
SURABAYA – Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Prof. H.M. Mas’ud Said, MM, PhD, menekankan pentingnya “spiritualitas modern”. Berdasarkan berbagai riset global, konsep ini justru membuat Indonesia menempati peringkat teratas sebagai negara paling bahagia dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh (flourishing).
“Berdasarkan riset terbaru Universitas Harvard – salah satu universitas top dunia yang berkolaborasi dengan Baylor University dan lembaga riset ternama Gallup – Indonesia secara mengejutkan menjadi negara paling bahagia di dunia. Indikatornya mencakup kesehatan, makna hidup, karakter/relasi sosial, dan ketahanan finansial,” ujarnya di Surabaya, Selasa (3/3/2026) malam.
Saat mengisi kegiatan “Ramadhan Cendekia” di Kantor PW ISNU Jawa Timur, Prof. Mas’ud – yang juga mantan Ketua PW ISNU Jatim – memaparkan riset “Global Flourishing Study”. Penelitian yang mengkaji lebih dari 203.000 responden di 22 negara selama 3 tahun (2022-2024) ini dipublikasikan dalam jurnal “Nature Mental Health” pada Mei 2025 oleh Dr. Bryron Johnson.
“Kok bisa ya? Hasilnya menunjukkan Indonesia menduduki peringkat pertama dengan skor perkembangan 8,3. Diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55). Temuan baru adalah rata-rata negara maju di Barat kurang bahagia dan menghadapi banyak masalah kemanusiaan. Riset ini menyimpulkan bahwa harta dan ekonomi bukan segala-galanya,” jelasnya.
Hal itu, katanya, juga sesuai dengan isi Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 32 yang berbunyi: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.”
“Banyak negara maju memang memiliki skor tinggi dalam keamanan finansial dan ekonomi, namun justru rendah dalam aspek makna hidup, hubungan sosial, dan karakter pro-sosial. Dunia sekarang rupanya ‘mumet’ karena terlalu sibuk mengejar harta, tanpa landasan moral, dan tertipu oleh fata morgana materialisme,” ucapnya.
Menurut dia, nilai-nilai Asia yang dikembangkan Indonesia dan negara sekitannya berasal dari kedekatan bangsa ini dengan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan NU, yakni Rahmatan lil Alamin. Nilai-nilai agama tersebut bukan sebatas ritual atau ibadah di masjid, melainkan berbasis kemanusiaan melalui pelayanan dan pengabdian masyarakat – yang bisa disebut sebagai “spiritualitas modern”.
“Spiritualitas modern ini tercermin dalam riset World Giving Index oleh Charity Aid Foundation tahun 2023-2024 tentang bangsa yang suka beramal, memberi, dan bersedekah. Bantuan tidak hanya berupa uang, melainkan juga bisa berupa tenaga, barang, atau waktu luang. Sikap menolong atau gotong royong merupakan ciri khas Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, maupun seluruh Indonesia,” paparnya.
Dampak positif beramal atau bersedekah juga terbukti secara finansial, di mana sedekah justru membuat orang semakin kaya. “Banyak tokoh kaya dunia seperti Bill Gates, Warren Buffett, Azim Premji, Charles Francis Feeney, dan Mark Zuckerberg justru semakin sukses setelah menjadi dermawan,” katanya.
Bill Gates – bos Microsoft – tercatat telah menyumbangkan hartanya hingga US$27 miliar dengan indeks kedermawanan 32 persen. Sementara Warren Buffett (CEO Berkshire Hathaway) telah menyumbang US$21,5 miliar dengan indeks kedermawanan 35 persen.
Azim Premji – orang terkaya India – juga menjadi filantropis ternama dunia dengan total sumbangan mencapai US$8 miliar atau 50 persen kekayaannya. Ia mendirikan Azim Premji Foundation yang fokus pada pendidikan dan teknologi informasi di India, serta universitas nirlaba untuk pelatihan guru.
“Tak banyak yang menyangka bahwa Charles Francis Feeney mampu menyumbangkan hartanya melebihi apa yang dimilikinya saat ini. Total sumbangannya mencapai US$6,3 miliar seumur hidup dengan indeks kedermawanan lebih dari 100 persen. Ia mendirikan Feeney Foundation yang berperan dalam pendidikan, penelitian, kesehatan, dan hak asasi manusia,” tambahnya.
Mark Zuckerberg – bos Facebook – juga termasuk filantropis paling dermawan dunia. Ia telah menyumbang US$1,9 miliar untuk Chan Zuckerberg Foundation. Sebelumnya, pada 2014, ia pernah dinobatkan sebagai crazy rich muda paling dermawan di Amerika Serikat setelah menyumbang US$990 juta.
Selain itu, kesehatan masyarakat Indonesia juga terkait dengan manfaat puasa yang telah dibuktikan oleh para ahli dunia. Yoshinori Ohsumi dari University of Tokyo, Jepang, yang menerima Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran tahun 2016, telah meneliti secara mendalam tentang manfaat puasa.
“Autofagi (autophagy) adalah proses alami tubuh untuk membuang sel-sel rusak dan tidak berfungsi, sekaligus menggantinya dengan sel baru yang sehat – semuanya berkat puasa. Mekanisme ini meningkatkan kemampuan sel tubuh untuk melawan racun penyebab penyakit dan menjaga fungsi organ tubuh tetap optimal. Tubuh kita yang telah menumpuk kerusakan selama bertahun-tahun membutuhkan regenerasi sel, yang bisa didapatkan melalui autofagi dan puasa,” jelas Prof. Mas’ud.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Sekretaris Lembaga Kesehatan (LK) PWNU Jatim, DR. dr. Achmad Firdaus Sani, Sp.N(K), FINS, dalam acara “Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H” di Aula I PWNU Jatim pada hari yang sama. “Puasa menurunkan kadar glukosa, namun otak tetap mendapatkan energi. Glukosa yang turun akan memecah lemak menjadi lemak bebas dalam darah yang disebut keton, dan keton inilah yang menjadi sumber energi baru untuk otak,” katanya.*Imam Kusnin Ahmad*
