
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS.
Bukti awal pemberian ilmu ada dalam ayat yang disebutkan ini:
“وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا”
“Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda) semuanya.” Ayat ini terdapat dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah (2:31).
Ayat ini menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan manusia dan memberikan kemampuan untuk belajar dan memahami alam semesta (Meta AI, 2025). Artikel ini mendiskripsi alur perkembangan mulai ber-ilmu hanya tahu nama-nama benda sampai dengan Kecerdasan buatan atau AI (Artificual Intelegens).
Sumber tafsir yang dapat digunakan untuk memahami makna ayat Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Baqarah ayat 31, diantaranya adalah *Tafsir Jalalayn.* Didapatkan penjelasan bahwa Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama benda semuanya, lalu diperlihatkan-Nya kepada para malaikat sambil berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama benda yang ada ini jika kamu memang benar”.
Hal tersebut artinya, bahwa meskipun ilmu pertama yang diberikan hanya berupa nama-nama benda tetapi sudah sangat istimewa. Hal ini sudah mampu menjadi bukti bahwa manusia adalah makhuq yang berilmu, sedangkan malaikat tidak berilmu. Kemudian manusia mengembangkan ilmu yang asalnya hanya berupa nama tersebut sampai dengan sekarang ada AI.
Nama-nama benda secara umum ditulis dalam bentuk satu kata, kemudian disebut NAMA sebagai identifikasi benda tersebut. Bentuk pengembangan ilmu adalah DEFINISI, yakni merupakan bentuk uraian dari nama. Definisi ini umumnya berupa uraian nama yang hanya satu kata menjadi satu kalimat. Perkembangan berikutnya adalah DESKRIPSI, yakni uraian lebih luas dari definisi sehingga bisa mungkin sampai dengan 10 kalimat bahkan lebih. Contoh NAMA Pohon, di-DEFINISI-kan sebagai “Makhluq hidup yang berupa tumbuhan yang …”. Kemudian DESKRIPSI makhluq hidup seperti apa….yang berupa tumbuhan… seperti apa dan seterusnya, yang menjadi isi dari diskripsi.
Perkembangan ilmu berikutnya mulai komplek, yakni ANALISIS. Contoh tumbuhan memiliki karakter fisik, kimiawi dan lain-lain, misalkan analisis fisik tumbuhan meliputi ukuran kekuatan dll. Perkembangan berikutnya adalah EVALUASI. Ilmu evaluasi ini memerlukan sinergi besaran waktu, yakni merupakan gabungan dari dimensi (boleh dibaca alam) ruang dan dimensi waktu. Yakni membandingkan benda contoh Pohon 10 tahun yang lalu dengan sekarang.
Perkembangan berikutnya adalah ESTIMASI, ilmu ini bersumber dari hasil evaluasi umumnya melalui permodelan. Misalkan selama 10 tahun perubahan pohon tumbuh membesar 2 kali lipat dan menghasilkan buah sekian. Maka bisa dibuatkan estimasi perkiraan tertentu ke depan. Hal ini persis sama dengan hisab ketika menentukan awal romadlon, yakni menggunakan estimasi. Hasil ilmu estimasi ini memberikan rekomendasi untuk ber-AKSI.
Urutan perkembangan ilmu tersebut sangat pas untuk melakukan perintah Allah SWT dalam potongan ayat berikut.
….ولتنظر نفس ما قدمت لغد….
…hendaklah setiap jiwa memperhatikan terhadap apa yang sudah diperbuatnya untuk hari esok (qiyamat)….
QS Al-hasr: 18
Apabila “hari esok” diartikan juga hari-hari sebelum qiyamat, maka tentunya untuk kehidupan yang lebih baik. Hal ini berarti untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang meliputi kesejahtraan dll. Adapun AI itu hanya alat yang diciptakan oleh manusia dari hasil pengembangan ilmu untuk penerapan ilmu itu sendiri. Contoh AI yang lama (jadul) adalah kalkulator.
Semoga manfaat barokah slamet aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya, 3 Robiul Akhir 1447
atau
25 September 2025
m.mustain
