بسم الله *Senang dan Tidak Senang Karena Allah SWT*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Terkadang kita lupa bahwa rasa itu juga pemberian Allah SWT. Contoh rasa enak dan senang terhadap makan sesuatu yang paling menjadi kesukaan. Lalat kelihatan begitu senang hinggap pada segala sesuatu yang kita manusia normal sangat tidak suka. Bagaimana kita dan lalat senang dan tidak terhadap segala sesuatu itu semua adalah kehendak Allah SWT. Mengenai sesuai atau tidak dalam merasakan antara sesama makhluq dan Allah SWT ini adalah urusan lain, yakni terkait dengan materi ujian hidup.

QS Al-Baqarah: 216 mensinyalir tentang rasa tersebut, yakni:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

Artinya: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”

Tafsir ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki pengetahuan yang luas dan kita sebagai manusia tidak selalu tahu apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu, kita harus berserah diri kepada Allah SWT dan percaya bahwa apa yang Allah SWT putuskan adalah yang terbaik.

Point besar artikel ini adalah kita harus menambahkan keyakinan kita bahwa segala sesuatu yang sudah terjadi itu terbaik. Perihal yang mendasari ini adalah juga dari keyakinan kita bahwa dasar dinamika atau perjalanan kehidupan ini adalah kasih sayang Allah SWT. Selalu ada hikmah di balik semua kejadian di alam ini, tidak mungkin ada yang lepas dari kehendak Allah SWT.

Kontek kekinian yang menarik adalah ketika kita merasakan kehidupan dunia ini, yang belum banyak difahami orang secara lengkap. Dinamika kehidupan global mengikuti kemauan atau kendali ilmu pengetahuan yang diwarnai dengan dominasi AI (Artificial Intelegence) atau kecerdasan buatan. Memang hal ini masih baru terasa dalam kehidupan ilmiah, tetapi kita yakin bahwa dalam waktu cepat bahkan bersamaan akan terasa dalam kehidupan dunia nyata.

AI adalah alat seperti kalkulator saja, siapa yang ngerjakan dan mikir bila kalkulator tersebut dikasik soal satu tambah satu kok bisa menjawab sama dengan dua. Jadi AI itu seperti kalkulator cuman sudah ditambahi kepinteran untuk menjawab banyak hal. AI diberi bekal bisa membaca memahami dan memberi alternatif untuk mengambil keputusan pada suatu pertanyaan atau persoalan. Misalkan sampai dengan pertanyaan “buatkan laporan kegiatan pabrik”, asal data ada wah dengan kecepatan aliran listrik AI akan menyelesaikan.

Penulis pernah mengajak berpikir bagaimana caranya penghuni dunia ini bisa bersatu. AI dengan semangat juga mau memberikan sumbangan pemikiran tentang Bangunan Perdamaian Dunia.
Alhasil mari kita ikuti dinamika pergerakan dunia ini yang hakekatnya pasti tidak lepas dari kehendak Allah SWT. Dengan demikian kembali kepada senang atau tidak senang ya harus kembali pada standart aturan Allah SWT yakni syariah. Semoga bisa demikian aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Surabaya,
18 Sya’ban 1447
atau
05 Februari 2026
m.mustain