
Oleh: Muhammad Faris Rifqi.
“Pancasila tidak pernah menghendaki neo-liberalisme, melainkan sosialisme, saudara-saudara!”. Begitulah pemahaman yang saya dapatkan bila meresapi Pancasila sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia. Namun, dasar falsafah negara kita ini sebenarnya sudah tidak terlalu operasional di level negara sebagai organisasi kekuasaan. Cukup banyak praksis yang dilakukan oleh pemerintah berikut aparatur sipil dan militer negara tidak lagi mempedomani Pancasila sebagai ‘bintang penuntun arah bangsa’. Ditambah lagi, kita sedang dihantam gelombang kapitalisme mutakhir yang memungkinkan Pancasila dalam praksisnya di level negara menjadi barang sulit.
Tapi, saudara-saudaraku, tak ada alasan bagi kita untuk meletakkan rasa pesimis diri atas cita-cita Pancasila yang mulia itu jika masih belum berhasil kita wujudkan. Tidak, tidak boleh saudara-saudara! Pancasila, yang butir-butirnya merupakan kepribadian luhur dari bangsa kita yang beradab, yang telah digali dan disuarakan oleh Bung Karno, haruslah selalu menjadi bintang penuntun arah perjuangan bangsa. Jangan pernah biarkan para avonturir-avonturir politik leluasa dalam “memreteli” Pancasila! Sebaliknya, kesadaran dan dukungan massa rakyat demi tercapainya masyarakat Indonesia adil makmur itulah yang perlu dibiakkan.
Saudara-saudara, untuk membangun kesadaran dan dukungan massa rakyat demi tercapainya masyarakat Indonesia adil makmur itu, salah satunya, dan yang memang belum mampu kita selenggarakan dengan baik bersama massa-rakyat, adalah belajar dan membelajarkan Materialisme Dialektis Historis (MDH). Tidak lain tidak bukan, belajar filsafatnya Karl Marx, saudara-saudaraku! Jangan mengira bahwa Marxisme itu harus dus (baca: jadi) Komunisme. Tidak! Hal itu pernah ditegaskan oleh Bung Karno, untuk saudara-saudara perlu ingat. Marxisme sejatinya adalah suatu cara pemikiran. Cara pemikiran untuk mengerti perkembangan bagaimana perjuangan harus dilakukan, agar supaya bisa mencapai masyarakat adil makmur.
Banyak terjadi miskonsepsi di kalangan masyarakat, terutama salah memahami Marxisme. Banyak kalangan yang menganggap kalau Marxisme itu adalah paham anti agama, anti Tuhan. Loh ini kan, salah mengerti! Marxisme, pokok filsafatnya adalah Materialisme Historis Dialektis (MDH). MDH adalah suatu cara untuk memahami bahwa dalam sejarahnya, alam pikiran manusia selalu dikondisikan oleh economische verhoudingen (relasi ekonomi), cara-cara produksi di dalam masyarakat. Cara-cara produksi, cara mencari makan, atau semua yang dicakup dalam relasi ekonomi itulah yang menentukan bagaimana corak alam pikiran, kesadaran manusia. Itulah pokok Marxisme, MDH.
Sayangnya, harapan ini terlalu muluk-muluk apabila kita melabuhkan kepeloporannya kepada negara. Setidaknya, kita harus sudah menginsyafi ini sebagai suatu keharusan dalam memperbaiki pendidikan diri kita, saudara-saudara kita, dan anak-anak kita. Insyaf bahwa pendidikan filsafat, terutama filsafat Marx, juga perlu kita ikhtiarkan dan belajarkan, buat kita dan kekasih (pasangan) kita sendiri, buat keluarga kecil kita sendiri, atau mungkin dalam kolektif/organisasi kita. Mulailah dengan perubahan yang kecil-kecil. Namun, tetap perubahan yang kecil-kecil itu ditujukan untuk mencapai perubahan besar yang kita idamkan bersama, sosialisme hingga masyarakat adil makmur atau classless society.
Bergeraklah, kawan. Belajarlah bersama kekasihmu, keluargamu, organisasimu, dan masyarakat di sekitarmu bagaimana caranya menjadi seorang marxis. Yang telah mampu mengenyam filsafat dan punya kehendak untuk berbagi, hendaklah mendampingi yang tidak mampu, belajar bersama dan memberikan bantuan fasilitas semampunya. Mahasiswa progresif-revolusioner yang telah memahami filsafat Marx dan hal itu telah menjamur di otaknya, maka wajib sekali baginya untuk menyebarkan energi positifnya dan terjun sebagai fasilitator bagi orang lain untuk mendalami filsafat Marx dan menjadi marxis dalam tekad berjuang yang berkobar-kobar. Ini adalah satu buah ikhtiar yang padu oleh kita sebagai sebuah bangsa, ikhtiar dalam lingkup yang kecil-kecil, tapi berarti.
