Almarhum Ustad Dani Iwan Prasetyo Bersalaman Terakhir dengan Drs. Husnu Mufid, M. PdI Sepulang Sholat Jumat Di Pondok Pesanteren Al Jihad Surabaya

Saya memanggilnya dengan panggilan almarhum  Mas Dani. Tapi ternyata nama panjangnya Dani Iwan Prasetyo. Seperti apakah kisah beliaunya. Berikut ini laporan Pemimpin Redaksi menaramadinah.com Husnu Mufid :

Saya mengenal almarhum Mas Dani di Musholla Al Ikhlas Jemurwonosari Gang lebar No. 54 Wonocolo Surabaya. Beliaunya bercerita kalau pernah kerja di Arab Saudi cukup lama dan bisa berbahasa Arab.

Oleh karena itu, saya minta untuk menjadi imam Sholat Tarawih. Beliaunya bersedia. Juga Sholat ashar dan dhuhur bergantian dengan saya. Begitu juga Sholat isyak. Tapi lebih suka saya untuk mengimami. Jika saya keluar kota mengajar dan kirim buku serta liputan berita. Beliaunya siap mengganti jadi imam.

Setelah itu saya memanggil dengan panggilan Ustad dan saya cantumkan di Jadwal Sholat Tarawih. Tapi beliau kurang yakin sebagai Ustad.

Kemudian saya jelaskan alasannya yaitu saat jadi imam bacaannya bagus sekali. Juga   pikiran dan hatinya bersih. Penuh dengan Khusnudon terhadap seluruh pengurus dan Jamaah.

Akhirnya Beliau menerima dengan hati dan jiwa yang ikhlas. Bahkan bersedia setiap jadi Imam Tarawih bersedia ceramah dihadapkan jamaah Sholat Tarawih.

Pada saat Dhuhur dan Ashar seringkali beliaunya azan. Kemudian sholawatan menunggu jamaah untuk Sholat berjamaah. Seringkali  menjadi imam.

Kenangan saya dengan Ustad Dani Iwan Prasetyo ketika pulang dan pergi dari Musholla Al Ikhlas Jemurwonosari Wonocolo Surabaya

Mas Dani saat jalan menuju dan pulang dari Musholla selalu menyuruh saya berjalan didepan lebih dulu. Padahal saya ingin bersama. Tapi apa boleh buat saya turut permintaannya.

Begitula saat pulang sholat Jumat di Pondok Pesantren Al Jihad Surabaya sering bersama. Pada pulang Jumat kemarin Beliaunya menyalami saya sambil tersenyum. Tidak seperti biasanya saya yang menyalami lebih dulu   Pertanda Pamitan mau menghadap Allah SWT.

Selain itu, Saya sering bicara dengan Ustad  Dani. Beliaunya bicara kalau kerja bhakti tidak bisa terjun langsung. Hanya bisa hadir mendampingi saja.

Saya jawab, tidak masalah. Yang penting hadir. Itu sudah bagus. Oleh karena itu, Ustad Dani siap hadir saat pemasangan paving jalan sebelah utara menuju Musholla Al Ikhlas. Kemudian saya beri penghargaan berupa Medali Award Musholla Al Ikhlas bersama jamaah lain yang ikut kerja bakti pavingisasi jalan sebelah utara.

Kemudian almarhum Ustad Dani petnag bilang bahwa anaknya ikut tes di Perguruan Tinggi yang didirikan Prabowo Subianto. Tapi tidak lulus. Meskipun putranya dibimbing sama Pak De nya yang jadi tentara.

Saya sarankan tetap lanjut di Kuliah  ITS. Karena perguruan tinggi ini sangat bagus dan kekompakan alumninya sangat kuat. Khusus rekrutmen pekerjaan di perusahaan.

Putranya pun kuliah di ITS Surabaya hingga. Mengingat putranya itu pintar dan memiliki prestasi di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Kini Beliaunya telah tiada secara mendadak. Mengingat kepergiannya usai mengimani Sholat Dhuhur dan pukul 14.00 wib meninggal dunia setelah masak telur sendiri dan makan bersama anaknya yang kuliah di ITS Surabaya. Kemudian tidur dan meninggal dunia.

Warga Jemur Wonosari RT03/RW09 dan jamaah musholla Al ikhlas mengucapkan turut berduka cita lewat WA Group. Karena merasa kehilangan seorang Muazin dan Imam. Mereka berdoa agar yang ditinggalkan diberi ketabahan dan dikuatkan iman.

Saya sendiri mendengar Ustad Dani Iwan Prasetyo meninggal dunia sepertinya tidak percaya.  Tapi faktanya demikian. Tubuh saya terasa lemas dan tertidur setengah jam. Karena dulunya sering bersama Sholat dhuhur dan ashar. Dimana saya imamnya. Beliau Muazinnya.

Selamat menuju keharibaan Allah SWT. Surga menunggu Ustad Dani Iwan Prasetyo. Karena Beluau hamba yang baik dan ikhlas dalam beribadah.