
Banyuwangi-menaramadinah.com, Festival Kebangsaan tampilkan wajah Banyuwangi yang plural melatar belakangi terselenggaranya acara Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari yang digelar Rabu (17/12).
Kondisi geografis Banyuwangi yang memiliki garis pantai yang panjang serta alamnya yang subur menjadi perhatian banyak orang sejak dulu.
Ekspresi keberagaman dalam festival kebangsan tidak hanya terlihat dari aneka jenis baju adatnya. Namun, juga terlihat dari tumpeng yang disajikan. Mulai tumpeng Osing, Jawa, Bali, Madura, sampai tumpeng kebuli khas Arab.
Selain itu, juga ditampilkan tari-tarian dari lintas suku dan etnis. Dilanjutkan dengan tari barong khas Bali yang diiringi dengan Rande dari Patoman. Kemudian disusul dengan tari gandung dan barong Osing dengan iringan gamelan yang khas.
Kemudian ditutup dengan tari barongsai persembahan dari komunitas Tionghoa dari Klenteng Hoo Tong Bio, Banyuwangi.
Alhasil, banyak warga dari berbagai etnis, suku, ras, dan agama yang datang ke Kabupaten Paling timur di Jawa Timur itu.
“Keberagaman yang ada di lingkungan kita, bukan menjadi alasan untuk saling membeda-bedakan. Tapi, justru untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan,” jelas Wakil Bupati Banyuwangi Sugirah
“Desa Patoman ini adalah miniaturnya Indonesia yang keberagamannya tidak dibuat-buat karena adanya festival kebangsaan, disini tidak ada perbedaan suku ras dan agama. Tolong Bakesbangpol branding Desa Patoman ini sebagai destinasi wisata desa kebangsaan, karena masyarakatnya bisa hidup berdampingan tanpa adanya konflik, ” pintanya.
Dengan kerukunan dan persatuan semua suku dan etnis tersebut, Sugirah berharap, Banyuwangi akan semakin aman dan nyaman. “Sehingga semua dapat bekerja dan beraktivitas dengan lancar.
Memberikan yang terbaik untuk daerah. Semuanya menjadi sejahtera,” ungkapnya.
Festival Kebangsaan tersebut menghadirkan berbagai etnis dan suku yang tinggal di Banyuwangi. Selain Kopat mewakili suku Osing , juga terdapat berbagai suku lain seperti, Jawa, Madura, Bali, Mandar-Bugis, Minang sampai etnis Tionghoa dan Arab.
“Melihat sejarah, seluruh suku dan etnis yang tinggal di Banyuwangi telah berkontribusi membangun daerah kita tercinta ini. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengucilkan atau bahkan mendiskriminasi. Semua berhak untuk mengekspresikan dirinya di bumi Blambangan ini,” ungkap Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi Muhammad Lutfi.
Menurut Ketua Kopat Wowok Merianto, Desa Patoman memiliki karakter keberagaman etnis dan agama. Di desa yang berbatasan dengan pantai ini, terdiri setidaknya ada empat suku yang tinggal. Selain Osing, juga ada suku Jawa, Madura dan Bali. Menariknya, masing-masing suku tersebut tetap mempertahankan budaya dan bahasanya.
“Semuanya hidup rukun dan saling berbaur dengan baik. Inilah yang kemudian menjadi alasan utama kegiatan ini diselenggarakan di sini. Desa ini juga bisa disebut Desa Kebangsaan,” tambah Owner Waroeng Kemarang itu.
Sementara menurut Ketua FPK ( Forum Pembauran Kebangsaan ) Banyuwangi Miskawi, mengucapkan banyak terima kasih sedalam-dalamnya
atas keterlibatan dan partisipasi bapak, ibu lintas suku dan etnis khususnya warga Desa Kebangsaan Patoman dalam pelaksanaan Festival Kebangsaan. Walau kondisi hujan, tadi sangat luar biasa.
Insya Allah apa yang telah kita lakukan semuanya untuk merawat keberagaman dan persatuan, pungkas Miskawi (Jurnalis Rishje)
