
Surabaya-menaramadinah.com-Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) terus memperkuat identitasnya sebagai kampus budaya dengan semangat internasionalisasi. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan program EMBRACE (Exchange Medical Bridging and Cultural Experience) 2025, di mana empat mahasiswa asing dari Serbia, Jerman, dan Maroko bergabung dalam program pertukaran profesional selama lebih dari satu bulan. Program ini berlangsung dari 29 Juli hingga 31 Agustus 2025 dan menjadi salah satu kegiatan unggulan hasil kerja sama antara FK UWKS dan CIMSA melalui SCOPE (Standing Committee on Professional Exchange).
Keempat mahasiswa tersebut adalah Luka Drndarevic dari University of Belgrade Serbia, Isabella Magdalena dari Georg-August Universität Göttingen Jerman, serta dua mahasiswa dari Maroko yaitu Nada Noura dari Faculty of Medicine and Pharmacy of Rabat dan Oumaima Merimi dari Faculté de médecine et de pharmacie d’Oujda.
Tujuan utama dari EMBRACE adalah menciptakan ruang kolaborasi lintas negara bagi mahasiswa kedokteran untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan saling memahami perbedaan budaya dalam konteks kesehatan global. Kedatangan mereka disambut hangat oleh civitas akademika UWKS. Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati M.Si. menyatakan kebanggaannya atas kehadiran peserta internasional dan menekankan pentingnya pendidikan berbasis budaya lokal.
“Universitas ini dibangun atas semangat Anggung Wimbuh Linuwih yang berarti selalu tumbuh dan berkembang. Kami mengajarkan lima nilai dasar yakni Tatag, Teteg, Teguh, Tanggon, dan Trapsila. Melalui program ini, kami ingin para peserta belajar tidak hanya ilmu kedokteran tetapi juga filosofi hidup bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Salah satu kekhasan yang diterapkan dalam program ini adalah Pendidikan Kewijayakusumaan, sebuah pembelajaran khas UWKS yang mengajarkan nilai-nilai lokal, spiritualitas, dan semangat kebangsaan melalui modul karakter, praktik budaya, dan kunjungan situs sejarah. Para mahasiswa menjalani napak tilas sejarah Majapahit dengan mengunjungi situs Trowulan dan Candi Penataran di Blitar yang menjadi simbol filosofi dan karakter UWKS.
Dekan FK UWKS Dr. dr. Harry K. Gondo, Sp.OG (K.FM), SH., M.Hum. menegaskan bahwa FK UWKS memiliki kesiapan akademik dan kultural untuk menjadi tuan rumah program pertukaran internasional. Keempat mahasiswa asing tersebut mengikuti praktik klinik di Rumah Sakit Pendidikan utama UWKS yakni RS RT Notopuro, dengan fokus pada ilmu bedah umum dan ortopedi. “Kami ingin mereka merasakan langsung bagaimana atmosfer belajar kedokteran di Indonesia, dan RS RT Notopuro menjadi sarana belajar yang sangat ideal untuk itu,” ujar Dr. Harry.
Menurut Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UWKS, kegiatan ini bukan semata pertukaran ilmiah tetapi juga pendekatan holistik antara ilmu kedokteran dan karakter budaya. “Mereka belajar pendidikan dokter, khususnya di bidang bedah dan ortopedi, di RS RT Notopuro. Tetapi lebih dari itu, mereka juga menjalani Pendidikan Kewijayakusumaan, mengikuti napak tilas Kerajaan Majapahit, termasuk kunjungan ke Candi Penataran, serta mengenal budaya dan kuliner khas Surabaya. Ini adalah pendidikan karakter sekaligus diplomasi budaya,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa asing juga didampingi oleh Dr. Ayu Cahyani selaku pendamping dari CIMSA FK UWKS. Peran beliau sangat penting dalam memastikan seluruh agenda berjalan lancar serta menjaga komunikasi dan kenyamanan peserta asing selama di Surabaya. “Kehadiran Dr. Ayu menjadi jembatan penting antara panitia lokal, institusi, dan peserta internasional,” tambah Dr. Sukma.
Sementara itu, Wakil Direktur RS RT Notopuro dr. Syamsu menyatakan dukungannya terhadap program ini dan menyambut baik keterlibatan mahasiswa asing di rumah sakit yang dipimpinnya. “Kami berkomitmen menjadikan RS RT Notopuro sebagai rumah sakit pendidikan yang terbuka bagi kolaborasi internasional. Mahasiswa asing kami libatkan dalam berbagai kegiatan klinik agar mereka benar-benar memahami sistem layanan kesehatan di Indonesia dan mampu beradaptasi secara profesional,” kata dr. Syamsu.
Peserta juga mendapatkan pengalaman langsung mengenal kebudayaan lokal. Mereka belajar membatik, mengenakan busana tradisional, dan mencicipi kuliner khas seperti rawon, rujak cingur, lontong balap, tahu tek, dan nasi goreng Surabaya. Dalam rangkaian city tour budaya, mereka diajak menyusuri Kota Lama Surabaya dan Taman Bungkul, serta berbagai titik penting kehidupan warga kota, guna memahami sisi kemanusiaan dan gaya hidup masyarakat Indonesia.
Isabella Magdalena dari Jerman mengungkapkan kesan mendalamnya selama di Indonesia. “Saya datang ke sini untuk belajar kedokteran, tetapi saya pulang dengan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan. Saya belajar tentang empati, tentang bagaimana ilmu kedokteran menyatu dengan budaya dan kepercayaan masyarakat,” katanya.
Nada Noura dari Maroko menyebut napak tilas Majapahit sebagai pengalaman paling membekas. “Saya tidak pernah menyangka bisa menyentuh langsung sejarah besar Asia Tenggara. Kunjungan ke Candi Penataran memberi saya wawasan yang dalam tentang kejayaan dan filosofi kebangsaan Indonesia,” tuturnya.
Ketua CIMSA FK UWKS Sdr. Albin mengatakan bahwa program EMBRACE telah dipersiapkan dengan matang oleh tim lokal dan mendapatkan dukungan penuh dari fakultas. “Kami ingin menjadikan pertukaran ini bukan sekadar kunjungan, tapi proses saling belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kami bangga menjadi tuan rumah,” ujar Albin.
Kepala Kantor Urusan Internasional UWKS Dr. Siti Gusti Ningrum juga menggarisbawahi pentingnya kegiatan semacam ini untuk membangun diplomasi akademik dan budaya. Ia berharap ke depan kerja sama seperti EMBRACE dapat diperluas dengan lebih banyak mitra dari berbagai negara. Hal senada disampaikan oleh Dr. Olivia dari Unit Internasional FK UWKS yang secara langsung mendampingi para mahasiswa selama program. “Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman yang bermakna. Program ini bukan hanya tentang belajar kedokteran, tetapi tentang membangun koneksi manusia antarbangsa,” ujarnya.
EMBRACE 2025 membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal transfer ilmu, tapi juga ruang pertumbuhan nilai, karakter, dan pemahaman antarbudaya. FK UWKS menegaskan posisinya sebagai institusi yang berpijak pada akar budaya namun terbuka pada dunia. Dengan semangat ini, pendidikan kedokteran di UWKS melangkah mantap menuju masa depan yang inklusif, kolaboratif, dan membumi.(Sukma Sahadewa)
