Menyemai Literasi dan Jurnalisme di Generasi Alphs

 

Oleh : Ririe Aiko

Masifnya arus informasi membuat generasi muda sering kesulitan membedakan fakta dan hoaks. Karena itu, literasi hadir sebagai benteng penting untuk melindungi mereka dari gempuran informasi yang menyesatkan. Atas dasar itulah saya mengajak anak-anak Gen Alpha dari Gerakan Literasi Bandung berkunjung ke Radio PRFM Bandung. Kunjungan ini saya rancang bukan sekadar sebagai wisata edukatif, melainkan ruang belajar nyata di mana anak-anak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah media menjaga kredibilitas dan menyajikan berita yang valid.

Radio, meski sering dianggap medium klasik, masih bertahan hingga kini karena konsistensinya menjaga kualitas informasi. Di balik suara penyiar yang terdengar akrab di telinga, terdapat kerja keras redaksi yang memastikan setiap berita yang keluar adalah hasil dari verifikasi dan ketelitian. Anak-anak diajak menyaksikan proses itu, agar mereka mengerti bahwa jurnalisme bukan hanya soal menyampaikan kabar, melainkan juga soal tanggung jawab sosial.

Selama kunjungan, antusiasme anak-anak begitu terasa. Mereka begitu tertarik mendengar proses pembuatan berita, bertanya tentang teknik peliputan, dan bahkan membayangkan diri mereka suatu hari menjadi jurnalis. Ternyata, mereka menyadari bahwa dunia jurnalistik menarik dan penting, terutama jika ada sosok yang benar-benar bersedia melestarikan sastra dan literasi di sekitarnya.

Saya ingin anak-anak ini tidak hanya berhenti sebagai pendengar atau konsumen informasi. Mereka harus belajar menjadi produsen pengetahuan, berani menulis, meliput, dan menyampaikan suara masyarakat di sekitar mereka. Dengan begitu, sejak usia muda mereka sudah terbiasa menjadi jurnalis publik yang mampu memandang persoalan dengan jernih dan menyuarakan isu-isu yang layak diangkat.

Namun perjalanan literasi yang saya impikan tidak berhenti pada jurnalistik semata. Ada sastra yang harus dilestarikan, ada puisi esai yang harus terus hidup. Saya percaya, puisi esai dapat menjadi jembatan antara data, narasi, dan rasa. Anak-anak ini saya dorong untuk berlatih menulisnya, agar kelak mereka tumbuh tidak hanya kritis tetapi juga peka terhadap kemanusiaan. Di balik setiap kata yang mereka susun, saya ingin lahir kepedulian yang mampu menembus ruang publik dengan cara yang halus namun menggetarkan.

Pertanyaan yang selalu saya simpan di benak adalah sederhana namun mendalam: jika bukan generasi muda, siapa yang akan melanjutkan perjuangan sastra? Dari sana, lahir semangat saya untuk terus mendampingi mereka. Membimbing anak-anak Gen Alpha agar tumbuh sebagai penulis dan jurnalis andal bukanlah perkara instan. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh kesabaran, namun saya percaya inilah cara terbaik untuk memastikan literasi tetap bernyawa di tengah gempuran era digital.

Kunjungan ke PRFM hanyalah langkah kecil, tetapi dari langkah kecil inilah lahir harapan besar. Harapan bahwa Bandung, dengan segala denyut literasinya, akan melahirkan generasi baru yang kritis, berintegritas, dan mampu menjaga api sastra tetap menyala. Anak-anak yang antusias dan penuh rasa ingin tahu ini adalah bukti bahwa jika diberikan bimbingan dan kesempatan, mereka siap melanjutkan perjuangan literasi dengan semangat yang sama.

Sejatinya, kebaikan yang paling abadi adalah ilmu yang bisa kita wariskan. Menyemai pengetahuan kepada generasi berikutnya adalah bentuk cinta dan kepedulian yang paling tulus, karena ia akan terus hidup dalam setiap langkah mereka yang menulis, membaca, dan menyuarakan kebenaran.