
_oka swastika mahendra_
Ketika tanah retak gelincir lumpur
suatu sore sunyi akhirnya kelabu
menyimpan duka panjang
Jasad anak anak tunas melati
bunga tenggelam runtuhnya dinding memeluk doa
Musala harapan menjadi rumah cahaya
menjadi makam seketika bagi santri-santri kecil
yang tengah menunduk di hadapan Ilahi
Mereka datang dengan wajah bersih
membawa hafalan dan mimpi tentang surga
Namun sebelum ayat terakhir terucap
atap patah
dan doa-doa pun terjebak di sela bata
Langit Sidoarjo berawan
seolah ikut menunduk
Azan tak lagi lantang
hanya gema lirih di antara puing
Di bawah reruntuhan
terbuka lembar Yasin—
tulisan arabnya bergetar oleh angin sore
seolah masih berzikir memanggil nama-nama yang berpulang
Seorang ibu mencari anaknya
di antara debu, sandal kecil, dan sajadah yang basah
Tangannya gemetar menyentuh kain putih
matanya kering oleh terlalu banyak air mata
Ia tak menyalahkan langit
tapi hatinya bertanya pelan:
_“Siapa yang membiarkan ini terjadi?”_
Refleksi hidup hadir di sana
bukan di cermin mewah
melainkan pada batu bata yang retak
di hati yang kehilangan
di iman yang diuji oleh kelalaian manusia
Anak-anak itu telah lebih dulu tiba
di tempat paling damai
menjadi penghafal di taman-taman surga
melanjutkan ayat yang terhenti di bumi
Dan kita yang tersisa
masih menatap reruntuhan
sebagai cermin diri sendiri:
betapa rapuh tanggung jawab kita
betapa mudah kita lupa
bahwa setiap bangunan suci
harus berdiri di atas kejujuran, bukan abai
Maka dari puing itulah
kita belajar menegakkan kembali iman
bukan hanya di atas semen dan bata
tapi di atas kesadaran
bahwa hidup adalah titipan
dan setiap jiwa kecil yang pergi
adalah doa yang tak sempat selesai
yang kini disempurnakan oleh langit
Jogjakarta 8 Oktober 2025
