
Oleh: Diar Mandala, Redaksi Menara Madinah
Makanan Bergizi Gratis bukan sekadar program makan siang gratis. Ini intervensi kesehatan publik yang menyasar stunting dan anemia remaja. Di lapangan, anak-anak dan ibu-ibu sudah merasakan manfaatnya. Piring mereka bertambah protein, sayur, buah. Ini bukti program pemerintah yang tepat sasaran, langsung menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
Kritik ilmiah wajib kita buka ruangnya. Kebijakan sebesar MBG harus dievaluasi tiap hari. Tapi yang terjadi justru penolakan emosional tanpa pembanding data. Satu kasus gagal dijadikan vonis untuk 300 ribu titik distribusi. Ini cacat metodologi, bukan kritik kebijakan.
Fenomena paling merusak bukan kritiknya, tapi partisipasi tanpa literasi. Di ruang digital, kita lihat pola berulang: narasi penolakan MBG disebar masif oleh akun yang tidak menguasai data teknis, tidak pernah audit dapur, tapi paling vokal di kolom komentar.
Ini bentuk asertivitas simulakrum: berisik tanpa substansi, mengulang keraguan tanpa uji hipotesis. Dalam teori komunikasi, ini disebut “efek gema” – kebenaran diukur dari volume, bukan validitas.
Ketika gaduh muncul tanpa turun ke lapangan, tanpa tawaran kebijakan alternatif, maka kritik berubah fungsi. Dari checks and balances menjadi noise as resistance. Publik berhak curiga: ini penolakan berbasis kajian, atau resistensi psikologis karena tidak masuk dalam desain kebijakan?
Inilah “pengacauan narasi”: bukan debat kebijakan, tapi pembunuhan karakter program lewat banjir keraguan. Gizi anak tidak boleh jadi korban dari keramaian digital yang kosong metodologi. MBG boleh dikritik, wajib dievaluasi. Tapi kritik harus naik kelas: dari koar-koar menjadi karya.
Warga negara yang baik berdiri di tengah. Tidak mendukung buta, tidak menolak emosional. Tugas kita mengawal transparansi anggaran, mengawasi kualitas menu, dan meluruskan hoaks dengan fakta lapangan.
MBG memang belum sempurna, dan harus disempurnakan. Tapi menghentikan program gizi massal karena “belum sempurna” sama seperti menolak vaksin karena jarumnya sakit. Kerugiannya ditanggung Indonesia Emas 2045. Karena itu MBG harus jalan, dievaluasi, dan lanjut 2 periode.
