Mewaspadai Komunitas Anti-Agama, Kemenag Surabaya Tegaskan Moderasi Beragama sebagai Fitrah. Teks F.

 

SURABAYA – Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya, DR HM Muslim S.Ag M.Sy, mengingatkan pentingnya mewaspadai berkembangnya komunitas anti-agama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, kelompok tersebut menyebarkan paham bahwa Tuhan tidak ada dan segala sesuatu di alam semesta, mulai dari udara, air, hingga manusia, terbentuk secara alami tanpa adanya sang Pencipta.

Peringatan itu disampaikannya dalam acara “Ramadhan Cendekia” yang digelar Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, Selasa (24/2/2026) malam.

Acara yang mengambil tema ‘Moderasi Beragama di Perkotaan’ juga menjadi wadah untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga akidah dengan tegas namun tetap menghargai perbedaan.

“Saya sendiri bernama Muslim karena terlahir dari keluarga petani Madura yang menganut agama Islam. Bayangkan jika saya lahir dari keluarga Kristen atau di Bali, tentu akan berbeda. Semua itu terjadi atas kehendak dan takdir Tuhan, bukan muncul dengan sendirinya,” jelasnya.

Muslim menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan bahasa, suku, adat istiadat, dan keyakinan agama sebagai bagian dari rancangan-Nya.

Dalam Al-Qur’an, perbedaan tersebut diciptakan agar manusia saling mengenal dan menghargai satu sama lain. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa moderasi beragama adalah fitrah yang sudah tertanam dalam alam semesta.
“Jika kita menolak perbedaan, itu sama saja tidak mengakui kekuasaan Tuhan. Justru semakin banyak perbedaan yang ada, semakin jelas kita melihat betapa besarnya kekuasaan-Nya.

Bahkan di antara miliaran manusia di dunia, tidak ada yang memiliki sidik jari sama persis – bahkan anak kembar sekalipun tetap memiliki perbedaan,” ujarnya dalam sesi tadarus ilmiah.

Ia menegaskan bahwa persoalan akidah dan keimanan harus ditegakkan dengan mantap, namun tidak boleh berujung pada sikap anti-agama maupun radikal.

Menurutnya, ajaran agama sendiri mengajarkan toleransi seperti yang terkandung dalam firman Allah SWT, “Lakum dinukum waliyadiin” (Untukmu agamamu, untukku agamaku).

“Agama harus ditegakkan dengan prinsip yang jelas, tapi bukan dengan cara memaksakan keyakinan pada orang lain. Memaksakan keyakinan berarti tidak menghargai perbedaan yang jelas-jelas diciptakan Tuhan sebagai bukti kekuasaan-Nya,” tambahnya.

Sebagai contoh, ia menyebutkan kasus pemuda alumni Pesantren Ngruki bernama Hadfana Firdaus yang pada tahun 2022 menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru.

Saat itu Muslim sedang bertugas di Lumajang dan langsung memanggil pemuda tersebut untuk diberikan pembinaan.

“Saya minta dia membaca Surah Yunus Ayat 99. Ternyata dia bisa membaca Al-Qur’an dan bahkan sering menjadi imam sholat di Yogyakarta, namun tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

Muslim menjelaskan bahwa ayat tersebut menyatakan bahwa jika Tuhan berkehendak, seluruh umat manusia di muka bumi akan beriman. “Jadi, jika kita memaksakan kehendak kita pada orang lain agar mengikuti keyakinan kita, itu sama saja melawan kehendak-Nya,” jelasnya.

Pada hari yang sama, PW Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga menggelar Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” dengan tema “Membangun Sinergisme PW-PC di Bidang Pertanian Mendukung Program Nasional”.

Acara tersebut menghadirkan narasumber Prof DR Agr.Sc Hagus Tarno SP MP (Ketua Lembaga Pemberdayaan Pertanian/LPP PWNU Jatim) dan Sekretaris LPPNU Jatim DR Dewi Masyitoh SP MPt.

Prof Hagus menyampaikan bahwa beberapa Pengurus Cabang (PC) LPPNU di Jawa Timur telah menunjukkan inovasi yang menjanjikan di bidang pertanian.

“Contohnya PC LPPNU Pasuruan yang memiliki berbagai produk hibrida mulai dari beras, pupuk organik, madu, sari minyak buah, hingga benih hibrida.

Tugas PW selanjutnya adalah memfasilitasi produk-produk tersebut agar lebih luas jangkauannya dan dapat meningkatkan kualitas pangan masyarakat,” katanya.
*Imam Kusnin Ahmad*