
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Ya ini ada kata “Kuat” dan “Lemah” dalam satu kalimat yang sungguh memberikan arti filosofi yang sangat baik. Apabila kita melihat rantai yang sekilas sangat kuat dan bisa kokoh untuk membelenggu apa saja. Ketika kita ingin menguji kekuatan rantai itu maka kita cari cincin rantai yang paling lemah, maka di sinilah ukuran kekuatan rantai tersebut. Logikanya, ketika kita gunakan uji tarik pada rantai tersebut maka letak putusnya rantai akan bisa dipastikan pada cincin rantai yang paling lemah.
Demikian bila kita qiaskan atau analogkan pada kekuatan ikatan persatuan suatu komunitas. Maka kekuatan ikatan komunitas tersebut adalah sama dengan ikatan antar komponen (cincin pengikat antara komponen, atau personil pengurus) persatuan yang paling lemah. Sehingga suatu saat bila ada beban lingkungan dari luar maka yang ambrol atau rusak dulu adalah pada bagian komponen atau personil pengurus yang paling lemah. Pada akhirnya hal ini akan merusak kekuatan atau rantai kekuatan komunitas atau organisasi itu sendiri.
QS Al-Anfal : 46 memberikan sentuhan pada aspek kekuatan komunitas muslim, yakni;
﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾
Arti (Terjemahan Indonesia – Kemenag):
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Tafsir Ringkas (Modified AI, 2026):
1. Ketaatan sebagai sumber kekuatan. “Dan taatilah Allah SWT dan Rasul-Nya”. Kemenangan, keteguhan, dan kekuatan umat bersumber dari ketaatan kepada Allah dan Rasul. Tanpa ketaatan, kekuatan lahir dan batin akan melemah.
2. Larangan konflik internal. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan”. Perselisihan internal adalah awal , kehancuran kekuatan. Umat bisa kalah bukan karena musuh kuat, tetapi karena retak dari dalam.
3. Dampak perpecahan. “Maka kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. Tafsyalū artinya mental runtuh, takut, kehilangan keberanian. Tadzhaba rīḥukum artinya hilangnya wibawa, pengaruh, dan daya tempur. “Rīḥ” (angin) ditafsirkan sebagai: Kekuatan, Wibawa, Semangat kolektif.
4. Sabar sebagai kunci keberlanjutan. “Dan bersabarlah”. Sabar dalam: Ketaatan, Perbedaan-pendapat, Tekanan, dan ujian.
5. Janji pertolongan Allah SWT. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Ma‘iyyah Allah SWT (kebersamaan Allah SWT) berarti: Pertolongan, Perlindungan, Kemenangan.
Inti Pesan Ayat Al-Anfal 45 ini adalah:
1. Persatuan adalah kekuatan.
2. Konflik internal adalah kehancuran.
3. Ketaatan + sabar adalah kunci datangnya pertolongan Allah.
4. Ayat ini sangat relevan untuk: Kepemimpinan, Organisasi, Umat dan bangsa, Dakwah, dan kerja tim.
Kembali pada kekuatan rantai terletak pada cincin rantai yang paling lemah, juga bisa dianalogkan pada konstruksi perdamaian global. Maka kekuatan masing-masing cincin rantai perdamaian adalah bergantung pada kekuatan minat masing-masing negara untuk membangun konstruksi perdamaian tersebut. Dengan demikian sangat perlu dicarikan sesuatu yang bisa menyatukan persamaan persepsi untuk memperkuat minat tersebut.
Kita tahu bahwa semua penghuni muka bumi ini adalah sedang bergelut dan perkutat dengan yang namanya ilmu dan teknologi. Di sini kira-kira lahan yang kita bisa temukan persepsi yang sama untuk membangun konstruksi perdamaian global. Semoga demikian usaha kita bisa berhasil aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
03 Sya’ban 1447
atau
22 Januari 2026
m.mustain
