Tetesan Air Mata H.Ngadiono Jamaah Haji Bryan Makkah di Depan Ka’bah.

“Husnul Khotimah”, Mengakhiri hidup dengan baik, itulah cita-cita yang paling diharapkan. Begitu kata H.Ngadiono jamaah dari Sidoarjo.
Bagaiman Kegiatan kesaharian H.Ngadiono di Tanah suci ? Berikut ini laporan Ustadz Yahya Aziz dari Mekkah kepada tim redaksi MenaraMadinah.Com.

 

Makkah, 2026.
Di antara lautan putih ihram yang mengepung Ka’bah, ada sepasang suami istri dari Sidoarjo yang tak henti memanjatkan syukur. Beliau H. Ngadiono, bersama istri tercinta, akhirnya menjejakkan kaki di Tanah Haram tahun ini. Air matanya jatuh bukan karena lelah, tapi karena bahagia yang tak sanggup ia lukiskan dengan kata. “Ya Allah, Engkau panggil aku dan istriku bersama-sama. Alhamdulillah,” bisiknya lirih setiap kali menatap Hajar Aswad.

Di Madinah, rutinitasnya sederhana tapi penuh rindu: selalu menyempatkan diri ke Raudhah. Di taman surga itu ia duduk lama, berziarah ke makam Rasulullah Bibirnya bergetar membaca shalawat, hatinya seakan pulang. Begitu tiba di Mekkah, masjid menjadi rumah keduanya. Tak pernah absen shalat berjamaah, berdesakan di shaf, sujud bersama jutaan hati yang sama-sama berharap ampunan.

Saat kembali ke Hotel Alalaa Mekkah, lelah fisik tak mengalahkan haus ruhani. Ia buka mushaf, NGAJI. Suara KH. Imam Khambali lewat kajian tausiah mengalun mengisi kamar. Ayat demi ayat menampar kesadaran, mengingatkan betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Malam-malamnya diisi diskusi hangat bersama sahabat sekamar: H. Maulan, H. Dedy, dan H. Afandi. Bukan obrolan dunia, tapi tentang umat, tentang kemasyarakatan, tentang bagaimana Islam seharusnya hidup dalam tindakan. Empat hati, satu niat: pulang membawa perubahan.

Untuk ibadah, tak ada kata “nanti”. Umroh wajib, umroh sunnah, Thawaf, Sa’i, Wukuf di Arafah, Mabit dan Murur di Muzdalifah, lempar jumrah di Mina, hingga Thawaf Ifadhah… semua ia jalani dengan semangat yang tak pernah padam. “Mumpung dipanggil, selesaikan tuntas,” katanya pada istrinya.

Tapi yang paling sering membuat jamaah lain ikut menitikkan air mata adalah saat ia beribadah. Baik di Raudhah maupun di pelataran Ka’bah, air matanya selalu jatuh. Ia ingat dosa-dosanya sendiri. Ia ingat dosa kepada orang tua yang sudah tiada. Sujudnya lama. Isaknya pelan. “Ampuni aku, Ya Allah. Ampuni dosa ibu dan bapakku,” pinta itu yang terus ia ulang.

Ketika ditanya apa cita-cita setelah semua ini, jawabannya hanya satu kalimat, pendek tapi menghujam:
“Ingin Mengakhiri Hidup Dengan Baik” (Husnul Khotimah)

Tak minta kaya, tak minta terkenal. Hanya ingin wafat dalam keadaan dicintai Allah.

Ya Allah, jadikan tetesan air mata H. Ngadiono ini saksi cintanya kepada-Mu. Kabulkan doanya, dan kabulkan juga doa kami yang membaca kisah ini.
Aamin Ya Robbal Alaminp