بسم الله *Tuhan Semesta Alam*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

“Alam semesta” dan “semesta alam” sebenarnya memiliki makna yang sama, yaitu “seluruh ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi”. Dalam bahasa Arab, “الْعَالَمِينَ” (al-‘alamin) berarti “semesta alam” atau “seluruh alam”. Jadi, tidak ada perbedaan makna antara “alam semesta” dan “semesta alam” (Modified AI, 2026).

Potongan QS Al-Fatihah: 2 menuliskan, yakni:
…رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “.., Tuhan semesta alam.”

Tafsir potongan ayat ini adalah,
“Al-‘Alamin” (semesta alam) mencakup semua ciptaan Allah, baik di langit, bumi, maupun di antara keduanya”.

Fokus pada semesta alam berarti semua alam, maka tidak ada ruang dan waktu yang dikecualikan. Dengan demikian semesta alam tidak hanya melingkupi sistem ruang dan waktu yang syahadah (riil atau nyata) saja, tetapi juga melingkupi yang ghoib atau non-riil (mungkin dalam bahasa matematika adalah kontek imaginer).

Sudah barang tentu semua alam itu meliputi semua ciptaan Allah SWT. Setidaknya ada dua pasangan klasifikasi besar yakni alam dunia-akhirat dan alam ghoib-syahadah. Jadi ke-4 alam tersebut adalah ciptaan Allah SWT. Kita sebagai manusia biasa baru bisa memahami dan merasakan hidup di alam dunia yang syahadah. Mungkin orang-orang tertentu mendapatkan karunia Allah SWT bisa menembus alam ghoib.

Point paling penting dalam bahasan ini adalah:
1. Alam kehidupan yang syahadah adalah di: angkasa, permukaan bumi, di dalam air laut, di bawah permukaan bumi. Masing-masing sesuatu ciptaan tersebut mempunyai sistem dan alam sendiri-sendiri.
2. Manusia ini di alam syahadah saja terbatas hanya faham alamnya manusia. Alamnya hewan dan tumbuhan yang jutaan bahkan mungkin milyaran spesies dan jenisnya kita tidak tahu. Kita hanya tahu fisiknya saja, hakekatnya tidak tahu seperti apa. Misalkan ayam dan sapi yang berhadapan itu punya alam sendiri-sendiri.
3. Dalam tubuh manusia ada alam yang paling istimewa diantara alam ciptaan Allah SWT. Justru adanya alam ini adalah sebagai kekuatan untuk mengatur alam sebagaimana yang diamanahkan pencipta. Sekali lagi alam ini yang sebenarnya diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk mengatur dan mendamaikan serta mensejahtrakan kehidupan di alam semesta. Alam ini adalab ALAM PIKIRAN MANUSIA.

Begitu besar dan pentingnya keberadaan alam pikiran manusia. Dunia perang atau damai bergantung pada kemampuan mengatur kehidupan ini. Sungguh sangat besar harapan makhluq lain kepada alam pikiran manusia untuk mendamaikan dan mensejahterakan kehidupan ini. Semoga bisa mengemban amanah besar tersebut aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Surabaya,
16 Sya’ban 1447
atau
03 Februari 2026
m.mustain