KHURAFAT: KETIKA MIMBAR DIJADIKAN PANGGUNG SULAP AKIDAH

Oleh: Diar Mandala | Kolumnis MenaraMadinah.com

Ada ironi paling telanjang di negeri mayoritas Muslim ini. Kita mewarisi agama yang rasional, ilmiah, dan membebaskan akal. Tapi sebagian umatnya justru dibuai dongeng, dituntun ke kuburan, dan disuruh beli air doa. Namanya khurafat.

Khurafat itu bukan tradisi. Ia adalah infiltrasi. Ia menyusup lewat sorban, lewat gelar, lewat air mata buatan di atas mimbar. Wajahnya agama, tapi isinya pembodohan massal.

ANATOMI KHURAFAT: TIGA CIRI YANG TAK BISA DIBANTAH

Secara akademik, khurafat gampang dikenali. Pertama, tidak punya sanad keilmuan. Tidak ada dalam kitab-kitab induk. Tidak diajarkan Rasulullah dan generasi salaf. Kedua, anti-akal sehat. Menabrak hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan di alam semesta. Ketiga, terminal akhirnya syirik. Hati manusia pelan-pelan dicopot dari Allah, lalu digantungkan ke kuburan, jimat, dan sosok yang dikultuskan.

Islam datang untuk memerdekakan manusia dari perbudakan benda dan manusia. Khurafat datang untuk mengembalikan perbudakan itu dengan kemasan barokah.

REBRANDING DUKUN: DARI KEMENYAN KE MIKROFON

Dulu perdukunan itu hina. Sekarang naik kelas. Modus operandinya di-rebranding.

1. Wisata Kubur Bermotif Proposal
Ziarah kubur yang syariatnya untuk tadabbur kematian, disulap jadi biro jasa. Minta jodoh ke wali A. Minta proyek ke makam B. Minta jabatan ke kubah C. Ini bukan ziarah. Ini transaksi akidah. Mayat tidak bisa memberi. Yang bisa memberi hanya Allah.

2. Ekonomi Jimat Berlabel Tabarruk
Pasar jimat sekarang lebih canggih. Dulu kain kafan. Sekarang “air karomah” dalam botol, “tanah barokah” dalam plastik, “rambut wali” dalam liontin. Harganya jutaan. Logikanya nol. Para sahabat Nabi yang dijamin surga saja tidak pernah ngalap berkah ke baju Abu Bakar. Lalu kita disuruh yakin bekas kaki kiai bisa menyembuhkan kanker?

3. Industri Dongeng Karomah
Ini yang paling laku. Cerita terbang tanpa sayap. Shalat Ashar di Mekkah dan Maghrib di Madura. Bisa baca isi dompet jamaah. Tolong dicatat: karomah tertinggi dalam tradisi ulama salaf adalah istiqamah. Bukan atraksi. Wali Allah itu taat syariat, bukan langgar fisika.

KETIKA MIMBAR JADI PANGGUNG STAND-UP HALU

Puncak daruratnya ada di sini. Khurafat tidak lagi bisik-bisik. Ia sudah punya panggung, punya sound system, punya jutaan penonton.

Ada yang mengaku ketemu Nabi dalam keadaan sadar tiap malam Selasa. Ada yang bisa konferensi video dengan arwah wali songo. Ada yang bawa kunci surga di saku sorban. Ada yang jual kavling surga, bayarnya pakai transfer ke rekening air doa.

Ini bukan dakwah. Ini penipuan intelektual. Ini pembunuhan nalar umat secara massal. Jika dibiarkan, 10 tahun lagi anak cucu kita akan mengira agama ini isinya memang sulap dan dongeng.

Dalam tradisi keilmuan Islam, bicara agama tanpa ilmu adalah kriminalitas intelektual. Menghalalkan dan mengharamkan atas nama Allah tanpa dasar adalah kebohongan paling keji.

RAPOR MERAH UNTUK PARA TOKOH: DI MANA SUARAMU?

Pertanyaan yang tidak bisa dihindari: ke mana para intelektual Muslim? Ke mana para doktor syariah? Ke mana para pemilik gelar kiai, tuan guru, dan ajengan?

Kenapa mimbar-mimbar itu bisu saat akidah diobral? Kenapa pena-pena itu tumpul saat tauhid dilecehkan?

Kaidah baku dalam Islam: melihat kemungkaran wajib diingkari. Dengan tangan bagi yang punya kuasa. Dengan lisan bagi yang punya ilmu. Dengan hati jika tak berdaya, dan itu selemah-lemah iman.

Kalau Anda melihat ribuan orang disesatkan di depan mata lalu memilih diam, maka publik berhak menggugat: ilmunya dipakai untuk apa? Gelar itu fungsinya apa?

Mari kita jujur pada diri sendiri. Banyak yang diam bukan karena tidak tahu. Tapi karena kalkulasi. Takut panggung hilang. Takut undangan ceramah berkurang. Takut amplop coklat berhenti. Takut dibully pasukan buzzer si pendongeng.

Jika motifnya itu, maka maaf. Itu bukan dakwah ilallah. Itu dagang ilal-jaisy. Dakwah karena perut dan popularitas.

Ulama itu bukan selebriti. Ulama itu penjaga mercusuar. Tugasnya bukan menyenangkan semua orang. Tugasnya menjaga agar kapal umat tidak karam menabrak karang khurafat. Jika penjaga mercusuarnya tidur, jangan salahkan jika kapal-kapal itu hancur.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah pilar peradaban Islam. Jika pilar ini roboh karena para arsiteknya takut bicara, maka wajar jika peradabannya ambruk dan umatnya jadi bahan tertawaan.

Wahai para tokoh. Cukup jadi penonton. Umat ini tidak butuh pengamat. Umat ini butuh panglima. Jika Anda benar ulama, buktikan dengan meluruskan yang bengkok. Jika Anda benar bekerja untuk Allah, maka takutlah hanya kepada-Nya. Bukan kepada manusia, bukan kepada like, bukan kepada amplop.

Di akhirat nanti gelar tidak ditanya. Yang ditanya: ilmumu kau gunakan untuk apa? Saat kebatilan merajalela, lisanmu kau pakai untuk apa?

EPISTEMOLOGI ISLAM: AGAMA INI BERDIRI DI ATAS DALIL, BUKAN DONGENG

Khurafat harus dilawan karena tiga alasan fundamental.

Pertama, merusak fondasi. Syirik adalah dosa yang membatalkan semua amal. Sekali akidah jebol, shalat, puasa, haji tidak ada artinya. Kedua, mematikan etos. Umat jadi malas, fatalis, dan menggantungkan nasib pada benda. Padahal Islam adalah agama kerja, ikhtiar, dan menaklukkan dunia. Ketiga, melahirkan kapitalisme spiritual. Ada elit yang kaya raya dari jualan dongeng, sementara umatnya miskin dan dibiarkan berharap pada kuburan.

Islam itu agama ilmu. Prinsip dasarnya: ibadah itu harus ada perintahnya. Akal dipakai untuk memahami wahyu, bukan untuk membuat wahyu baru. Agama ini sudah sempurna. Maka setiap ritual baru yang tidak dikenal Nabi dan sahabat, secara metodologi ilmu, tertolak.

PENUTUP: MATIKAN MESIN PEMBODOHAN

Menghormati ulama itu wajib. Mengkultuskan manusia itu haram. Ziarah kubur itu sunnah. Meminta ke mayat itu syirik. Kesembuhan itu dari Allah lewat jalur medis dan doa. Rezeki itu dari Allah lewat jalur kerja keras dan takwa.

Sekali lagi, wahai para tokoh agama. Bangun. Sadar. Kembalilah ke khittah. Jadilah intelektual yang berani, bukan intelektual yang menara gading. Jadilah singa mimbar, bukan macan kertas yang takut kehilangan panggung.

Umat ini menunggu komando. Umat ini butuh kejelasan, bukan pembiaran. Jika Anda terus diam, maka sejarah akan mencatat Anda sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.

Syirik adalah kezaliman terbesar. Khurafat adalah mesin produksinya. Hancurkan mesinnya sekarang. Sebelum generasi kita jadi korban. Wallahu a’lam.