Iran dan Negara Arab Teluk: Bukan Benci, Tapi Ketakutan yang Rasional.

 

Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior Jawa Timur. Kepala Corps Provost Banser Nasional Periode 2017-2024.

IRAN KINI TAMPAK sendirian dalam menghadapi Israel dan Amerika Serikat. Tidak ada negara tetangga yang membantu, bahkan diplomatnya diusir. Banyak bertanya, apakah negara-negara Arab Teluk sungguh alergi atau membenci Iran? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Negara-negara Arab Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi punya gedung pencakar langit sebagai simbol kesuksesan kapitalisme padang pasir. Semua bergantung pada stabilitas. Tanpa stabilitas, semuanya akan terganggu.

Di sisi lain, Iran hidup dengan tekanan sanksi namun tetap kreatif. Jika negara Teluk bangun keamanan dengan kontrak mahal bersama AS, Iran memilih cara murah namun membuat lawan stres.

Konflik ini bukan hanya tentang perbedaan mazhab Sunni dan Syiah. Ini tentang keamanan sumber daya penting. Harga minyak bisa melonjak drastis jika ada gangguan sedikit saja.

Pada 14 September 2019, fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais di Arab Saudi diserang. Produksi minyak dunia turun sekitar 5,7 juta barel per hari. Harga melonjak hampir 15% dalam sehari, lonjakan terbesar dalam 30 tahun lebih. Pesannya jelas: tidak perlu perang besar untuk membuat dunia panik.

Sejak saat itu, negara Teluk melihat kawasan sebagai titik sensitif yang bisa terganggu kapan saja.

Selat Hormus menjadi titik fokus. Lebarnya sekitar 33 km, tapi jalur kapal efektif hanya 2 mil laut per arah. Ini adalah leher botol global, dan Iran berada di sisi utaranya.

Iran punya banyak cara untuk mengganggu lalu lintas. Mulai dari mengganggu kapal, menahan tanker, sampai menanam ranjau. Tidak perlu terus-menerus, cukup sesekali untuk membuat perusahaan pelayaran berpikir dua kali. Rasa takut di dunia logistik lebih mahal dari misil.

Kita harus mundur ke tahun 1979. Revolusi Iran mengubah wajah negara itu. Sebelumnya Iran berjalan aman, setelahnya membawa ideologi baru yang menyatakan monarki bukan takdir. Bagi kerajaan Teluk, ini adalah ancaman eksistensial.

Ketika Perang Iran-Irak pecah, negara Teluk mendukung Irak secara diam-diam. Bukan karena cinta, tapi karena takut jika Iran menang, mereka akan menjadi target selanjutnya. Iran mencatat hal ini, dan kepercayaan di kawasan hilang secara permanen.

Iran kemudian mengubah strategi menjadi sutradara bayangan. Contohnya adalah Hizbullah di Lebanon. Dibentuk awal 1980-an, kini punya puluhan ribu roket. Iran tidak perlu kirim tank langsung, cukup punya “teman” di tempat tepat.

Pada 2003, Invasi Irak membuat Saddam tumbang. Kekosongan kekuasaan diisi oleh kelompok dekat dengan Teheran. Negara Teluk merasa Iran sudah dekat dengan mereka, seperti sinyal WiFi yang masuk ke rumah.

Di Yaman, kelompok Houthi meluncurkan drone murah ke Arab Saudi. Satu drone hanya puluhan ribu dolar, tapi untuk menjatuhkannya diperlukan sistem Patriot yang menghabiskan sekitar 4 juta dolar per tembakan. Ini bukan perang biasa, melainkan perang yang membuat pihak lain kehabisan biaya dan tenaga.

Selain itu, jalur penting Selat Bab el-Mandeb juga terganggu. Aliran minyak turun, kapal harus mengambil jalur lebih jauh, dan biaya meningkat.

Pada 2023, Arab Saudi dan Iran berdamai dengan mediasi China. Namun damai itu hanya memperbaiki masalah sementara, bukan menyelesaikan akar permasalahan.

Motivasi

Motivasi di balik ketegangan ini adalah perlindungan kepentingan masing-masing. Negara Teluk ingin menjaga stabilitas untuk melindungi minyak, investasi, dan citra mereka. Iran ingin bertahan hidup dalam tekanan internasional dan menunjukkan eksistensinya sebagai kekuatan penting di kawasan.

Inovasi

Iran menunjukkan inovasi dalam strategi keamanan dan militer. Mereka tidak bersaing dengan anggaran besar seperti negara Teluk, melainkan menggunakan cara murah namun efektif. Misalnya dengan menggunakan drone dan mendukung kelompok lokal. Konsep ini membuat mereka bisa membuat lawan sibuk tanpa harus melakukan perang langsung. Negara Teluk juga berinovasi dengan mencari cara baru untuk menjaga stabilitas dan kerja sama regional, seperti perjanjian damai dengan Iran.*Wallohul A’lam Bisshawab*