Momentum May Day dan Hardiknas GMNI Kota Padang, elemen Cipayung dan perwakilan buruh untuk menyuarakan tuntutan kepada pemerintah daerah dan pusat.

 

Padang, — Cipayung Kota Padang bersama kaum buruh secara resmi telah menyelesaikan rangkaian aksi demonstrasi damai yang digelar pada hari Senin, 4 Mei 2026 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Barat, Kota Padang. Aksi ini merupakan puncak dari solidaritas lintas elemen mahasiswa dan organisasi buruh dalam memperingati dua momentum bersejarah secara bersamaan, yakni Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Aksi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Umum (Kordum) Bung Angga Dayu Satria, Ketua GMNI Kota Padang, yang menggalang kekuatan seluruh elemen Cipayung dan perwakilan buruh untuk menyuarakan tuntutan konkret kepada pemerintah daerah dan pusat.

Massa aksi yang terdiri dari mahasiswa lintas organisasi dan perwakilan kaum buruh berkumpul dan melakukan orasi di halaman Gedung DPRD Sumatera Barat. Sebagai puncak dari aksi tersebut, dokumen tuntutan secara resmi diterima oleh Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Sumatera Barat. Seluruh poin tuntutan kemudian dibacakan dan didengarkan oleh Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Bapak Evi Yandri, melalui sambungan video call kepada massa aksi di lapangan.

Wakil Ketua DPRD Sumbar, Bapak Evi Yandri, melalui video call menyampaikan bahwa seluruh tuntutan yang telah diterima akan segera ditindaklanjuti dalam waktu 3×24 jam. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa massa aksi Cipayung Kota Padang akan diundang secara resmi untuk menghadiri hearing (rapat dengar pendapat) pembahasan isu-isu terkait di Kantor DPRD Sumatera Barat pada hari Kamis mendatang.
Cipayung Kota Padang menyambut baik respons dan komitmen tersebut. Kami akan hadir dalam forum hearing yang dijadwalkan pada hari Kamis dan memastikan setiap tuntutan dibahas secara serius dan menghasilkan keputusan konkret. Kami akan terus mengawal proses ini hingga ada tindakan nyata yang dapat dirasakan oleh kaum buruh dan seluruh insan pendidikan di Sumatera Barat.

TUNTUTAN BIDANG KETENAGAKERJAAN
1.Sahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru yang berpihak pada hak-hak pekerja.
2.Perkuat pengawasan terhadap perusahaan yang membayar upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).
3.Bentuk Tim Pengawasan (Dividen) Sengketa Buruh sebagai mekanisme penyelesaian perselisihan yang adil.
4.Audit Anggaran Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Ketenagakerjaan Sumbar dan Kota Padang secara transparan dan akuntabel.
5.Terbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pelarangan Penahanan Ijazah oleh perusahaan.
6.Bentuk Dewan Pengupahan dan Lembaga Tripartit di seluruh Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat.
7.Hapus sistem outsourcing yang tidak berpihak pada pekerja dan rentan dieksploitasi.
8.Perketat pengawasan pelaksanaan perundang-undangan ketenagakerjaan di seluruh wilayah Sumbar.
9.Copot UPTD Pengawasan Dinas Ketenagakerjaan Sumatera Barat yang dinilai tidak menjalankan fungsi pengawasan secara optimal.
10.Naikkan upah buruh/pekerja sesuai dengan kebutuhan hidup layak berdasarkan kajian empiris.

TUNTUTAN BIDANG PENDIDIKAN
1.Tingkatkan kesejahteraan guru secara menyeluruh dan berkeadilan.
2.Berikan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) kepada guru sebagai bentuk tanggung jawab fiskal daerah terhadap kesejahteraan guru, bukan sekadar menumpang pada mekanisme sertifikasi yang notabene merupakan kewenangan pemerintah pusat.
3.Ratakan akses pendidikan yang berkualitas di daerah-daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) Sumatera Barat.
4.Realisasikan Tunjangan Kinerja (Tukin) bagi seluruh dosen di lingkungan perguruan tinggi negeri.
5.Batalkan rencana pemangkasan anggaran pendidikan tinggi yang berdampak pada kualitas layanan akademik.
6.Tindak tegas sekolah dan/atau kepala sekolah yang masih memungut pungutan liar (pungli) dari siswa.
7.Sediakan Program Transisi Kerja bagi lulusan pendidikan kependidikan yang belum terserap di dunia kerja.

PERNYATAAN TOKOH AKSI
Angga Dayu Satria (Kordum — Ketua GMNI Kota Padang):
“Momen hari ini bukan sekadar aksi turun jalan. Ini adalah pernyataan tegas dari generasi muda dan kaum buruh bahwa kami tidak diam melihat ketidakadilan. Ketika buruh masih digaji di bawah standar, ijazah ditahan, dan anggaran pendidikan dipotong, maka tugas kami adalah bersuara. Cipayung Padang hadir sebagai kekuatan moral yang akan terus mengawal pemenuhan hak-hak rakyat.”
Erguna (Ketua PMKRI Padang):
“PMKRI Padang hadir bukan hanya karena tradisi bergerak, tetapi karena kami percaya bahwa keadilan sosial adalah inti dari nilai-nilai kemanusiaan yang kami junjung. Guru yang sejahtera akan melahirkan generasi yang kuat. Buruh yang bermartabat akan membangun bangsa yang kokoh. Kami menuntut pemerintah daerah untuk berhenti bersembunyi di balik prosedur dan mulai bertindak nyata.”
Dani (Ketua GMKI Padang):
“Ada ironi besar ketika negara merayakan Hari Pendidikan Nasional, sementara di saat yang sama anggaran pendidikan tinggi justru dipangkas. GMKI Padang menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban, bukan pos anggaran yang bisa dikorbankan. Kami mendukung penuh perjuangan kawan-kawan buruh dan berkomitmen untuk terus berdiri bersama rakyat.”
Edo Arianto (MC Aksi):
“Aksi hari ini berjalan tertib, penuh semangat, dan penuh kesadaran. Ini membuktikan bahwa mahasiswa dan buruh mampu bersinergi secara dewasa dalam menyuarakan aspirasi. Kami tidak membawa amarah tanpa arah — kami membawa tuntutan yang jelas, argumentasi yang kuat, dan tekad yang tidak akan padam sampai tuntutan ini dijawab.”
Perwakilan Kaum Buruh:
“Kami sudah terlalu lama bersabar. Upah yang tidak layak, ijazah yang ditahan sebagai alat ancaman, dan pengawas tenaga kerja yang tidak berfungsi — ini bukan masalah kecil, ini perampasan hak. Hari ini kami berdiri bersama adik-adik mahasiswa dari Cipayung karena kami sadar perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kami berterima kasih atas solidaritas ini dan berharap suara kami benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan.” jelas perwakilan mahasiswa

Cipayung Kota Padang menyatakan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. Kami akan terus memantau respons pemerintah terhadap tuntutan yang telah disampaikan dan tidak segan untuk kembali turun ke jalan apabila tidak ada langkah konkret yang diambil. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama — untuk buruh, untuk guru, untuk mahasiswa, dan untuk seluruh rakyat Sumatera Barat. (gus)