بسم الله الرحمن الرحيم *Perang adalah Puncak Intoleran*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

“Dalam kehidupan manusia, perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik telah menjadi bagian dari sejarah peradaban. Namun ketika perbedaan tidak lagi dikelola dengan kebijaksanaan, maka ini dapat berubah menjadi konflik. Pada titik paling ekstrem, konflik itu menjelma menjadi intoleran bahkan menjadi perang—sebuah kondisi yang dapat disebut sebagai puncak dari intoleransi manusia” (Artikel Mustain: Intoleran Potensi Permusuhan, 2026).

PERBEDAAN SEBAGAI KENISCAYAAN

Sejak awal sejarah manusia, keberagaman telah menjadi warna kehidupan. Perbedaan sebenarnya bukan masalah; ia justru sumber kekayaan peradaban. Ilmu pengetahuan, budaya, dan tradisi berkembang karena adanya pertukaran gagasan di antara berbagai kelompok masyarakat.
Namun keberagaman membutuhkan sikap toleransi. Tanpa toleransi, perbedaan berubah menjadi kecurigaan, kemudian menjadi permusuhan.

INTOLERANSI DAN ESKALASI KONFLIK

Intoleransi dimulai dari sikap menolak keberadaan orang lain yang berbeda. Ia sering muncul dalam bentuk prasangka, stereotip, dan diskriminasi. Jika dibiarkan, intoleransi berkembang menjadi kebencian kolektif.
Pada tahap tertentu, kebencian ini dapat dimobilisasi secara politik atau ideologis. Propaganda, manipulasi informasi, dan narasi “kami versus mereka” memperdalam jurang perpecahan. Ketika dialog berhenti dan kekuatan senjata menjadi alat utama, maka perang pun terjadi.
Sejarah dunia modern memberikan pelajaran pahit. Konflik besar seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II menunjukkan bagaimana intoleransi, nasionalisme ekstrem, dan ambisi kekuasaan dapat membawa dunia pada kehancuran yang luas.

PERANG: KETIKA KEMANUSIAAN KALAH

Perang tidak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga meruntuhkan nilai kemanusiaan. Dalam suasana perang, manusia mudah melihat pihak lain bukan lagi sebagai sesama manusia, melainkan sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Di sinilah letak tragedi moral perang. Ketika empati hilang, maka kekerasan menjadi mudah dibenarkan. Padahal setiap korban perang adalah manusia dengan keluarga, harapan, dan masa depan. Perang menjadi bukti bahwa intoleransi yang dibiarkan berkembang dapat mencapai titik paling destruktif.

PERSPEKTIF MORAL DAN SPIRITUAL

Dalam pandangan moral dan spiritual, toleransi bukan sekadar sikap sosial, tetapi bagian dari kemuliaan manusia. Kehidupan yang damai menuntut kesediaan untuk saling memahami, menghormati, dan mengakui hak hidup orang lain.
Agama-agama besar mengajarkan nilai kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan justru bertentangan dengan tujuan luhur ajaran tersebut.
Perdamaian tidak berarti menghapus perbedaan, tetapi mengelola perbedaan dengan adab dan kebijaksanaan.

PENGUATAN BANGUNAN BUDAYA TOLERANSI

Jika perang adalah puncak intoleransi, maka perdamaian adalah buah dari toleransi yang matang. Masyarakat yang toleran dibangun melalui beberapa fondasi penting:
1. Pendidikan yang menanamkan nilai kemanusiaan.
2. Dialog terbuka antara kelompok yang berbeda.
3. Keadilan sosial yang mengurangi kecemburuan dan ketimpangan.
4. Kepemimpinan yang menolak politik kebencian.

Dengan fondasi ini, perbedaan tidak lagi menjadi sumber konflik, tetapi menjadi sumber kreativitas dan kemajuan.

PENUTUP

Perang adalah puncak dari kegagalan manusia dalam mengelola perbedaan. Perang muncul ketika intoleransi mengalahkan kebijaksanaan dan ketika kebencian menggantikan empati.
Sebaliknya, peradaban yang besar lahir dari kemampuan manusia untuk hidup berdampingan dalam keberagaman. Oleh karena itu, menjaga toleransi bukan sekadar pilihan sosial, melainkan syarat utama bagi kelangsungan peradaban manusia.

Mari kita apapun bentuknya sebagai manusia, kuatkan toleransi dalam kerangka yang dibenarkan untuk membangun persatuan global hidup yang damai. Semoga bisa demikian aamiin. Wallahu a‘lam bish-showaab.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Mekkah,
17 Romadlon 1447
atau
06 Februari 2026
m.mustain