بسم الله *Wajah Yang Teduh Ramah*

 

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan

Judul artikel ini diambil dari Redaksi Arab untuk Atsarissujud yang dapat ditemukan dalam Surat Al-Fath ayat 29:

“مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا *سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ”*

Artinya: “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” ¹

Dalam tafsirnya, Atsarissujud diartikan sebagai tanda atau bekas sujud yang membekas di wajah seseorang karena banyak melakukan sujud dan shalat. Namun, Atsarissujud tidak hanya dimaknai sebagai bekas fisik, tetapi juga sebagai tanda spiritual yang terpancar dari wajah seseorang yang memiliki hati yang bersih dan jiwa yang tenang (Meta AI, 2025).

Artikel ini tertarik pada kata Atsarissujud yang tidak hanya bekas sujud berupa fisik yakni di jidad yang berwarna hitam. Tetapi berupa pancaran dari dalam yang dihasilkan dari dalamnya karakter spiritual berupa hati yang bersih dan jiwa yang tenang. Hal ini tidak bisa dibuat-buat yang bersifat spontanitas. Tetapi karakter yang terbangun dan sudah mengkristal berupa wajah yang teduh dan ramah.

Wajah teduh dan ramah adalah ekspresi dari kesantunan dan kebahagiaan yang orisinal atau asli. Kesantunan lantaran muatan ilmu dan amal yang sudah mumpuni. Hal ini jelas masuk akal sebab etika itu akan muncul ketika telah menelan ilmu serta telah mengamalkannya. Bukannya ada pepatah adab di atas ilmu, dan ini sangat sesuai. Sehingga bagaimana tingkat keteduhan yang terbangun dalam wajah kita adalah menunjukan tingkat kesantunan kita. Perlu diketahui bahwa hakekatnya santun adalah santun kepada Allah SWT. Ketika kita bisa lakukan, insyaAllah santun terhadap selain Allah SWT akan mengikuti.

Sedangkan wajah yang ramah adalah ekspresi kebahagiaan hakiki yang telah didapatkan. Kondisi manusia normal adalah, bahwa orang bahagia secara umum berwajah ceria, sebaliknya ketika keadaan susah umumnya terekspresikan dengan bentuk wajah cemberut. Ramah merupakan ekspresi keceriaan yang sudah terkristal menjadi karakter. Jadi wajah ramah jelas merupakan karakter yang terbangun dalam proses lama, tidak dibuat-buat pada waktu tertentu saja.

Alhasil, mari kita ambil manfaat dari tela’ah wajah teduh dan ramah ini. Mari kita perbaiki bahkan bila perlu kita bangun ulang tampilan wajah kita karena Allah SWT. Hal ini kita upayakan dengan cara memperbaiki ubudiyah keseharian kita, lebih khusus kita dahulukan perbaikan sholat atau sujud kita. Lebih jelasnya yang dimaksud dengan atsarissujud adalah bukan noda hitam di jidad, tetapi tampilan wajah teduh dan ramah yang merupakan tampilan karakter baik kita, semoga demikian aamiin.

Semoga kita mendapatkan manfaat barokah slamet aamiin.
🤲🤲🤲

Surabaya, 4 Robiul Akhir 1447
atau
26 September 2025
m.mustain