Narasi Mengalahkan Pedang

Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH. MH Ketum PP HPK.

Akankah sebuah Pedang menjadi tumpul, dan bagaimana satu tulisan yang dipakai untuk melakukan penindasan agar terhubung dengan satu sistem operasi pemasungan dan penjara jiwa’, yaitu dengan menciptakan mitologi, dongeng,satir, bahkan sejarah satu kaum dihilangkan dimusnahkan oleh kaum yg lain melalui satu paradigma narasi satir yg disampaikan berulang ulang, sampai tidak ada lagi pencerahan jiwa’ dan seluruh nya hanya tulisan palsu oleh Sang penulis dongeng, mitologi yg digunakan sebagai alat penindas,
Pena menjadi tajam dan pedang serta bayonet menjadi tidak lagi berfungsi, sekuat dan setajam apapun pasukan dan pedang akan musnah, dengan menggunakan pisau pena memasung entitas satu kaum, kebudayaan warisan tidak ada lagi yg tersisa bila narasi menjadi senjata di Medan perang, dan Bangsa yang dikalahkan akan menjadi budak selama lamanya.

Tuhan sebagai alat Monopoli dagang, Agama sebagai alat Penjajahan Halus dan senyap.

Tuhan adalah merek dagang, properti eksklusif yang hanya dapat dipahami melalui bahasa, tulisan , tafsir, dan ritual tertentu, didaftarkan dan dipatenkan, dalam jiwa’ serta hanya boleh diakses lewat satu distributor resmi bernama agama, dg memperkaya mitologi dan membuat sejarah yang penuh dengan kepalsuan belaka.

Dalam sejarah peradaban, agama terutama yg dengan mendeklarasikan sebagai monoteistik palsu sering memposisikan dirinya sebagai satu-satunya jalur sah menuju Tuhan. Narasi ini bukan sekadar soal iman, diramu dengan mitologi dan sugesti, tetapi juga soal pembunuh character, pembunuh jiwa’, untuk Bisa menguasai dan memasung kesadaran, jiwa’ murni lenyap.

Ketika agama memasuki suatu wilayah, ia datang membawa senjata, pasukan, salesman dan budayanya dengan paket lengkap: kitab suci, huruf, narasi, bahasa liturgis, mitologi, norma moral, sistem hukum, bahkan cara berpakaian dan cara memandang tubuh bahkan cara hidup. Di banyak tempat, kehadiran agama berarti redefinisi total atas apa yang disebut “benar” dan “suci”. Tradisi lokal adat istiadat, pola hidup dan habitat hidup yang sebelumnya hidup, seperti ritual penghormatan leluhur, ilmu pengetahuan, pemuliaan alam, atau sistem komunal yang egaliter dimusnahkan secara mendadak budaya dan tradisi diklasifikasikan sebagai jiwa “sesat”, “kafir”, “berhala”, patung sebagai karya seni dianggap ritual tersesat atau “tidak beradab”. Pembunuh-an secara menyeluruh dan tidak disisakan selembar pun walaupun itu sebuah proses perjalanan sebagai penanda dan titik tenger lahirnya keberadaan satu entitas Bangsa, semuanya dilumpuhkan, dimusnahkan dan dilumat habis tak tersisa, seperti terhempas.

Di titik inilah sebuah agama menjadi alat menjajah, penghancur yg efektif kebudayaan, seluruh kondisi elemen kebudayaan mulai aksara, huruf, seni dan bahasa, cara hidup, seperti spiritual, tradisi, adat dan ritus, ritual warisan tentang jejak peradaban manusia dan Bangsa dilumpuhkan dengan satu sistem dasar yaitu firman langit atau Wahyu Wahyu halusinasi yg membuat semua orang menjadi ketakutan dan mati dalam kesadaran, apa yg pernah disampaikan oleh Para pendahulu nya sebagai sebagai pesan yg menjadi pegangan nilai hidup seperti digambarkan dalam sesuatu sesanti *” MATI SAKJRONING URIP, DAN URIP SAKJRONING MATI”*…. tidak ada lagi jiwa’ yg masih hidup.

Penjajahan klasik menaklukkan wilayah dengan senjata, membunuh mengusir tetapi Penjajahan dengan narasi dan mitologi religius melumpuhkan jiwa’ membunuh logika dan menaklukkan kesadaran masyarakat dihilangkan Nalar Waras nya. Ia tidak selalu dan tidak lagi hanya memaksa secara fisik; sering kali cukup dengan membangun keyakinan, membuat dongeng dongeng Yg dg bumbui SUGESTI dan halusinasi bahwa keselamatan hanya tersedia melalui satu pintu.
Yaitu Pintu itu dijaga ketat oleh mitologi dongeng Wahyu sebagai tafsir resmi. Di luar itu? Adalah Tersesat.
Bila sudah mulai halusinasi maka itulah jalan untuk memastikan penjara KESADARAN, mati akal’ Waras nya, bila protes baru dibunuh secara fisik dan sosial.

Banyak ritual adat dan tradisi sebagai ritual yang lebih menghargai perempuan, menjaga keseimbangan alam, membangun kesadaran semesta atau menekankan harmoni kehidupan dianggap sebagai bid’ah atau syirik, klenik , tahayul untuk me-Labelisasi ini itu sebagai stigma ketersesatan , bukan lagi untuk menentramkan dan netral kan kehidupan, ia adalah mekanisme delegitimasi, satu perangkap jiwa’. Ketika suatu budaya, tradisi dan adat dicap rendah secara spiritual, maka ia otomatis dianggap rendah secara moral dan intelektual. Dari situ, pembunuhan dan penghapusan nilai intrinsik kebudayaan menjadi tampak wajar, dengan narasi ceramah ya’ng masif.

Prosesnya bisa sukarela, bisa pula melalui tekanan sosial dan politik, bahkan fisik Orang-orang beralih kepercayaan keyakinan yang diwariskan oleh pendahulunya demi akses politik , ekonomi, keamanan, bahkan menjanjikan kehidupan spiritual sesudah mati, harta yang berlimpah setelah di akherat atau penerimaan sosial. Generasi berikutnya tumbuh tanpa lagi mengenal jati diri, minder warder bahkan tidak mampu mengenal budaya leluhurnya, & Bumi Pertiwi.

Tentu saja, ada juga yang menyebut proses ini sebagai “penyebaran kebenaran” atau “pencerahan”. Namun pertanyaannya tetap menggantung: mengapa kebenaran harus menghapus yang lain? Mengapa Tuhan jika benar ada dan Mahakuasa harus dipersempit menjadi monopoli tafsir satu komunitas, bahkan membuat semua yg heterogen adalah musuh Tuhan, keberbedaan menjadi ancaman kelompok semua hidup harus homogen ( sama), mulai makan sampai cebok buang air, sungguh narsistik

Maka muncullah bentuk Sinkretisme Yang sering muncul sebagai bentuk perlawanan sunyi, mempertahankan KESADARAN, Budaya leluhurnya menyerap unsur budaya agama pendatang, memodifikasinya, lalu menyembunyikan identitas lama di balik simbol baru. Tetapi dalam banyak kasus, yang terjadi bukan sekadar percampuran, melainkan pelarutan, pemusnahan secara bertahap. Identitas asli memudar, budaya musnah lalu hilang tanpa ritus upacara perpisahan, mati selamanya.

Dalam setiap monopoli, sejarah telah berkali-kali membuktikan cenderung agama yang melahirkan dominasi dan penjajahan serta membunuh’ budaya.
PERANG tidak lagi membutuhkan Pedang yg menggunakan narasi dan mitologi agama adalah pemenangnya, cukup hancurkan huruf dan aksara serta bahasanya kemudian setelah mereka mampu berbahasa dg huruf huruf agama nya masukan cerita dongeng dan narasi dongeng tentang firman Tuhan, maka terkubur lah satu entitas Bangsa itu dan semuanya menjadi bagian perbudakan modern.

Hidup kan NALAR INTUITIF
Kuatkan pengindra jiwa’.

Nuwun, semesta langgeng.

Hadi Prajoko