Napak Tilas NU: Jejak Sejarah Yang Menuntun Jalan Masa Depan. .

 

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH.Wartawan Senior Jawa Timur Tinggal di Blitar.

PADA MOMEN menyambut Satu Abad kelahiran Nahdlatul Ulama versi Masehi, Komite Dzurriyah Muassis NU menggelar Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU. Dengan mengikuti jejak para pendiri dari Bangkalan hingga Tebuireng, ribuan peserta tidak hanya mengenang sejarah, melainkan juga menghidupkan semangat perjuangan yang menjadi dasar organisasi ini.

*Perjalanan Yang Menghubungkan Jalan Lama Dengan Masa Kini*

Perjalanan napak tilas dimulai dari Bangkalan dengan penyerahan replika tongkat dan tasbih oleh KH. Fahruddin Aschal (dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan) kepada KHR. Azaim Ibrahimy (dzurriyah KH. As’ad Syamsul Arifin). Kedua benda bersejarah tersebut kemudian dibawa menuju Tebuireng untuk diserahkan kepada KH. Fahmi Amrullah Hadzik (dzurriyah KH. M. Hasyim Asy’ari).

Para peserta menempuh jarak kurang lebih 25 Km dari Bangkalan ke Surabaya sebelum melanjutkan ke Jombang, menggunakan berbagai moda transportasi mulai dari kereta api, bus, hingga mobil pribadi. Bahkan banyak peserta yang tidak terdaftar bergabung di tengah perjalanan, semuanya dengan niat yang sama untuk mengambil keberkahan dari masyayikh NU.

Sebelum acara berlangsung, panitia dan PC NU Jombang v yang dipimpin KH Haris Munawwir telah melakukan koordinasi mendalam dengan Polres Jombang, Banser, dan Pagar Nusa untuk menjamin keamanan dan kelancaran acara. Sebanyak 400 personel gabungan disiagakan, ditambah dengan fasilitas kesehatan berupa ambulans dan toilet portable untuk kenyamanan peserta.

*Apresiasi Dan Pemikiran Dari Para pemimpin*

Bupati Jombang Warsubi memberikan apresiasi tinggi, menyatakan bahwa napak tilas menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan perjuangan NU. Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan kuatnya kecintaan masyarakat terhadap organisasi ini.

KHR. Azaim Ibrahimy menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung acara, sekaligus mengutip dawuh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari: “Barangsiapa yang mengurusi NU, aku anggap santri dan kudoakan husnul khatimah beserta keluarganya.”

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menekankan bahwa napak tilas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Ia menjelaskan bahwa NU lahir pada masa penuh kesulitan di bawah tekanan penjajahan Belanda, dimana para ulama saling bahu-membahu memperjuangkan agama dan bangsa. Meskipun tantangan masa kini berbeda, semangat perjuangan harus terus dilanjutkan dengan menjaga kebersamaan, ukhuwah, dan persatuan untuk menggapai rida Allah SWT.

*Makna Simbolis Di Balik Perjalanan*

Gerimis yang mengiringi perjalanan memberikan makna yang dalam—sebagai cermin perjalanan sejarah NU yang tidak selalu mulus, namun tetap dijalani dengan istiqamah. Pepatah “alon-alon waton kelakon” menemukan relevansinya dalam acara ini, yang tidak mengejar kecepatan melainkan makna dan keselamatan. Gerimis juga dianggap sebagai pembersih niat, mengingatkan bahwa perjuangan ulama selalu dekat dengan doa dan kesederhanaan.

Tradisi jalan kaki dalam napak tilas juga diartikan sebagai bentuk tirakat yang mendidik tubuh dan menempa jiwa. Para pendiri NU membangun peradaban dari kesederhanaan dan riyadhah, bukan kemewahan. Hal ini menegaskan bahwa perjuangan NU bertumpu pada kesungguhan dan kesediaan berkorban demi kemaslahatan umat.

Selain itu, penyerahan tongkat dan tasbih memiliki makna simbolis penting: tongkat melambangkan keteguhan kepemimpinan, sedangkan tasbih melambangkan kedalaman spiritualitas. Kedua elemen ini harus seimbang agar kepemimpinan NU tidak kehilangan arah dan makna.

*Relevansi Napak Tilas Di Era Post-truth*

Di era di mana narasi seringkali mengalahkan nalar dan emosi mengalahkan verifikasi, napak tilas menjadi kompas etik bagi kepemimpinan NU. Acara ini mengingatkan bahwa NU lahir dari sanad keilmuan, laku batin, dan kesadaran sejarah, bukan dari kepentingan sesaat.

Para muassis membangun NU melalui keteladanan dan kesabaran, bukan penguasaan opini—sesuai prinsip “sepi ing pamrih, rame ing gawe” yang kontras dengan karakter post-truth yang gaduh dan instan.

Hadis yang menyatakan “Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar” (HR. Muslim No. 5) menjadi peringatan penting bagi seluruh warga Nahdliyin untuk selektif dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

Kepemimpinan NU di era sekarang dituntut untuk menjernihkan narasi, bukan hanya memenangkannya. Klarifikasi yang emosional dan pembelaan yang reaktif cenderung merusak, sehingga diperlukan kebijaksanaan dan ketenangan dalam menghadapi berbagai tantangan.

*Harapan Dan Doa*

Semoga semangat perjuangan para pendiri NU yang hidup kembali melalui napak tilas ini dapat menjadi bekal bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga nilai-nilai dasar organisasi ini dan NU tetap menjadi rumah besar umat yang besar karena adab, kuat karena kesabaran, dan hidup karena kepercayaan masyarakat.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dalam menjaga agama, merawat budaya, dan mengabdi kepada bangsa serta negara, dengan tetap menjunjung tinggi persatuan dan ukhuwah Islamiyah. Amin Ya Rabbal Alamin. *Wallahu A’lam Bishawab*