni:

1. Umat Islam dicerahkan untuk berislam dengan MOTIF yang benar, yaitu bahwa berislam itu karena Islam adalah tuntunan hidup yang haq/benar yang dapat menyelamatkan manusia baik sebagai Pribadi maupun sebagai Tatanan Sosial yg plural.

2. Mengajak agar umat Islam dalam berislamnya tidak salah yakni mau melaksanakan dengan simultan ajaran Islsm secara UTUH baik tuntunan Islam Personal dan tuntunan Islam Politik, tidak sebatas hanya mau beritual dan amal sosial saja agar supaya kehidupan umat secara umum tdklah terpuruk-terbelakang..

Dengan klasifikasi di atas kini bisa dilakukan proses evaluasi diri. Pada setiap item di atas perlu diberi skor nilai 1-10 tergantung aktifitas yang bersangkutan terkait item tersebut. Jumlahkan nilai dalam tiap kelompok lalu dirata-rata, dan hasil rata-rata per kelompok kemudian dijumlahkan untuk di rata-ratakan sebagai akhir nilai evaluasi diri. Tentu nilai akhirnya akan berupa rentang 1-10 pula dalam arti lebih rendah nilainya berarti lebih rendah pula kualitas berislamnya.

Semoga bermanfaat.

Surabaya, 1 April 2020