
By : Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Diskusi tentang kerusakan lingkungan telah jelas mendapatkan sorotan dari QS Al-A’raf (7: 56), yakni:
وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” Artikel ini mengkritisi rangkaian peringatan; larangan, perintah, dan janji balasan.
Ayat ini sangat jelas mengingatkan kita untuk; (1) tidak berbuat kerusakan di bumi (larangan), (2) selalu berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan takut (perintah), dan (3) mengerti supaya berbuat baik (janji rahmat Allah).
Rangkaian peringatan tersebut menarik sebab mendahulukan larangan. Secara umum mendahulukan pelarangan melakukan ma’siat. Baru kemudian perintah ta’at dengan beribadah. Kemudian perintah mengharuskan dengan akhlaqul karimah.
Kita bayangkan, manusia ini apabila tidak didahulukan larangan maka sudah barang tentu akan berkarakter seperti hewan bahkan bisa lebih sesat. Contoh komunitas kera, bila didatangkan pisang satu keranjang maka masing-masing kera akan mengambil satu pisang. Tetapi manusia yang rakus akan mengambil pisang dan kerangjangnya, artinya diambil semua.
Apabila ini dilebarkan untuk keberadaan budaya bangsa tercinta ini, maka sungguh budaya santun yang kita miliki ini adalah hasil jerih payah kyai-kyai dengan pondok pesantrennya. Dengan ilmu agama, Pertama mampu menahan nafsu bangsa kita ini sehingga tidak seperti binatang. Kedua memberikan nilai-nilai ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT dengan ilmu aqidah dan fiqih. Ketiga mengajarkan dan memberi contoh berakhlaq mulia, dengan kesantunan toleransi dsb.
Alhasil, sungguh konstribusi besar yang membuat karakter bangsa ini sangat istimewa sehingga dikenal sebagai bangsa yang santun adalah peran kyai-kyai dengan pondok pesantrennya. Hakekatnya beliau-beliaulah yang mendidik masyarakat sampai di pelosok kedalaman. Beliau-beliau yang mengkader dan mensuplay gerilyawan untuk mengusir penjajah.
Contoh yang paling hangat adalah munculkan resolusi jihat untuk melawan tentara Inggris yang membantu belanda untuk menjajah lagi. Brigjen Malaby dan Mayjen Mansregh terbunuh oleh santri-santri sarungan, sungguh ini karya anak bangsa yang luar biasa besarnya. Logikanya tanpa santri-santri sarungan tersebut hitungan logika sangat jelas negri ini direbut lagi oleh londo-londo kawuk.
Alhasil momen 10 Nopember ini kita ingat perjuangan pahlawan-pahlawan santri sarungan pada 1945 mempertahankan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Mari kita teruskan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan perjuangan, do’a, dan tawakkal. Semoga demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
18 Jumadil Ula 1447
atau
10 November 2025
m.mustain
