Muskerwil PWNU Jatim Di Tuban. “Merumuskan Masa Depan Dari Bumi Wali”!.

 

Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior dan Kepala Corps Provost Banser Nasional Masa Khidmat Th .2016-2024.

DINAMIKA pergerakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di dunia selalu menjadi sorotan utama. Kiprahnya yang menyentuh aspek sosial, keagamaan, hingga kebangsaan menjadikan setiap langkah organisasi ini sangat berpengaruh bagi tatanan kehidupan masyarakat.

Salah satu momentum strategis yang tengah dipersiapkan dengan matang adalah Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Acara akbar ini berlangsung mulai Sabtu-Ahad 11-12 April 2026 di Pondok Pesantren Sunan Bejagung 2, Semanding, Tuban, di bawah naungan dan asuhan KH. Abdul Matin Djawahir, yang juga menjabat sebagai Wakil Rais PWNU Jatim.

Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi organisasi semata. Lebih dari itu, ini adalah sebuah laboratorium pemikiran besar, tempat para kiai, ulama, dan cendekiawan berkumpul merumuskan gagasan-gagasan strategis yang nantinya akan dibawa ke forum tertinggi organisasi, yakni Muktamar NU.

Jawa Timur memegang peranan yang sangat istimewa dalam peta perjuangan NU. Wilayah ini bukan hanya basis massa terbesar. Tetapi juga dianggap sebagai jantung intelektual dan spiritual gerakan Islam Nusantara. Oleh karena itu, beban tanggung jawab moral yang dipikul PWNU Jawa Timur sangatlah berat.

Apa yang diputuskan dan dirumuskan di Jawa Timur diharapkan mampu menjadi kompas arah bagi organisasi agar tetap relevan, adaptif, dan solutif menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks dan dinamis.

*Filosofi Pemilihan Lokasi: Tuban, Bumi Wali yang Bersejarah*

Pemilihan Kota Tuban sebagai tuan rumah bukanlah tanpa makna. Ada resonansi historis dan spiritual yang sangat dalam di balik keputusan ini.

Tuban dikenal dengan sebutan “Bumi Wali”. Tanah ini adalah tempat peristirahatan terakhir Sunan Bonang, putra Sunan Ampel yang merupakan salah satu tokoh sentral Walisongo. Di sinilah akar budaya Islam Nusantara yang santun, toleran, dan beradab ditanamkan ratusan tahun lalu.

Dengan menggelar Muskerwil NU di tanah yang penuh berkah ini, tersirat harapan besar agar nilai-nilai luhul kearifan lokal dan akhlak mulia para wali dapat dibangkitkan kembali. Semoga semangat dakwah yang
Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), Tawasuth (moderat) dan amar ma’ruf nahi munkar menjadi nafas utama dalam setiap keputusan yang diambil.

*Transformasi: Penguatan Jam’iyyah dan Jama’ah*

PWNU Jawa Timur sangat menyadari bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari struktur manajemen yang rapi, tetapi juga dari kekokohan basis massa di akar rumput.

Oleh karena itu, Muskerwil ini dirancang untuk melahirkan keputusan-keputusan yang bersifat transformatif. Artinya, ada upaya serius untuk melakukan perubahan dan perbaikan menyeluruh, baik secara internal kelembagaan maupun eksternal dalam merespons isu-isu global.

Penguatan organisasi (jam’iyyah) harus berbanding lurus dengan penguatan pelayanan kepada jamaah dan masyarakat luas. NU harus hadir bukan hanya sebagai lembaga yang kuat, tapi juga sebagai gerakan yang selalu dekat dengan rakyat, peduli pada kesulitan umat, dan mampu menjawab tantangan zaman.

*Semangat Melangkah Membangun Masa Depan*

Pada pelaksanaan Muskerwil PWNU Jatim yang berakhir ini,mari kita doakan dan dukung agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, aman, dan penuh berkah. Semoga para ulama dan pemimpin kita senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan hikmah kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Tantangan di depan memang tidak mudah, namun dengan modal keyakinan yang kuat, persatuan yang kokoh, dan warisan nilai luhur para leluhur, kita yakin NU akan terus menjadi pelita bagi negeri.

Mari kita satukan niat, perkuat ukhuwah, dan terus berkarya nyata demi kejayaan Islam, kejayaan bangsa, dan kesejahteraan umat manusia. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan meridhoi langkah kita semua.*Wallahu A’lam Bisshawab*