
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
*Pendahuluan*
Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Ayat tersebut menegaskan bahwa misi utama Islam bukanlah konflik, permusuhan, atau dominasi, melainkan menghadirkan rahmat, kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia tanpa membedakan agama, suku, bangsa, maupun budaya.
Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran strategis dalam menerjemahkan dan mengeksternalkan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin ke tingkat nasional maupun global. Istilah “meng-eksternalkan” dalam konteks ini berarti mengaktualisasikan nilai-nilai Islam ke dalam ruang publik dunia sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia.
Dari Konsep ke Implementasi
Sejak didirikan pada tahun 1926, NU tidak hanya berfokus pada pembinaan umat Islam, tetapi juga berupaya membangun hubungan harmonis dengan berbagai elemen masyarakat. Prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut NU mengajarkan:
1. Tawassuth (moderat)
2. Tawazun (seimbang)
3. Tasamuh (toleran)
4. I’tidal (adil)
5. Amar ma’ruf nahi munkar secara bijaksana
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi bagi upaya NU dalam menyebarkan pesan Islam yang damai dan inklusif kepada dunia.
Perkembangan globalisasi menuntut Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran spiritual internal umat, tetapi juga sebagai sumber solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan global.
*Progres NU dalam Diplomasi Perdamaian Global*
Dalam beberapa dekade terakhir, NU semakin aktif terlibat dalam diplomasi internasional. Berbagai forum dialog lintas agama, konferensi internasional, dan kerja sama kemanusiaan menunjukkan bahwa NU telah bergerak dari organisasi keagamaan nasional menuju aktor perdamaian global.
Beberapa progres yang dapat dicatat antara lain:
1. Penguatan Dialog Antaragama
NU secara konsisten mendorong dialog antar agama sebagai sarana mengurangi prasangka dan konflik.
Melalui berbagai forum internasional, NU mengembangkan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berujung pada pertentangan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi modal kerja sama untuk kemanusiaan.
2. Promosi Islam Moderat
Di tengah munculnya berbagai bentuk ekstremisme dan radikalisme, NU menawarkan wajah Islam yang ramah, damai, dan menghargai keberagaman.
Konsep Islam Nusantara menjadi salah satu kontribusi NU dalam menunjukkan bahwa Islam dapat hidup berdampingan dengan budaya lokal tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya.
3. Keterlibatan dalam Isu Kemanusiaan
NU semakin aktif merespons isu-isu global seperti:
* Kemiskinan
* Ketimpangan sosial
* Konflik kemanusiaan
* Pengungsi
* Kerusakan lingkungan
* Krisis perdamaian dunia
Hal ini menunjukkan bahwa Islam Rahmatan Lil ‘Alamin tidak berhenti pada wacana teologis, tetapi hadir dalam tindakan nyata.
*Teori Perdamaian dan Misi NU*
Dalam perspektif Teori Perdamaian, konflik sering muncul karena dominasi ego kelompok, ketidakadilan, dan kegagalan memahami perbedaan.
Secara sederhana dapat dirumuskan:
Perdamaian = Keadilan × Kerja Sama × Penghormatan terhadap Perbedaan
Jika salah satu faktor tersebut hilang, maka potensi konflik meningkat.
Peran NU dalam meng-eksternalkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dapat dipahami sebagai upaya memperbesar ketiga variabel tersebut melalui:
* Pendidikan perdamaian.
* Penguatan moderasi beragama.
* Diplomasi kemanusiaan.
* Dialog lintas budaya.
* Kerja sama internasional.
Dengan demikian, NU tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga membangun mekanisme sosial yang mendukung perdamaian dunia.
*Tantangan yang Masih Dihadapi*
Meskipun progres yang dicapai cukup signifikan, masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain:
1. Meningkatnya polarisasi global.
2. Konflik geopolitik yang berkepanjangan.
3. Penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik.
4. Penyebaran ujaran kebencian melalui media digital.
5. Ketimpangan ekonomi global.
Tantangan tersebut menuntut NU untuk terus memperluas jejaring internasional dan memperkuat kontribusinya dalam penyelesaian konflik global.
*Menuju Peradaban Perdamaian Dunia*
Perdamaian sejati tidak hanya berarti berhentinya peperangan, tetapi juga hadirnya keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam konteks ini, NU memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak peradaban perdamaian dunia melalui penguatan nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Jika nilai rahmat dapat diwujudkan dalam pendidikan, ekonomi, politik, budaya, dan hubungan internasional, maka Islam akan semakin dipahami sebagai solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan global.
*Penutup*
Progres NU dalam meng-eksternalkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin menunjukkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan konstruktif bagi perdamaian dunia. Melalui dialog, moderasi, kemanusiaan, dan kerja sama lintas bangsa, NU telah memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya berbicara untuk umat Islam, tetapi juga untuk seluruh umat manusia.
Ke depan, peran NU tidak hanya menjaga harmoni nasional, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai peradaban menuju dunia yang lebih damai, adil, dan sejahtera. Dengan semangat Rahmatan Lil ‘Alamin, NU dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita besar: perdamaian global untuk seluruh manusia dan seluruh alam semesta. Semoga kita semua bisa memahami demikian aamiin.
Wa Allahu a’lam bish -showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
05 Muharrom 1448
atau
21 Juni 2026
m.mustain
