
BANGKALAN – Menteri Agama RI, KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa peringatan Haul Akbar ke-101 Syaikhona Muhammad Kholil tidak boleh hanya berhenti pada seremonial semata. Lebih dari itu, momen ini menjadi langkah strategis untuk menjaga dan memuliakan khazanah intelektual Islam Nusantara.
Hal ini disampaikannya dalam sambutan video pada acara Halaqah Penelitian Naskah Al-Qur’an Syaikhona Muhammad Kholil, Rabu (01/04/2026). Menag memberikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh terhadap upaya inventarisasi manuskrip peninggalan ulama besar tersebut, termasuk mahakarya mushaf Al-Qur’an tulisan tangan lengkap 30 Juz.
*Kekayaan yang Membedakan Islam Nusantara*
Dalam sambutannya, Menag menekankan komitmen kuat Kementerian Agama untuk terus mendukung inisiatif serupa. Kajian ilmiah mulai dari kodikologi hingga analisis varian qiraah terhadap mushaf tersebut dinilai sangat penting dalam memperkuat karakter dan jati diri bangsa.
“Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki tradisi penulisan Al-Qur’an yang khas. Yakni yang memadukan ketundukan penuh pada standar Rasm Utsmani dengan kekayaan lokal, seperti penggunaan aksara dan hiasan artistik khas Nusantara,” jelas Nasaruddin Umar.
Untuk memastikan standar ilmiah yang tinggi, ia meminta Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Kementerian Agama, dan Universitas PTQ Jakarta untuk bersinergi. Kolaborasi ini penting agar penelitian berjalan profesional namun tetap menjaga nilai kesucian dan keberkahan.
Dukungan juga tidak hanya sebatas diskusi, tetapi juga diarahkan pada publikasi hasil penelitian agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat dalam maupun luar negeri.
*Tiga Teladan Agung dari Manuskrip Syaikhona*
Di tengah arus informasi yang serba cepat dan tantangan zaman yang kompleks, Menag menegaskan bahwa kajian Al-Qur’an harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Melalui penelitian mushaf Syaikhona Kholil, terdapat tiga nilai teladan utama yang bisa dipetik:
1. Kesinambungan Ilmu (Sanad dan Pendidikan)
Manuskrip ini menjadi bukti otentik metode pembacaan Al-Qur’an di pesantren pada abad ke-19. Ini menunjukkan betapa rapihnya sistem transmisi ilmu dari masa ke masa yang terjaga keasliannya.
2. Harmoni Teks dan Budaya
Penggunaan bahasa Jawa dalam penjelasan dan pemaknaan Al-Qur’an mencerminkan keindahan akulturasi. Islam datang bukan menghapus budaya, melainkan menyempurnakannya, menciptakan identitas keagamaan yang kental namun tetap membumi.
3. Semangat Literasi dan Dokumentasi
Mushaf ini mengingatkan kita akan pentingnya tradisi menulis dan mendokumentasikan ilmu. Di era digital ini, semangat para ulama terdahulu yang gigih menulis dengan tangan harus menjadi motivasi untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya baca-tulis.
*Hikmah dan Makna*
Kegiatan ini mengajarkan kita bahwa menghormati ulama bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan melestarikan ilmu yang mereka tinggalkan. Mushaf Syaikhona Kholil adalah jembatan emas yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Ia membuktikan bahwa keislaman kita adalah Islam yang rahmah, yang beradab, dan yang memiliki ciri khas ke-Nusantara-an yang sangat dihargai dunia. Menjaga naskah-naskah ini sama artinya dengan menjaga kehormatan dan akal budi bangsa Indonesia.
*Motivasi*
Menag berharap hasil halaqah ini tidak hanya menjadi laporan tertulis, tetapi dapat diterbitkan menjadi mushaf yang bisa dipelajari oleh santri dan masyarakat luas.
“Mari bersama-sama menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual ulama Nusantara. Semoga Allah SWT meridhai langkah kita, memberkahi upaya kita, dan menjadikan kita semua sebagai penjaga Al-Qur’an yang setia dalam kata dan perbuatan,” pungkasnya.
Semoga semangat ini terus membara, melahirkan generasi yang mencintai ilmu, menghormati para pendahulu, dan bangga menjadi bagian dari Islam Nusantara yang gemilang.*Imam Kusnin Ahmad*
