
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Dalam kehidupan manusia, perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik telah menjadi bagian dari sejarah peradaban. Namun ketika perbedaan tidak lagi dikelola dengan kebijaksanaan, maka ini dapat berubah menjadi konflik. Pada titik paling ekstrem, konflik itu menjelma menjadi intoleran bahkan menjadi perang—sebuah kondisi yang dapat disebut sebagai puncak dari intoleransi manusia (Modified AI, 2026).
1. Allah SWT memberi izin berperang hanya dalam kondisi tertentu dan tetap melarang kezaliman. QS Al-Baqarah 2:190 menjelaskan sebagai berikut:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan dalam perang sekalipun, intoleransi dan kekerasan tanpa batas dilarang.
2. Nilai Kehidupan Manusia Sangat Tinggi. QS Al-Ma’idah 5:32 menegaskan sebagai berikut:
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
“Barang siapa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.”
Hal ini menegaskan bahwa kehidupan manusia sangat sakral dan tidak boleh dirusak.
3. Perintah Perdamaian. QS Al-Anfal 8:61 telah memerintahkan untuk damai, yakni:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian lebih diutamakan daripada konflik.
4. Keberagaman untuk Saling Mengenal, Bukan untuk Bermusuhan. QS Al-Hujurat 49:13 telah menjelaskan, yakni:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia, Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat ini menjadi dasar toleransi dalam Islam.
5. Hadits: Larangan Membunuh Tanpa Hak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
HR Shahih Bukhari dan Sjahih Muslim
لَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا
“Seorang mukmin masih berada dalam kelapangan agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.”
6. Hadits: Muslim Sejati Tidak Menyakiti Orang Lain. HR Shahih Bukhari, yakni:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”
Ayat dan hadits tersebut menunjukkan beberapa prinsip penting:
1. Islam menghargai kehidupan manusia.
2. Perang bukan tujuan, melainkan keadaan darurat dengan batas etika.
3. Perdamaian dan toleransi lebih diutamakan.
4. Keberagaman manusia adalah sarana saling mengenal, bukan saling menghancurkan.
Sebagai mu’min yang mendapatkan hidayah Allah SWT berupa pemahaman ini, mari kita tularkan kepada siapa saja yang mungkin. Mari kita kecilkan semua potensi yang mengarah kepada bercerai berai. Syukur alhamdulillah bila bisa memadamkan. Mari kita kurangi pergunjingan sebab ini contoh embrio permusuhan bila tidak dikendalikan. Mari kita kurangi segala sesuai yang bisa menyinggung yang lain apalagi sampai menyakitkan hati. Semoga kita bisa lakukan demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
16 Romadlon 1447
atau
05 Februari 2026
m.mustain
