Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Sejak awal peradaban, manusia membangun komunitas, masyarakat, hingga bangsa untuk saling menopang dalam kehidupan. Namun dalam perjalanan sejarah, persatuan yang menjadi fondasi kehidupan bersama seringkali tergantikan oleh perpecahan, konflik, dan permusuhan. Dalam konteks global saat ini, penting untuk melihat rasio antara persatuan dan perpecahan sebagai indikator kesehatan peradaban manusia.
PERSATUAN SEBAGAI FITRAH SOSIAL MANUSIA
Pada dasarnya, kecenderungan untuk bersatu merupakan bagian dari fitrah manusia. Kerjasama memungkinkan manusia membangun peradaban, ilmu pengetahuan, serta sistem sosial yang lebih maju. Tanpa persatuan, mustahil manusia mampu membangun kota, negara, bahkan sistem global yang kompleks.
Dalam perspektif Islam, persatuan bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga perintah moral dan spiritual. Allah berfirman:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا…
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan bukan sekadar strategi sosial, tetapi merupakan nilai fundamental dalam kehidupan umat manusia.
PERPECAHAN DALAM SKALA GLOBAL
Namun realitas dunia menunjukkan rasio yang sering kali tidak seimbang antara persatuan dan perpecahan. Di satu sisi, manusia mampu membangun organisasi internasional, kerja sama ekonomi global, dan jaringan ilmu pengetahuan yang luas. Di sisi lain, konflik politik, perang, rivalitas ekonomi, serta pertentangan ideologi masih terus terjadi.
Perpecahan global sering dipicu oleh beberapa faktor utama:
1. Kepentingan politik dan kekuasaan
2. Persaingan ekonomi dan sumber daya
3. Fanatisme ideologi atau identitas
4. Ketimpangan keadilan sosial
Ketika kepentingan sempit mengalahkan nilai kemanusiaan universal, maka rasio perpecahan meningkat dan stabilitas dunia menjadi rapuh.
RASIO PERSATUAN SEBAGAI UKURAN KEMATANGAN PERADABAN
Salah satu indikator kemajuan peradaban bukan hanya teknologi atau ekonomi, tetapi kemampuan manusia menjaga persatuan di tengah perbedaan. Semakin tinggi rasio persatuan dibandingkan perpecahan, semakin matang pula peradaban tersebut.
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Justru persatuan yang sehat lahir dari kemampuan mengelola perbedaan secara bijaksana. Dalam ilmu sosial modern, konsep ini dikenal sebagai unity in diversity—kesatuan dalam keberagaman.
Dalam pandangan Islam, perbedaan juga merupakan bagian dari sunnatullah. Allah SWT berfirman:
يا ايهاالناس…. الى اخره
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”(QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman seharusnya menjadi jembatan persatuan, bukan alasan perpecahan.
TANTANGAN MORAL DI ERA GLOBAL
Di era globalisasi, hubungan antar manusia semakin dekat, tetapi konflik juga dapat menyebar dengan cepat. Informasi yang tidak bijak, propaganda, dan polarisasi opini sering memperbesar perbedaan hingga menjadi konflik.
Oleh karena itu, membangun rasio persatuan yang lebih tinggi membutuhkan:
1. Keadilan dalam sistem sosial dan politik
2. Etika dalam penggunaan kekuasaan
3. Dialog antar budaya dan agama
4. Pendidikan yang menumbuhkan empati dan kebijaksanaan
Tanpa fondasi moral yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat mempercepat fragmentasi sosial.
MENUJU PERSATUAN PERADABAN
Masa depan peradaban manusia sangat bergantung pada kemampuan meningkatkan rasio persatuan terhadap perpecahan. Dunia membutuhkan paradigma baru yang menempatkan kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan sebagai dasar hubungan global.
Dalam perspektif spiritual, persatuan manusia bukan sekadar tujuan sosial, tetapi juga bagian dari misi moral manusia sebagai khalifah di bumi. Persatuan yang dilandasi nilai kebenaran dan keadilan akan melahirkan perdamaian yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan besar bagi peradaban manusia adalah:
apakah manusia akan meningkatkan rasio persatuan atau terus memperbesar perpecahan?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah masa depan dunia—apakah menuju harmoni peradaban atau justru menuju fragmentasi global. Sudah barang tentu, kita sebagai manusia memiliki sifat dasar selalu ingin hudup damai, secara wajar dan normal akan berusaha meningkatkan rasio perdamaian terhadap perpecahan. Hal ini berarti upaya perdamaian sekecil apapun harus tetap terus dilakukan. Sebaliknya upaya mengurangi perpecahan harus dilakukan sebaik mungkin. Semoga bisa demikian aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
17 Romadlon 1447
atau
06 Februari 2026
m.mustain
