
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun di antara seluruh hari dalam bulan ini, sepuluh hari terakhir memiliki keistimewaan yang jauh lebih besar. Pada fase inilah seorang mukmin benar-benar diuji kesungguhannya dalam mendekat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ sendiri memberi perhatian yang sangat besar terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan (Modified AI, 2026). Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.
Artinya:
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.”
(HR. Muhammad, riwayat Aisyah binti Abu Bakar dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Hadits ini menggambarkan betapa luar biasanya kesungguhan Rasulullah ﷺ pada masa-masa tersebut.
1. Puncak Spiritualitas Ramadhan
Sepuluh hari terakhir adalah puncak spiritual Ramadhan. Jika Ramadhan diibaratkan perjalanan ruhani, maka sepuluh hari terakhir adalah garis finisnya. Seorang mukmin yang bijak tidak akan melemah menjelang akhir, justru semakin meningkatkan ibadahnya.
Dalam fase ini umat Islam memperbanyak:
1. Qiyamul lail
2. Tilawah Al-Qur’an
3. Dzikir dan doa
4. Sedekah
5. I’tikaf di masjid
Semua dilakukan dengan harapan mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT
2. Adanya Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Keistimewaan terbesar pada sepuluh hari terakhir adalah adanya Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Surah Al-Qadr: 3)
Seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun ibadah. Artinya satu malam saja bisa bernilai lebih besar daripada ibadah sepanjang umur manusia.
Karena tidak diketahui secara pasti kapan malam itu terjadi, Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir.
3. Momentum Taubat dan Pembersihan Jiwa
Sepuluh hari terakhir juga merupakan kesempatan besar untuk membersihkan diri dari dosa. Manusia sering lalai sepanjang hidupnya, tetapi Allah membuka pintu ampunan yang sangat luas pada bulan Ramadhan.
Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika mencari Lailatul Qadar adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah pada sepuluh hari terakhir adalah memohon ampunan dan kedekatan kepada Allah SWT.
4. Tradisi I’tikaf: Mengasingkan Diri untuk Allah
Salah satu amalan utama pada sepuluh hari terakhir adalah i’tikaf, yaitu berdiam di masjid untuk fokus beribadah.
Rasulullah ﷺ secara rutin melakukan i’tikaf setiap Ramadhan hingga wafatnya. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dan generasi setelahnya.
Di kota suci Mecca dan Medina, jutaan umat Islam memadati masjid seperti Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan.
Suasana spiritual pada waktu ini sangat luar biasa: doa, tangisan taubat, dan tilawah Al-Qur’an bergema hampir sepanjang malam.
5. Pelajaran Kehidupan dari Sepuluh Hari Terakhir
Sepuluh hari terakhir Ramadhan mengajarkan beberapa pelajaran penting:
1. Kesungguhan di akhir perjalanan sering menentukan hasil.
2. Kesempatan besar sering tersembunyi dalam waktu yang terbatas.
3. Keberhasilan spiritual membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Dalam perspektif kehidupan, fase ini mengingatkan manusia bahwa akhir yang baik (husnul khatimah) lebih penting daripada awal yang biasa saja.
Alhasil, Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah masa yang sangat berharga dalam kehidupan seorang mukmin. Pada waktu yang singkat ini tersimpan peluang pahala yang luar biasa besar, ampunan yang luas, dan kedekatan spiritual dengan Allah.
Karena itu para ulama selalu mengingatkan:
“Jika seseorang telah melewati sebagian Ramadhan dengan biasa saja, maka jangan sampai ia kehilangan kemuliaan sepuluh hari terakhirnya.”
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan iman, keikhlasan, dan harapan akan rahmat-Nya. Semoga bisa demikian aamiin.
والله أعلم بالصواب.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
22 Romadlon 1447
atau
10 Maret 2026
m.mustain
