بسم الله *Jangan Berbuat Kontra Perdamaian*

 

Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Memang beramal sholeh tidak mudah, atau berbuat baik itu sulit dan setidaknya ada dua hambatan. Ada hukum dinamika atau pergerakan yang menyatakan bahwa apabila suatu benda bergerak ke suatu arah tertentu, maka setidaknya ada dua hambatan yang harus dilawan. Pertama menahan tidak bergerak ke arah yang berlawanan, dan kedua menahan tidak diam.

Berbuat suatu kebaikan akan bisa terlaksana apabila mampu tidak melakukan perbuatan yang dilarang, dan melawan keinginan diam yakni cancut melakukan kebaikan tersebut. Apabila kebaikan itu diganti dengan upaya perdamaian, maka berbuat baik di sini adalah pertama menghindari permusuhan kemudian ikut berupaya membangun persatuan untuk perdamaian. Alhasil perpecahan, persengketaan, permusuhan dll adalah kontra perdamaian yang dilarang oleh agama.

QS. Ali ‘Imran ayat 105 memberikan dasar tentang larangan kontra perdamaian ini, yakni:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Arti (Terjemahan Bahasa Indonesia – Kemenag):
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.

Tafsir Ringkas:
Ayat ini merupakan peringatan keras dari Allah agar kaum Muslimin tidak meniru umat-umat terdahulu (seperti Yahudi dan Nasrani) yang terpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka petunjuk yang jelas dari Allah melalui kitab dan para nabi. Pokok-pokok makna tafsirnya (Modified AI, 2026):
1. Larangan berpecah belah dalam agama.
2. Perpecahan yang tercela adalah perpecahan dalam akidah dan prinsip agama, bukan perbedaan pendapat yang berdasarkan dalil dan adab.
3. Kesalahan umat terdahulu adalah mereka berselisih bukan karena kurang ilmu, tetapi karena: hawa nafsu, fanatisme kelompok, kedengkian dan kepentingan dunia.
4. Bahaya menolak kebenaran telah jelas.
5. Perselisihan yang muncul setelah datangnya bayyināt (dalil yang jelas) menunjukkan sikap congkak dan sombong serta pembangkangan terhadap kebenaran.
6. Ancaman azab yang besar. Allah SWT menegaskan bahwa perpecahan dapat menyebabkan azab yang berat, baik di dunia (lemah, saling bermusuhan) maupun di akhirat.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta membangun persatuan di atas kebenaran, bukan sekadar persatuan tanpa dasar iman.

Umumnya tumbuh dari kesombongan, kethoma’an dan kedengkian maka ketidak suka’an akan tumbuh. Benih tidak suka akan tumbuh subur menjadi kebencian kemudian ke arah permusuhan. Apabila sudah demikian maka jelas menjadi perbuatan yang kontra perdamaian. Mari kita hindari sebaik mungkin sehingga konstruksi perdamaian akan semakin tegak. Semoga demikian aamiin.

Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.

Surabaya,
03 Sya’ban 1447
atau
22 Januari 2026
m.mustain