*بسم الله الرحمن الرحيم* *Membludaknya Jamaah di Masjidil Haram pada Akhir Ramadan: Simbol Kerinduan Umat kepada Allah SWT*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Pada hari-hari terakhir bulan Ramadan, pemandangan yang sangat luar biasa selalu terlihat di Masjid al-Haram. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk beribadah di sekitar Ka’bah. Arus manusia yang membludak memenuhi setiap sudut masjid, pelataran, hingga jalan-jalan di sekitarnya. Fenomena ini bukan sekadar keramaian fisik, tetapi merupakan gambaran kuat tentang kerinduan spiritual umat kepada Allah SWT (Modified AI, 2026).

*Ramadhan dan Puncak Spiritualitas Umat*

Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Pada sepuluh malam terakhir, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah karena berharap mendapatkan malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
ليلة القدر خير من ألف شهر

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Karena keutamaan tersebut, banyak umat Islam yang memilih menghabiskan waktu di Masjidil Haram untuk melakukan berbagai ibadah seperti tawaf, shalat, i‘tikaf, membaca Al-Qur’an, serta berdoa sepanjang malam.

*Magnet Spiritual Ka’bah*

Sejak masa Prophet Ibrahim yang membangun Ka’bah bersama putranya Prophet Ismail, tempat ini telah menjadi pusat spiritual umat manusia. Allah SWT memerintahkan agar manusia mendatangi rumah-Nya:

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق

“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).

Ayat ini seakan terus hidup hingga hari ini. Teknologi transportasi modern justru semakin mempercepat berkumpulnya manusia di Masjidil Haram, terutama pada akhir Ramadhan.

*Dimensi Sosial dan Persatuan Umat*

Membludaknya jamaah di Masjidil Haram juga menggambarkan kesatuan umat Islam. Berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit menyatu dalam satu arah kiblat, mengelilingi Ka’bah dalam gerakan tawaf yang sama. Fenomena ini menjadi simbol nyata bahwa Islam memiliki kekuatan persatuan global yang sangat besar.
Dalam konteks sosial, pengalaman ibadah bersama dalam jumlah besar ini menumbuhkan rasa persaudaraan, empati, dan kesadaran bahwa umat manusia sebenarnya dapat hidup berdampingan secara damai. Semua berdiri sejajar di hadapan Allah SWT tanpa perbedaan status sosial.

*Perspektif Peradaban dan Perdamaian*

Jika dilihat dari perspektif peradaban, membludaknya jamaah pada akhir Ramadhan menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat dibandingkan konflik dan peperangan. Ketika manusia diarahkan kepada ibadah dan nilai-nilai moral, mereka cenderung berkumpul untuk kebaikan bersama.
Fenomena ini dapat menjadi inspirasi bagi konsep pembangunan perdamaian global. Energi spiritual yang muncul dari ibadah kolektif seperti di Masjidil Haram menunjukkan bahwa persatuan manusia sebenarnya sangat mungkin terwujud apabila didasarkan pada nilai ketuhanan, moralitas, dan kesadaran akan kesamaan asal-usul manusia.

*Penutup*

Membludaknya jamaah di Masjidil Haram pada akhir Ramadhan bukan sekadar fenomena keramaian ibadah, tetapi merupakan simbol kerinduan manusia kepada Tuhannya. Di tengah dunia yang sering dipenuhi konflik, pemandangan jutaan manusia bersujud bersama di sekitar Ka’bah menjadi pesan kuat bahwa kedamaian dan persatuan adalah fitrah umat manusia.
Semoga momentum spiritual pada akhir Ramadhan ini tidak hanya berhenti pada ritual ibadah, tetapi juga melahirkan kesadaran global untuk membangun peradaban yang lebih damai, adil, dan penuh kasih sayang.
والله أعلم بالصواب.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Mekkah,
27 Romadlon 1447
atau
16 Maret 2026
m.mustain