Harlah Organisasi Kuda Lumping

Oleh :
Muchammad Toha.
Tepat sekarang ini Hari lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia diperingati, sebagai organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama yang terlibat secara aktif diberbagai peristiwa dalam percaturan politik di Indonesia, kehadirannya cukup mewarnai perjalanan sejarah panjang negeri tercinta ini, kendatipun tidak semua mahasiswa NU berada dalam wadah PMII namun sejarah telah mencatat dab masyarakat telah memaklumi bahwa PMII lah organisasi yang benar benar lahir dari organisasi keagamaan terbesar yang berbasis pesantren ini.
Sehingga yang sering kita saksikan adalah pesantren begitu getol dalam membantu tumbuh kembangnya pengkaderan PMII ini, maka tidak heran bila acara-acara pelatihan dan kegiatan pencerdasan kader PMII sering diselenggarakan di pesantren, namun faktanya ada pesantren yang tidak familier dengan PMII, terlepas karena keluarga besar pesantren tidak pernah terlibat di PMII atau para pembisik yang tidak sedikitpun menaruh simpati pada PMII namun kenyataan ini benar-benar ada dan terjadi.
Sebagai salah satu majelis Pembina cabang pada waktu itu, penulis sempat bingung karena adanya beberapa mahasiwa yang datang ke rumah dan berkeluh kesah bahwa mahiswa yang aktif di PMII dikenai sangsi dan bahkan ada yang dikeluarkan dan yang lebih membingungkan lagi pada penulis adalah tokoh pemangku pesantren tersebut termasuk kiai pejuang di kalangan NU dan menduduki jabatan struktural di tingkat cabang maupun wilayah. Sebagai santri tidak mungkin penulis berani ngeluruk (hadir) memaksa merubah sikap keputusan kiai, yang bisa penulis lakukan adalah berkomunikasi dengan person yang dekat kiai dan akhirnya mendapat solusi terbaik yaitu mahasiswa dikeluarkan tapi tetap dibantu untuk pindah ke pesantren lain dan akhirnya semua dapat dinyatakan lulus sarjana walaupun dari perguruan tinggi di pesantren yang berbeda.
Berangkat dari kejadian diatas ada beberapa hal yang perlu dicatat di kalangan mahasiswa aktifis PMII bahwa untuk menjadi seorang aktifis tidak harus menanggalkan kesantriannya dan meninggalkan tradisi yang mengiringi ibadahnya, maka seharusnya tidak terjadi pada mahasiswa aktifis PMII setelah membaca Das kapital atau khatam dalam memahami Madilog kemudian membangga banggakan hingga sundul langit sebaliknya melupakan kitab-kitab pesantren yang telah dikaji bertahun-tahun.
Padahal sejujurnya PMII adalah pencetak kader unggul yang bisa membahasakan posisi dan hubungan agama, politik dan sosial budaya pada masyarakat Indonesia. Dasar keunggulan itu adalah umumnya kader PMII berasal dari pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan tentunya memiliki pemahaman agama yang lumayan mapan dibandingkan mereka yang hanya studi di lembaga umum, lalu ketika bergumul di PMII mendapat tambahan ilmu pergerakan, analisis sosial dan politik yang lebih mendalam, tentunya akan muncul dan melesat dari kawah candradimuka PMII para satria muda yang tidak tedas tapak paluning gerinda, yang membedakan dua benda laksana keris dan jemparing anak panah, tapi justru sebaliknya menyatukan dua senjata yaitu laksana bayonet dan laras panjangnya.
Kiranya ini penting dipahami para kader PMII sekarang ini, sehingga tidak elok bila telah menyatakan diri sebagai aktifis PMII yang telah mengkaji berbagai teori sosial kemudian kendor dalam kegiatan keagamaan, aktif di seminar, kajian, sarasehan tapi mulai agak susah hadir di tahlilan, manaqiban, ratiban atau istighosahan, kegiatan yang menjadi ciri khas NU ini bukan saja untuk mendekatkan diri pada Tuhan tapi juga sebagai penjagaan terhadap umat yang sekarang ini sedang menghadapi rongrongan mereka yang sangat bernafsu untuk menghilangkan amaliah itu semua.
Maka tidak heran bila yang dulu masyarakatnya ijo royo royo kemudian berubah menjadi ijo loyo loyo, karena salah satu sebabnya kader PMII yang lumayan paham agama kini lebih aktif mengkaji teori-teori baru yang lebih mengasyikkan walau kadang-kadang sangat beresiko dan umatnya yang setia menunggu kehadirannya dan tak kunjung tiba akhirnya diasuh oleh mereka yang adanya tiba-tiba dan pandainya mencela dan menyalah-nyalahkan amaliah para ulama ikhlas yang memiliki saham besar dalam mencapai Indonesia merdeka.
Demikian juga yang terjadi dibeberapa perguruan tinggi umum, kehadiran mahasiswa baru akan menjadi rebutan para aktifis organisasi mahasiswa intra maupun ekstra kampus, berbagai cara dilakukan agar mahasiswa baru ikut dalam organisasi mereka, mulai membantu mencari kos sampai memberikan tentir dan sebagainya. Namun yang terjadi kader PMII kadang-kadang justru terlalu baik dalam mengukur kemampuan para mahasiswa baru yang datang dari pelosok daerah dengan pemahaman agama yang berbeda-beda, alias menyamakan pemahaman agama mereka dengan dirinya, sehingga dalam merekrut calon kader, para aktifis mahasiswa PMII lebih menonjolkan menu-menu yang sedang digandrunginya (bukan agama), padahal mahasiswa baru yang masuk sedang haus-hausnya belajar agama, sementara mahasiswa PMII telah mempelajarinya sejak balita sampai belia.
Akhirnya para mahasiswa baru luluh hatinya bergelayut pada mereka yang menyodorkan peningkatan pemahaman agama karena mereka tahu yang mahasiswa baru butuhkan masih pada tataran belajar membaca kitab suci, kisah-kisah tentang sahabat nabi lalu pada tahapan berikutnya dikenalkan cara berbusana dan bagaimana sapaan yang benar menurut agama sesuai pemahaman mereka yang mengajari.
Maka ketika libur semester pertama dalam kuliah, mahasiswa baru ini pulang dengan busana yang berbeda, dulu rambutnya awut-awutan menjuntai bagaikan ekor kuda di hutan belantara menjadi tertutup rapat sampai bawah dada dan tidak kelihatan tangannya, sementara mahasiswa prianya yang dulu berangkat dengan penampilan kusam menjadi rapi yang dulu rambutnya panjang menjadi rambut dagunya yang panjang, dulu berangkat celanya robek rowak rawek berubah menjadi rapi walau panjangnya agak dikurangi.
Melihat perubahan ini pasti orang tua dan keluarga yang sama-sama sedang belajar agama senang dan bangganya luar biasa, luapan gembira yang tiada tara sampai melupakan anaknya yang baru pulang kuliah ternyata sekarang tidak akrab lagi dengan tetangga dengan aneka tradisi budayanya, bahkan pada akhirnya seluruh keluarga terpengaruh dan rela mengambil pilihan hidup yang berbeda dengan mayoritas masyarakat sekitarnya karena telah merasa paling benar dan paling tahu tentang agama.
Sebaliknya mahasiswa aktifis PMII yang dulu santun, berkopyah, bersarung, rajin marhaban dan istighosah, tiba-tiba berubah menghadap kiai tanpa tutup kepala, bahasanya jadi keras memekak telinga mungkin karena terlalu lama aksi di jalan raya, dulu yang selalu bersarung kemana-mana lalu busana itu berubah terbelah tengahnya menjadi celana, itu tidak masalah tapi yang kurang pantas adalah sobeknya dimana-mana dari lutut sampai pantatnya, megaphone toa dikempit kemana-mana sedangkan tasbih tidak pernah disentuhnya, sehingga cukup alasan ketika ada seorang kiai yang sedih ketika melihat kader PMII seperti ini, sementara masyarakat kita butuh kehadiran kader-kader unggul dalam ilmu agama dan memahami tentang tradisi dan budaya dengan berwajah dan berbudaya santri.
Maka dihari ulang tahunnya yang ke 60 ini momen dimana kader PMII harus menyadarkan dirinya bahwa PMII ini adalah organisasi yang membawa mulia dan membawa berkah, dengan berPMII yang tadinya kita bukan siapa-siapa dan tidak kenal siapa-siapa menjadi kenal dan diperhitungkan siapa saja dan akan menambah kemuliaan kita, dengan berPMII yang dulu tidak mungkin bisa diraih tanpa besarnya rupiah berubah tanpa biaya, maka tidak heran bila kader-kadernya menuai sukses dalam berbagai karier dan bidangnya, ini artinya membawa berkah.
Sebagai penutup dihari bahagia kelahirannya, mari kita rawat dan jaga PMII sehingga tidak seperti kuda lumping dijepit dan dibawa tampil kemana-mana tapi tidak ada perawatannya, pemain lonjak-lonjak tanpa bawa apa-apa pasti dianggap orang gila, maka kehadiran kuda lumping itulah sehingga masyarakat tahu apa dan siapa si penari itu dan sekaligus mengenal nama atraksinya walaupun pada awalnya tidak mengenal si pemainnya.