
Oleh : H.Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior. Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
MUSIK dan AJARAN agama dapat berjalan seiring sebagai media untuk menyampaikan pesan kebaikan yang mendalam. Syair lagu Taqwa karya Rhoma Irama tidak hanya menghipnotis pendengar dengan irama dangdut yang khas, tetapi juga mengajak merenungi makna esensial ketaqwaan – yang sekaligus menjadi tujuan utama ibadah puasa dalam Islam.
Baik syair maupun ajaran agama secara lugas menyatakan bahwa derajat manusia di sisi Sang Pencipta tidak ditentukan oleh kekayaan, kemiskinan, atau pangkat duniawi, melainkan oleh seberapa dalam ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Pesan ini selaras dengan kandungan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, yang menjadikannya sebagai dasar ajaran yang relevan hingga saat ini.
1. *Taqwa Sebagai Pondasi Derajat Manusia*
Syair Taqwa membuka dengan pesan penghiburan dan nasihat: “Yang miskin, jangan bersedih / Dan jangan sesali diri / Yang kaya, janganlah bangga / Jangan membusungkan dada”. Pesan ini menghapus kesalahpahaman bahwa kemiskinan adalah hal memalukan dan kekayaan sebagai alasan untuk sombong.
Ajaran ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Az-Zukhruf [43]: 32:
إِنَّا أَعْطَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Bani Israil Kitab (Taurat), hikmah, dan kenabian, dan Kami telah memberikan mereka rezeki dari makanan yang baik-baik, dan Kami telah memuliakan mereka atas segala umat.”
Hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash RA (HR. Muslim) menegaskan bahwa kaum fakir muhajirin mendahului penghuni surga selama 40 tahun, menunjukkan kemiskinan bukanlah penghalang kebaikan.
Inti syair menegaskan: “Derajat manusia di sisi Tuhannya / Bukan karena hartanya / Bukan karena pangkatnya / Hanya karena taqwanya”. Ajaran ini jelas dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Selain itu, QS. Ali ‘Imran [3]: 102 mengingatkan agar beriman bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sementara Hadits dari Abu Hurairah RA (HR. Bukhari dan Muslim) menyatakan bahwa orang bertaqwa akan mendapatkan tempat khusus di surga.
*2. Kemiskinan dan Kekaayaan Sebagai Ujian Bagi Orang Beriman*
Syair menyatakan: “Firman Tuhan tersirat di dalam kitab Al-Qur’an / Miskin dan kaya itu sama / Sesungguhnya, keduanya itu hanya ujian / Bagi orang-orang beriman”. Syair juga mengajukan pertanyaan reflektif tentang kemampuan menghadapi ujian tersebut.
Ajaran tentang ujian terdapat dalam QS. Al-Anbiya [21]: 35:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap jiwa akan merasakan mati, dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, kemudian hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”
QS. Al-Anfal [8]: 28 juga menyatakan bahwa harta dan anak-anak adalah cobaan, sementara Hadits dari Anas bin Malik RA (HR. Muslim) menegaskan bahwa semua urusan orang beriman adalah baik jika dihadapi dengan sabar dan syukur.
*3. Tujuan Utama Berpuasa Adalah Menjadi Mutaqin*
Allah SWT berfirman secara tegas dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.”
QS. Al-Baqarah [2]: 185 menjelaskan bahwa puasa Ramadhan diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara hak dan bathil, dengan tujuan untuk menguatkan iman dan ketaqwaan.
Hadits dari ‘Aisyah RA (HR. Bukhari dan Muslim) menyatakan bahwa puasa adalah benteng perlindungan, di mana seorang puasa harus mengendalikan lidah, mata, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang tidak pantas. Hadits dari Abu Hurairah RA (HR. Muslim) juga menegaskan bahwa ibadah di jalan Allah seharusnya bertujuan untuk menjadi orang yang bertaqwa.
Makna mutaqin dalam konteks puasa meliputi tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan seluruh diri dari hal-hal yang diharamkan, serta memiliki hati yang penuh cinta dan takut kepada Allah.
Baik syair Taqwa karya Rhoma Irama maupun ajaran Islam tentang puasa menyampaikan pesan yang sama: ketaqwaan adalah pondasi derajat manusia di sisi Allah dan tujuan utama dari ibadah puasa.
Kemiskinan dan kekayaan adalah ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran, sedangkan puasa menjadi sarana untuk melatih diri agar selalu berada dalam kondisi ketaqwaan.
Dengan memahami hal ini, diharapkan setiap orang dapat mengembangkan ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk, sehingga meraih derajat yang mulia di sisi Sang Pencipta.*Wallahul A’lam Bisshawab*
