
BALI – menaramadinah.com-Ini akibatnya setelah sempat menghebohkan media sosial karena ucapannya yang dinilai menantang dan memancing emosi warga Bali, oknum pemuda asal Sumba Barat Daya akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya oleh pengurus Kodi Pasola (KOPAS) Bali.
Sebelumnya, pemuda tersebut telah diamankan dan dibawa ke Sekretariat KOPAS Bali untuk menjalani pembinaan setelah videonya viral dan menuai kecaman publik. Ucapannya dianggap tidak menghormati warga setempat serta berpotensi memicu konflik sosial di ruang publik.
Dalam proses pembinaan, pemuda itu dihadirkan langsung di hadapan Ketua KOPAS Bali, jajaran pengurus, serta satuan tugas. Ia diberikan nasihat dan edukasi agar tidak mengulangi perbuatan yang dinilai meresahkan masyarakat. Bahkan, dalam video yang beredar, pembina KOPAS Bali terlihat memberikan teguran fisik sebagai simbol peringatan keras.
Pihak KOPAS menegaskan, tindakan tersebut bukan dilandasi kebencian maupun aksi main hakim sendiri, melainkan bentuk ketegasan dan kepedulian agar yang bersangkutan menyadari dampak serius dari ucapannya di media sosial
Sebelum dipanggil pengurus, pemuda tersebut juga diketahui telah menyampaikan permintaan maaf melalui akun TikTok pribadinya. Namun demi menjaga kondusivitas dan mencegah gejolak lanjutan di masyarakat, KOPAS Bali tetap mengambil langkah lanjutan dengan memulangkannya ke daerah asal.
Keputusan ini disampaikan melalui unggahan akun @PolceAw, yang menyebut bahwa pengurus mengambil tindakan disiplin dengan memulangkan yang bersangkutan ke kampung halaman sebagai bentuk tanggung jawab organisasi terhadap ketertiban sosial di Bali.
Dalam unggahan tersebut, pengurus juga menekankan bahwa pelaku merupakan oknum, bukan representasi masyarakat Sumba secara keseluruhan. Namun, karena belakangan ini kerap muncul kasus serupa yang menyeret nama kelompok tertentu, maka langkah tegas dianggap perlu demi mencegah dampak yang lebih luas.
Pengurus KOPAS Bali juga mengingatkan seluruh perantau, khususnya asal Sumba, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan berucap saat berada di daerah orang lain. Pasalnya, imbas dari ulah segelintir oknum dapat berdampak pada kesulitan sosial, mulai dari mencari kos, pekerjaan, hingga meningkatnya pengawasan di lingkungan sekitar.
“Kalau masih kerja, fokus saja. Kita perbaiki diri sendiri dan jaga sikap saat berada di daerah orang,” demikian pesan yang disampaikan dalam unggahan tersebut.
Langkah pemulangan ini pun menuai beragam tanggapan dari warganet.
Sebagian menilai tindakan KOPAS Bali sudah tepat demi menjaga stabilitas dan keharmonisan di Bali, sementara lainnya berharap pembinaan serupa dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih edukatif tanpa kekerasan.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa ucapan di media sosial bisa berbuntut panjang di dunia nyata, dan setiap orang dituntut lebih bijak agar tidak memicu konflik sosial yang lebih besar.
MM
