
SURABAYA – Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menyimpan hikmah kesehatan yang luar biasa bagi tubuh manusia. Praktik puasa yang telah diajarkan dalam Islam sejak lebih dari 14 abad lalu kini justru semakin diperkuat oleh temuan-temuan ilmu kedokteran modern.
Praktisi kesehatan sekaligus akademisi, dr. Sukma Sahadewa dari Klinik Paradise Surabaya, menjelaskan bahwa puasa Ramadhan dapat dipahami sebagai proses pemulihan tubuh secara alami yang berdampak positif pada kesehatan fisik maupun mental.
Menurutnya, jika dalam dunia medis dikenal istilah medical check-up untuk mengevaluasi kesehatan tubuh, maka puasa Ramadhan dapat diibaratkan sebagai “spiritual check-up dan body check-up” yang Allah berikan kepada manusia setiap tahun.
“Puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga mekanisme alami untuk memperbaiki tubuh. Dalam banyak penelitian medis, puasa terbukti memicu berbagai proses biologis yang bermanfaat bagi kesehatan,” ujarnya.
Proses Pembersihan Sel
Salah satu temuan ilmiah yang sering dikaitkan dengan manfaat puasa adalah proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel yang baru.
Konsep ini menjadi perhatian dunia kedokteran setelah penelitian mengenai autofagi memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran tahun 2016.
“Autofagi adalah proses regenerasi sel. Ketika seseorang berpuasa, tubuh mulai memanfaatkan cadangan energi dari lemak dan sekaligus membersihkan komponen sel yang sudah tidak berfungsi secara optimal,” jelas dr. Sukma.
Proses ini dinilai berperan dalam menurunkan risiko berbagai penyakit metabolik seperti diabetes, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung.
Meningkatkan Kesehatan Otak
Selain itu, puasa juga terbukti berpengaruh terhadap kesehatan otak. Penelitian neurosains menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan produksi Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yaitu protein yang berperan penting dalam memperbaiki sel saraf.
BDNF membantu meningkatkan daya ingat, memperkuat fungsi kognitif, serta menjaga kesehatan sistem saraf.
“BDNF sering disebut sebagai hormon pertumbuhan bagi otak. Ketika kadarnya meningkat, kemampuan otak untuk belajar dan beradaptasi juga menjadi lebih baik,” tambahnya.
Ajaran Islam yang Sejalan dengan Ilmu Kesehatan
Dalam perspektif Islam, puasa memang tidak hanya bertujuan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri serta membentuk ketakwaan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan pesan kesehatan yang sederhana namun sarat makna:
“Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.”
(HR Thabrani)
Pesan tersebut kini semakin relevan dengan berbagai penelitian kedokteran yang menunjukkan bahwa puasa mampu membantu menurunkan kadar kolesterol, menstabilkan gula darah, memperbaiki metabolisme tubuh, hingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Ramadhan sebagai Madrasah Kesehatan
Lebih jauh, dr. Sukma menilai Ramadhan sejatinya merupakan madrasah kesehatan yang mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan spiritual.
Selama berpuasa, sistem pencernaan mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah bekerja sepanjang tahun. Pada saat yang sama, manusia juga dilatih untuk menahan diri, memperbanyak amal, serta meningkatkan empati kepada sesama.
“Jika puasa dilakukan dengan benar, maka seseorang akan mendapatkan dua manfaat sekaligus, yaitu pahala ibadah dan kesehatan tubuh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari bentuk syukur kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 195 yang mengingatkan manusia agar tidak menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.
Filosofi Puasa: SEHAT
Dalam pandangannya, makna puasa dapat dirangkum dalam satu kata sederhana, yakni SEHAT.
S berarti sabar dalam menahan diri.
E berarti empati kepada sesama.
H berarti hati yang bersih.
A berarti amal yang meningkat.
T berarti tubuh yang lebih kuat.
“Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum penyucian jiwa dan penyembuhan tubuh,” kata dr. Sukma.
Di tengah gaya hidup modern yang sering kali tidak seimbang, hikmah puasa Ramadhan menjadi pengingat bahwa kesehatan sejati tidak hanya berasal dari obat-obatan, tetapi juga dari pengendalian diri, pola hidup sederhana, serta kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta.
