Organisasi Penghayat Kepercayaan Banyak yang Hilang

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jendral Kebudayaan akan meningkatkan kualitas organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang ada di Indonesia.

Sebab, kualitas organisasi penghayat masih rendah sehingga menyebabkan banyak yang hilang karena kehabisan generasi.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sri Hartini menjelaskan, ada suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan dalam mengurusi penghayat kepercayaan. Di antaranya adalah tentang organisasi, ajaran dan sumber daya manusianya.

Dari sisi organisasi, banyak organisasi penghayat yang tiba-tiba hilang. Sehingga, para penganut penghayat kepercayaan itu perlu diberi bekal tentang manajemen keorganisasian.

“Dari sisi organisasi, misalnya, bagaimana memanej (mengelola) organisasiniya. Karena ada organisasi yang tiba-tiba hilang. Tidak ada penganutnya. Karena apa, karena tidak bisa memanej organisasi. Karena, maklum kan pendidikan tidak tinggi. Bahkan ada yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis,” katanya seusai mengisi Serasehan Daerah Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Kemudian dari sisi SDM penghayat cukup beragam. Ada yang sampai lulus SMA, ada juga yang tidak pernah mengenyam pendidikan seperti penghayat yang sudah berusia tua.

Namun begitu, Sri menyebut ada potensi yang harus dikembangkan. Apalagi Kemendikbud memiliki program strategis yang salah satunya adalah untuk peningkatan kualitas penghayat kepercayaan.

“Akan kita tingkatkan nih. Termasuk mendata, apa sih kebutuhan mereka,” imbuhnya.

Lalu soal ajaran. Sri menyebut, ajaran penghayat juga mengandung nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam berperilaku. Nilai-nilai itu menurutnya juga bisa bermanfaat bagi orang di luar penghayat. Seperti tata cara bagaimana menghadapi orang yang lebih tua.

“Ada nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai yang berhubungan dengan alam semesta. Bahkan ada nilai-nilai bagaimana cara berhubungan dengan yang lebih tua. Berhubungan dengan saudara yang lebih muda. Kalau itu dipakai, watak dan karakter itu tidak perlu mencari kemana-mana. Ada semuanya,” jelasnya.

Berdasarkan catatan yang ada di Kemendikbud, Indonesia memiliki 184 organisasi penghayat kepercayaan dengan populasi sekitar 10 juta hingga 12 juta orang.

Totok Budiantoro

Koresponden MM.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *