
Surabaya – Stres dan kecemasan menjadi persoalan yang semakin banyak dialami masyarakat modern. Meski secara fisik tampak sehat, tidak sedikit orang yang mengalami kelelahan mental akibat tekanan hidup, masalah ekonomi, konflik keluarga, penyakit, hingga ketidakpastian masa depan. Hal tersebut disampaikan dalam Kajian Kesehatan Subuh bertema “Stres, Cemas, dan Cara Islam Menyembuhkannya” yang digelar di Masjid Al Wahyu, Rungkut Menanggal, Surabaya.
Kajian Kesehatan Subuh tersebut disampaikan oleh Ustad Dr. dr. H. Sukma Sahadewa, M.Kes, dosen Fakultas Kedokteran sekaligus Founder Klinik Paradise. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa stres merupakan tekanan batin akibat persoalan hidup, sedangkan cemas adalah rasa takut berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik, seperti peningkatan tekanan darah, gangguan jantung, gangguan lambung, sulit tidur, hingga penurunan daya tahan tubuh.
Ustad Sukma menegaskan bahwa Islam tidak membiarkan umatnya hidup dalam kegelisahan. Al-Qur’an telah memberikan panduan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan kepada Allah SWT. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang, sehingga beban pikiran dan tekanan hidup dapat dihadapi dengan lebih lapang dan penuh kesabaran.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah ‘Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan yang dialami Nabi Muhammad SAW, ketika wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Pada masa yang sangat berat tersebut, Rasulullah SAW tidak larut dalam keputusasaan, tetapi justru semakin mendekatkan diri kepada Allah. Dari kesedihan itu, Allah memberikan hadiah besar berupa peristiwa Isra’ Mi’raj dan perintah shalat. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesedihan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sering kali menjadi awal datangnya pertolongan Allah.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Islam memiliki sejumlah cara dalam membantu menyembuhkan stres dan kecemasan. Di antaranya adalah tawakal kepada Allah setelah berikhtiar, menjaga shalat sebagai sarana menenangkan jiwa, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an sebagai obat hati, bersabar dan berprasangka baik kepada Allah, serta menjaga pola hidup seimbang dengan tidur cukup, makan halal dan thayyib, berolahraga, dan menjaga silaturahmi.
Ustad Sukma menekankan bahwa stres dan cemas bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan sinyal bahwa hati perlu kembali mendekat kepada Allah. Dengan meneladani Rasulullah SAW dalam menghadapi tekanan hidup melalui iman, shalat, dzikir, dan tawakal, umat Islam diharapkan mampu menjaga kesehatan mental sekaligus kesehatan fisik.
Kajian Kesehatan Subuh tersebut ditutup dengan doa bersama agar jamaah senantiasa diberikan kesehatan jasmani dan rohani, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, serta kehidupan yang penuh keberkahan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, dan Islam telah menyediakan pedoman yang lengkap untuk menjaganya.
