SMART EDUTOURISM BERBASIS SEKOLAH

By : Dr. Sukidin, M. Pd.

Di era kesejagadan ini digitalisasi menjadi kebutuhan utama dihampir semua sPektor. Hal ini menjadikan trend yang ada dimasyarakat berubah dengan sangat cepat dikarenakan melimpahnya akses mencari informasi. Sektor pariwisata menjadi salah satu industri yang perkembangannya sangat pesat dan terus berubah mengikuti tren yang sedang berlangsung.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah cara wisatawan untuk mencari informasi, merencanakan perjalanan dan mengakses layanan wisata. Beberapa inovasi digital seperti penggunaan smartphone, aplikasi mobile dan media sosial telah menjadi media yang digunakan wisatawan.

Munculnya gagasan smart tourism sebagai respon terhadap tantangan yang ada, yakni memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan pengalaman wisata, efisiensi manajemen destinasi dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan smart tourism kini menjadi agenda masa depan melalui program smart city dan smart tourism destination.

Melalui program Wonderful Indonesia smart tourism initiative, pemerintah memanfaatkan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI), big data, internet of things (IoT), dan augmented reality dalam mengelola destinasi wisata.

Program smart tourism turut mendorong digitalisasi menyeluruh, mulai dari proses perencanaan, transportasi, hingga layanan di lokasi sehingga dapat memperkuat aspek keamanan sekaligus menambah kenyamanan bagi para wisatawan.

Program ini juga mendorong pemberdayaan dan pelatihan pelaku pariwisata serta komunitas lokal agar dapat beradaptasi dengan teknologi, menjadikan smart tourism bagian integral dari strategi pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang kaya akan budaya dan potensi pariwisata. Berbagai jenis pariwisata ada di Banyuwangi seperti wisata bahari, wana wisata, wisata alam dan wisata buatan.

Di wilayah Banyuwangi Selatan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan alam paling beragam. Secara geografis, daerah ini memiliki kombinasi unik antara pantai eksotis dan hutan lindung yang masih terjaga kelestariannya. Salah satu ikon wisata alam adalah pantai pulau merah yang terkenal dengan hamparan pasir berwarna kemerahan serta ombaknya yang ideal untuk aktivitas selancar internasional.

Di sisi lain, kawasan ini dikelilingi oleh Hutan Lindung Meru Betiri dan Hutan Lindung Tumpang Pitu, yang berfungsi sebagai kawasan konservasi flora fauna langka serta penyangga ekonomi pesisir. Keberadaan pantai, hutan lindung serta area perkebunan hijau menghadirkan potensi luar biasa untuk adanya pengembangan wisata berbasis alam, edukasi lingkungan yang dapat menjadi daya tarik utama wisatawan domestik atau mancanegara untuk datang.

Untuk keberlanjutan pengembangan wisata tersebut, maka perludan mendesak dihadirkan pendidikan smart edutourism (transformasi dari smart tourism) di kalangan siswa. Dalam konteks pendidikan, sekolah bisa berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan, sekaligus berperan sebagai pusat inovasi, pembentukan karakter dan pengembangan kompetensi melalui program smart edutourism.

Pelibatan siswa dalam program smart edutourism school menumbuhkan jiwa kewirausahaan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan mengelola informasi secara produktif.

Beberapa sekolah di Banyuwangi mulai mengadaptasi pendekatan yang menggabungkan teknologi, budaya dan pembelajaran partisipatif. Salah satunya adalah SMA Negeri Pesanggaran.

Sekolah ini telah menginisiasi langkah inovatif dengan mengembangkan konsep smart edutourism sebagai school branding. Branding tidak hanya menjadi citra lembaga pendidikan tetapi juga dieksekusi melalui kegiatan kokurikuler yang memadukan pembelajaran berbasis proyek (projet based learning) dan eksplorasi potensi wisata lokal.

Melalui kegiatan seperti pembuatan konten promosi wisata, pelatihan pemandu wisata serta pemanfaatan media sosial untuk promosi destinasi wisata. Sekolah ini berupaya membentuk karakter siswa yang kreatif, inovatif serta sadar wisata.

Penerapan smart edutourism sebagai branding sekolah berfungsi untuk membangun citra positif dan nilai keunggulan melalui lembaga pendidikan.

Smart Edutourism di Sekolah
Tujuan utama smart edutourism merupakan penciptaan ekosistem pariwisata yang inovatif, inklusif, dan berorientasi pada pengalaman wisatawan melalui teknologi dan kecerdasan data. Konsep smart edutourism berkembang sebagai respons terhadap kebutuhan destinasi wisata untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku wisatawan modern.

Smart edutourism merupakan pendekatan inovatif yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman dan efisiensi sektor pariwisata.

Konsep ini mencangkup penggunaan aplikasi mobile, sistem informasi pariwisata dan platform digital lainnya untuk memfasilitasi interaksi antara wisatawan dan pengelola objek wisata.

Implementasi smart edutourism dalam konteks pendidikan dapat dipahami sebagai upaya mengintegrasikan teknologi baru termasuk IoT dan big data kedalam kurikulum pendidikan pariwisata.

Dalam konteks pendidikan, terutama di sekolah bisa diadaptasi menjadi model smart edutourism school yaitu pendekatan yang memandang sekolah sebagai tempat belajar yang berbasis teknologi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan, sekaligus menjadi pusat inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat melalui program wisata edukatif yang mengintegrasikan potensi lokal.

Pendidikan wisata cerdas menganggap sekolah sebagai pelaku utama dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi seperti virtual tour, digital storytelling, dan platform belajar interaktif, sekolah bisa menciptakan pengalaman belajar yang menarik sebagai wisata edukatif.
Wisata edukasi merupakan jenis perjalanan wisata yang dibuat secara khusus untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan melibatkan interaksi aktif.

Dalam wisata edukasi (edutourism), wisatawan berkunjung kedestinasi wisata dengan tujuan agar dapat mendapatkan pengalaman belajar diobyek wisata tersebut. Wisata edukasi bermanfaat untuk memperoleh pengalaman, mengembangkan bakat serta ketrampilan, memperdalam dan memperluas wawasan, mempraktikkan teori ke dalam praktik serta pengalaman yang terintegrasi.

Konsep wisata edukasi yang menggabungkan pendidikan dengan pariwisata memberikan pengalaman belajar terstruktur bagi beberapa pihak seperti wisatawan dan masyarakat lokal yang berperan sebagai ko-edukator dan narator budaya. Ini menjadikan wisata edukasi berfungsi sebagai platform untuk menciptakan pengetahuan bersama, pengembangan keterampilan digital dan pemberdayaan siswa.

Smart edutourism merupakan kombinasi antara edutourism tradisional dengan sistem digital berbasis Internet of Things (IoT) dan big data analytics yang memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, personal, dan relevan dengan dunia nyata.

Dalam konteks sekolah, konsep ini relevan karena mampu memperluas ruang belajar siswa melalui kegiatan luar kelas yang dikombinasikan dengan teknologi, seperti penggunaan aplikasi pembelajaran wisata, peta digital interaktif, hingga media sosial sebagai sarana dokumentasi dan refleksi pembelajaran.

Kegiatan English Day dan Javanese Day di sekolah dapat diintegrasikan dengan prinsip ini melalui penggunaan media interaktif seperti digital storytelling, vlog wisata edukatif, serta virtual tour presentation yang mendorong siswa untuk berlatih komunikasi lintas budaya.

Hadirnya program Sekolah Pemandu Wisata, berperan sebagai jembatan antara wisatawan dan destinasi wisata. Siswa sebagai calon pemandu wisata diberikan pengetahuan tentang cara memberikan informasi, pemandu wisata membantu pengunjung atau wisatawan untuk memahami adat istiadat, peraturan dan ekspetasi sosial setempat.

Sekolah Pemandu Wisata merupakan inovasi dalam dunia pendidikan yang berbasis pada konsep pendidikan cerdas dalam pariwisata. Sekolah sebagai pusat pembelajaran yang menggabungkan konteks ilmu pengetahuan dan budaya lokal. Pendidikan tentang bahasa, budaya, dan pariwisata diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah. Implementasi model ini, siswa berperan sebagai pemandu wisata muda ( student tour guide). Konsep ini berangkat dari gagasan bahwa sekolah berfungsi sebagai lembaga akademik, sekaligus sebagai agen perubahan sosial dan kultural yang menyiapkan generasi muda menghadapi dunia pariwisata global yang berkelanjutan.

Konsep ini melibatkan penggunaan teknologi, pengetahuan, dan kerja sama lintas sektor untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih terhubung, cerdas, dan ramah lingkungan.

Sekolah berperan sebagai penggerak perubahan yang mendukung pengembangan pariwisata keunikan lokal secara berkelanjutan melalui pendidikan. Program ini mengajak siswa untuk menjadi pemandu wisata (student guides) yang mempelajari, melestarikan, dan mempromosikan potensi wisata lokal, terutama wisata alam. Kegiatan tersebut berorientasi pada pembelajaran keterampilan pemanduan (guiding skills) dan pemberdayaan siswa sebagai bagian dari komunitas lokal yang berperan aktif dalam memperkenalkan keunggulan daerahnya pada wisatawan.

Penerapan smart edutourism juga berdampak pada penguatan citra dan daya saing destinasi. Program smart edutourism diharapkan memiliki implikasi strategis dalam memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan pariwisata terutama melalui edutourism.

Sekolah berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran berbasis wisata edukatif, siswa berperan sebagai peserta dan pelaku aktif dalam kegiatan promosi dan pemandu wisata. Keterlibatan siswa dalam aktivitas ini sejalan dengan paradigma pembelajaran abad ke-XXI yang menekankan kreativitas, kolaborasi, komunikasi dan literasi digital.

Secara lebih luas, penerapan smart edutourism membawa implikasi yang signifikan terhadap penguatan daya tarik wisata, baik dari sisi pengalaman wisatawan, dan citra destinasi wisata.

Dalam konteks pendidikan, program smart edutourism diterapkan melalui kegiatan literasi wisata digital, edutourism dan school guiding.

Program ini mencerminkan kolaborasi antara pendidikan dan pariwisata yang menyiapkan generasi-z agar bertumbuh di era digital dan berkontribusi dalam pengembangan dan keberlanjutan destinasi wisata lokal.

Act local, thing global.
*Penulis adalah Korprodi Magister PIPS dan Ketua Researh Group Social-Economics and Education, Universitas Jember