*KH Imam Suhrowardi: Ulama Kharismatik yang Membumi dan Menginspirasi Kader NU Blitar*

Oleh: H. Imam Kusnin Ahmad SH.

DI DAERAH BLITAR RAYA, nama KH Imam Suhrowardi tidak asing bagi kalangan Nahdliyin. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik yang dekat dengan rakyat, terutama anak muda NU. Beliau pernah menjabat Mustsyar dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar serta pengasuh Pondok Pesantren APIS Gondang Gandusari, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter kader yang tangguh dan memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama.

*Profil dan Latar Belakang*

(Alm) KH Imam Suhrowardi lahir pada 31 Oktober 1938 (7 Ramadhan 1357 H) dari pasangan KH Shodiq Damanhuri dan Nyai Hj Salamah. Beliau adalah generasi ketiga pengasuh Pondok Pesantren APIS Sanan Gondang, yang didirikan oleh kakeknya pada tahun 1939. Sebagai ulama, beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren dan belajar dari beberapa tokoh agama terkemuka, sehingga memiliki kedalaman pemahaman tentang ajaran Islam.

Beliau wafat pada Kamis (23/1/2019) pukul 09.00 WIB setelah dirawat di ICU Rumah Sakit Umum Daerah Blitar. Pesantren yang beliau pimpin hingga akhir hayat kini memiliki ribuan santri dan alumni yang berkiprah di berbagai bidang, baik sebagai ulama maupun profesional di pemerintahan dan masyarakat.

*Peran dalam NU dan Pembinaan Kader*

Penulis menyaksikan langsung pola pembinaan yang diterapkan beliau. Saat terpilih sebagai Ketua GP Ansor Kabupaten Blitar pada tahun 2003–2028 – sebuah amanah yang tidak pernah penulis bayangkan – beberapa hari kemudian kami sowan ke Pesantren APIS Gondang Gandusari untuk meminta bimbingan dan nasehat dari Muhtasar NU ini. Ditemani sahabat, kami menemui beliau setelah shalat Ashar. Saat itu, beliau memberikan arahan dan nasehat penting:

“Jadi pemuda harus Tatag, Teteh, Tutug, dan Tanggon, serta selalu menjaga amanah organisasi dalam kondisi apapun,” pintanya.

Beliau menambahkan, “Apalagi jadi pengurus Ansor dengan ribuan Banser-nya, harus berani berjuang menegakan Islam Ahlussunah Wal Jamaah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Jangan takut bayang-bayang kesulitan. Bismillah, Lahaula Walaquwata Ilaa Billah.”

Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita jabarkan makna kata-kata kunci yang beliau tekankan:

– Tatag: Berdiri tegak, kokoh, dan tidak mudah goyah dalam memegang prinsip serta ajaran agama dan organisasi.
– Teteh: Sikap sopan santun, menghormati yang lebih tua, dan memiliki rasa kasih sayang serta kepedulian terhadap yang lebih muda.
– Tutug: Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap amanah yang diberikan.
– Tanggon: Sikap gigih, kuat, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Pada masa itu, Warga NU beserta Badan Otonomnya sedang menghadapi masa sulit akibat penghentian jabatan KH Abdurrahman Wahid dari kursi Presiden RI. Beliau memberikan amanah penting: “Kami diminta meningkatkan Ghirrah perjuangan Ansor dan Banser di Blitar.” Atas amanat itu, kami berusaha mengembannya bersama tim Ansor dan Banser. Usai pelantikan, jajaran pengurus menjadikan Kantor LP2 NU sebagai pusat komando harian, sedangkan untuk urusan yang sangat mendesak menggunakan Kantor Ansor yang berada di lokasi berdampingan.

Kami melaksanakan berbagai aktivitas kemasyarakatan, antara lain:

– Penghijauan bersama Perhutani Blitar
– Diklatsus Banser, LKD, dan Diklatsar
– Baksos dan pelatihan kerja bersama BLK Tenaga Kerja Kabupaten Kediri
– Lomba olahraga dan seni
– Kemah Bakti dan Khitanan Massal sebanyak 7 kali – bekerja sama dengan Tim Kesehatan Kedokteran Unair (1 kali), RS Suha’ Haji (1 kali), dan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar (5 kali)
– Kegiatan bermanfaat lainnya bersama Muslimat, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU.

Mantan pimpinan IPNU Blitar Dr H Bahruddin Tauhid – yang kini menjabat Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pacitan – juga mengungkapkan hal serupa. Dalam tulisan resminya, ia menyampaikan bahwa sejak tahun 1991, ketika menjadi anggota pengurus IPNU Cabang Blitar, “Gus Imam” (panggilan akrab beliau) sudah dikenal sebagai sosok yang peduli dengan perkembangan anak muda. Saat menjabat Ketua Tafidziyah PCNU Kabupaten Blitar, beliau sering memberikan tantangan kepada kader muda dengan meminta mereka mengantar surat ke pengurus MWC atau kecamatan – bahkan hingga jarak lebih dari 70 kilometer. Hal ini bukan sekadar tugas, melainkan cara beliau melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Beliau juga memiliki cara unik untuk “menyambung rasa” dengan anak muda. Setiap kali ada yang mampir sowan, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah: “Din, wis mangan durung. Ayo mangan Sik.” Hal sederhana ini membuat anak muda merasa diterima dan dekat dengan beliau.

Pada tahun 1992, ketika IPNU ingin mendirikan lembaga kursus bahasa Arab dan Inggris bernama NUSAC (dengan empat cabang dan lebih dari 500 peserta), beliau dengan senang hati membantu saat menghadapi kesulitan biaya untuk mebel. Ketika dimintai bantuan, beliau menjawab dengan enteng: “La butuhe piro? Kok okeh men. Yo. Tak gawekne. Lek duwe duit, bayaren Lo Yo!” Kepercayaan yang diberikan kepada anak muda berusia 22–23 tahun saat itu menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang berani mengambil keputusan.

Selain itu, Gus Imam sering mengajak anak muda NU untuk mengisi pengajian atau pembinaan di tingkat MWC maupun ranting NU, bahkan membawa mereka menghadiri rapat di PWNU Jawa Timur. Beliau selalu menanamkan semangat “Kepruk dulu, urusan belakang” ketika menghadapi situasi krusial, sehingga membuat kader muda memiliki keberanian untuk bertindak.

*Kontribusi dalam Pendidikan*

Sebagai pengasuh Ponpes APIS Gondang Gandusari, beliau sangat memperhatikan pendidikan – baik berbasis pesantren maupun formal melalui Ma’arif NU. Beliau merintis dan mengembangkan puluhan cabang pondok APIS di Jawa dan luar Jawa. Selain itu, beliau juga memprakarsai dan mendukung perkembangan lembaga pendidikan Ma’arif NU di Blitar, seperti PP Nurul Ulum, MTs-MA Ma’arif NU yang kini memiliki empat lokasi, dengan rencana pembukaan baru di Komplek Graha NU Jatinom. Beliau juga berperan penting dalam pengembangan STM Islam yang kini menjadi SMK Islam di Blitar.

*Peran dalam Politik dan Kemasyarakatan*

Selain aktif dalam NU, Gus Imam juga terlibat dalam dunia politik pada awal reformasi. Beliau menjadi salah satu perintis deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Blitar dan menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Blitar. Namun, meskipun terlibat politik, beliau tetap fokus pada tujuan utama: kesejahteraan masyarakat dan penguatan nilai-nilai Islam.

KH Imam Suhrowardi adalah sosok ulama yang tidak hanya memiliki keahlian dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjembatani antara tradisi dan kebutuhan zaman. Beliau adalah contoh nyata seorang pemimpin yang membumi, dekat dengan rakyat, dan sangat peduli dengan perkembangan anak muda. Melalui berbagai peran dan kontribusinya, beliau telah memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat Blitar, terutama dalam dunia pendidikan dan pembinaan kader NU.

Semoga amal shalehnya diterima oleh Allah SWT dan beliau ditempatkan di maqom terbaik bersama para ulama dan orang shaleh. Lahul fatihah. Mari kita jadikan kisah dan semangat beliau sebagai inspirasi untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi kemajuan agama dan bangsa, terutama bagi para kader muda NU yang menjadi harapan masa depan.*Wallahul A’lam Bisshawab*