
*Menyambut Tahun Baru Islam dengan Semangat Perdamaian*
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Tanggal 1 Muharram menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan momentum refleksi spiritual yang mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga transformasi peradaban dari suasana konflik menuju kehidupan yang lebih damai, adil, dan bermartabat.
Dalam konteks kehidupan modern yang sering diwarnai perselisihan, konflik sosial, peperangan, dan berbagai bentuk ketidakadilan, 1 Muharram menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan kembali pentingnya membangun perdamaian dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
*Makna Hijrah sebagai Jalan Perdamaian*
Hijrah Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perdamaian tidak lahir dari permusuhan yang berkepanjangan, melainkan dari keberanian untuk berubah menuju kebaikan. Ketika tekanan dan konflik di Makkah semakin berat, Rasulullah ﷺ memilih langkah strategis yang membuka peluang terciptanya masyarakat baru yang harmonis di Madinah.
Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun kehidupan bersama berdasarkan nilai-nilai:
1. Persaudaraan (ukhuwwah).
2. Keadilan sosial.
3. Toleransi antar kelompok.
4. Musyawarah dalam pengambilan keputusan.
5. Penghormatan terhadap hak-hak manusia.
Piagam Madinah yang disusun Rasulullah ﷺ bahkan sering disebut sebagai salah satu contoh awal kontrak sosial yang menjamin hidup damai bagi berbagai kelompok masyarakat yang berbeda agama dan suku.
*Perdamaian Dimulai dari Diri Sendiri*
Refleksi 1 Muharram mengingatkan bahwa perdamaian dunia tidak mungkin terwujud tanpa perdamaian dalam diri manusia. Banyak konflik besar berawal dari sifat-sifat negatif seperti:
* Kesombongan.
* Keserakahan.
* Kebencian.
* Fanatisme berlebihan.
* Keengganan memahami pihak lain.
Karena itu, hijrah yang pertama adalah hijrah hati, yaitu berpindah dari kebencian menuju kasih sayang, dari permusuhan menuju persaudaraan, dan dari egoisme menuju kepedulian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
المسلم من سلم المسلمون من *لسانه ويده* رواه البخاري ومسلم.
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa perdamaian dimulai dari kemampuan seseorang menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak menyakiti orang lain.
*Perdamaian dalam Keluarga dan Masyarakat*
Tahun baru Islam juga menjadi saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Banyak konflik sosial sesungguhnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik, saling memaafkan, dan kesediaan untuk memahami perbedaan.
Perdamaian dalam masyarakat memerlukan tiga pilar utama:
* Kejujuran.
* Keadilan.
* Kepedulian sosial.
Apabila ketiga nilai tersebut ditegakkan, maka potensi konflik dapat diminimalkan dan kehidupan bersama menjadi lebih harmonis.
*Perdamaian Global sebagai Tanggung Jawab Bersama*
Di berbagai belahan dunia masih terjadi peperangan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang menyebabkan penderitaan jutaan manusia. Refleksi 1 Muharram mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya perdamaian global.
Perdamaian bukan hanya tugas para pemimpin negara atau organisasi internasional, tetapi juga tugas setiap individu melalui:
* Menebarkan sikap toleran.
* Menghindari ujaran kebencian.
* Mengembangkan dialog.
* Menghormati perbedaan.
* Mengutamakan kemanusiaan.
Dalam perspektif Islam, perdamaian merupakan salah satu tujuan utama kehidupan. Bahkan kata “Islam” sendiri berasal dari akar kata yang bermakna keselamatan dan kedamaian.
*Refleksi Filosofis 1 Muharram*
Secara filosofis, pergantian tahun mengajarkan bahwa perubahan adalah hukum alam. Waktu terus bergerak, dan manusia dituntut untuk terus memperbaiki kualitas dirinya. Jika tahun lalu masih terdapat konflik, permusuhan, dan ketegangan, maka tahun baru harus menjadi titik awal hijrah menuju kehidupan yang lebih damai.
Perdamaian sejati bukanlah ketiadaan perbedaan, melainkan kemampuan mengelola perbedaan dengan bijaksana. Sebagaimana berbagai unsur alam dapat hidup dalam keseimbangan, demikian pula manusia dapat hidup berdampingan dalam keragaman apabila menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan.
*Penutup*
Momentum 1 Muharram hendaknya menjadi sarana introspeksi dan pembaruan diri. Semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perubahan menuju perdamaian selalu dimulai dari langkah kecil dalam diri masing-masing.
Mari menjadikan tahun baru Hijriah sebagai awal hijrah dari konflik menuju harmoni, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari perpecahan menuju persatuan. Dengan demikian, semangat 1 Muharram tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga menjadi energi moral untuk membangun perdamaian bagi seluruh umat manusia.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Semoga Allah SWT menjadikan tahun ini sebagai tahun yang penuh keberkahan, persaudaraan, dan perdamaian bagi seluruh alam. Aamiin.
Semoga kita semua bisa memahami demikian aamiin. Wa Allahu a’lam bish -showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
30 Dzulhijjah 1447
atau
16 Juni 2026
m.mustain
