Sholihuddin MPd. Kembali Nahkodai ISNU Kabupaten Kediri, Fokus Perkuat Tradisi Keilmuan dan Inovasi Digital.

KEDIRI – Konferensi Cabang (Konfercab) V Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kediri yang digelar pada Ahad, 7 Juni 2026 di Aula SDNU Kecamatan Ngasem menetapkan kembali Sholihuddin, M.Pd., sebagai Ketua PC ISNU Kabupaten Kediri masa khidmat 2026–2030.

Terpilihnya pria yang juga mantan ketua periode sebelumnya menjadi tonggak penting penguatan gerakan intelektual NU di daerah dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan dinamis.

Mengusung tema “Penguatan Tradisi Keilmuan sebagai Basis Transformasi Organisasi di Era Digital,” Konfercab V merefleksikan visi organisasi agar ISNU menjadi rumah bersama sarjana-sarjana NU yang tanggap terhadap perubahan teknologi dan mampu memberi kontribusi signifikan terhadap kemajuan umat dan bangsa melalui kajian keilmuan yang adaptif.

Dalam laporannya, Sholihuddin tak menutupi sejumlah program yang belum maksimal, namun mengapresiasi capaian positif terutama dalam memperkuat struktur organisasi dengan pembentukan 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari target 26 di Kabupaten Kediri. “Ini menjadi pondasi vital untuk menjangkau lebih luas hingga kecamatan dan mengefektifkan program-program ISNU,” ujarnya.

Bidang keilmuan terus progresif dengan rutin menggelar seminar, diskusi, dan kajian ke-NU-an, terbuka untuk publik. Di bidang ekonomi, ISNU memberikan pendampingan sertifikasi halal bagi para pelaku UMKM. Pendidikan juga diperkuat melalui kolaborasi di Desa Slumbung. Bidang kesehatan mengembangkan podcast tematik, sedangkan bidang digital fokus pelatihan public speaking dan kaderisasi melalui pemilihan Duta ISNU. Bidang hukum aktif menggandeng lembaga seperti KPU dalam edukasi demokrasi.

Sholihuddin mengenang jejak kepemimpinan sebelumnya, dari Imaduddin yang memperkuat sinergi ekonomi, hingga Prof. Dr. M Yasin dan dr. Ali Mashuri yang memupuk kultur halaqah dan diskusi intelektual.

“Pengalaman itu jadi modal penting untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang lebih tajam dan strategis,” paparnya.

Pria berpengalaman ini menegaskan, “Kita harus pertemukan kualifikasi dan peluang. Sarjana NU adalah sumber daya keren yang wajib dikelola agar ilmunya bermanfaat nyata bagi masyarakat.” Kolaborasi diperluas dengan badan otonom NU, pemerintah, dan lembaga pendidikan, termasuk kerja sama pendampingan sertifikasi halal dan penyelenggaraan workshop dengan Ma’had UIN Syekh Wasil.

Penguatan PAC juga jadi prioritas utama. “Rutin bertemu setiap tiga bulan, bertukar pengalaman, dan evaluasi adalah kunci memastikan keberlangsungan sekaligus eksistensi ISNU di akar rumput,” tambahnya.

Menyikapi era digital, ISNU Kabupaten Kediri merancang program inovatif seperti pembangunan database sarjana NU, pengembangan platform digital organisasi, literasi kecerdasan buatan, pendampingan UMKM berbasis teknologi, dan pusat kajian yang dapat memberikan rekomendasi riset bagi pemerintah dan masyarakat.

Sholihuddin mengingatkan aspek terpenting bukan sekadar program, tetapi karakter organisasi yang tangguh dan adaptif. “Semangat ‘resilience’ harus melekat: bangkit, beradaptasi, dan terus bergerak di tengah berbagai keterbatasan. Dengan ini, ISNU Kabupaten Kediri akan menjadi rumah besar sarjana NU yang kreatif, inovatif, dan bermanfaat luas,” tegasnya.

Konfercab V menjadi momentum konsolidasi dan awalan baru, menandai perjalanan segar ISNU Kediri untuk mengawal transformasi sosial, pendidikan, ekonomi, dan digital menuju Kabupaten Kediri yang lebih maju dan berkeadaban.

Terpilihnya Sholihuddin kembali sebagai ketua ISNU Kabupaten Kediri menandai stabilitas dan kesinambungan visi organisasi yang menggabungkan tradisi keilmuan dengan inovasi era digital. Tema konferensi mencerminkan kebutuhan membumikan pemikiran intelektual dalam dinamika zaman, menyesuaikan dengan kemajuan teknologi tanpa menghilangkan akar spiritual.

Keberhasilan penguatan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan memperlihatkan kemajuan dalam membangun jaringan yang solid, kunci keberhasilan program kerja berkualitas dan penyebaran manfaat yang luas.

Beragam program yang diusung—mulai dari edukasi, ekonomi, hingga digital—mengindikasikan ISNU tidak hanya sekadar wadah akademik, tapi juga aktor sosial yang mampu menjawab tantangan aktual masyarakat sambil menjaga semangat ke-NU-an.

Program digital seperti literasi kecerdasan buatan dan platform organisasi menandai upaya krusial mempersiapkan kader menghadapi masa depan yang semakin didominasi teknologi, menjadikan ISNU tetap relevan dan progresif.

Fokus pembinaan karakter organisasi dengan semangat resilience menegaskan bahwa kemajuan bukan hanya soal program, melainkan juga sikap kolektif untuk bertahan dan berkembang dalam segala kondisi.*Imam Kusnin Ahmad*