Pada Momen Peresmian Renovasi Istana Gebang: Megawati Ajak Resapi Jejak Sejarah dan Semangat Perjuangan Bung Karno.

BLITAR – Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, meresmikan selesainya renovasi Istana Gebang dan pembukaan patung Bung Karno setinggi lima meter di Kota Blitar, Senin (15/6/2026).

Acara berlangsung penuh keharuan dan makna, dihadiri keluarga besar Bung Karno, jajaran pengurus partai, serta ribuan masyarakat dan kader yang antusias menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Berbeda dengan sambutan resmi yang disiapkan panitia, putri Proklamator ini memilih berbicara dari hati nurani, mengingat tempat itu adalah rumah masa kecil ayahnya.

“Ini tadinya saya sudah dibuatkan sambutan, tapi kok saya pikir… ini sambutan dibaca atau tidak ya? Kalau dibaca jadi formal. Tidak ah, ini di rumah Eyang Kakung. Saya bicara langsung. ‘Eyang Kakung, permisi ya, saya bicara… ini bicara hati nurani’,” ujar Megawati disambut tepuk tangan meriah.

Ia menegaskan bahwa Istana Gebang bukan sekadar bangunan tua atau tempat wisata biasa, melainkan saksi hidup tumbuhnya gagasan kebangsaan dan karakter Bung Karno. Di rumah yang dibangun tahun 1884 dan dibeli keluarga sekitar 1917 itu, sang Proklamator menghabiskan masa kecilnya sebelum kemudian berjuang menegakkan kemerdekaan.

“Tempat ini bukan hanya untuk dikunjungi, tapi untuk diresapi. Saya merenung berhari-hari: apa yang harus disampaikan? Bukan sekadar cerita tempat tinggal, tapi tentang semangat perjuangan. Beliau menghabiskan 22 tahun hidupnya di penjara dan pengasingan—Ende, Bengkulu, Bangka—karena percaya Indonesia pasti ada,” tegasnya.

Megawati mengingatkan agar kemerdekaan tidak dianggap selesai diperjuangkan. Menurutnya, waspada terhadap segala bentuk penjajahan modern tetap diperlukan.

“Apakah kalian sudah benar-benar merdeka? Belum. Kita bisa dijajah lagi kalau tidak waspada. Maukah kalian dijajah lagi?” tanyanya, dijawab serempak “Tidak!” oleh hadirin.

Peresmian ditandai penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti patung karya seniman Gunadi dari Bantul. Usai acara utama, Megawati berkeliling meninjau seluruh ruangan, termasuk kamar, koleksi foto, hingga sumur tua yang masih berfungsi.

Megawati yang ketika itu didampingi keluarga dan sejumlah sahabat dekat, termasuk Connie Rahakundini Bakrie dan anaknya Prananda Prabowo berlangsung santai dan penuh kehangatan keluarga, diselingi tawa kecil.

Ia juga memberi perhatian serius pada pengelolaan jangka panjang. Ia meminta satu hari libur khusus per minggu untuk pembersihan menyeluruh, perawatan koleksi yang mulai kusam, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Barang harus dirawat baik. Pegawai perlu pelatihan khusus agar bisa menjelaskan detail sejarah dengan benar. Saat ini dua petugas saja tidak cukup—bisa ditambah jadi 10 orang. Bisa dianggarkan, Pak Wali?” tanyanya kepada Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin, yang menjawab siap melaksanakannya.

“Di tengah dinamika zaman, kehadiran situs yang terawat baik dan dikelola secara profesional menjadi ruang refleksi untuk menanamkan kembali nilai cinta tanah air, pengorbanan, dan persatuan,” ujar Walikota Mas Ibin.

Komitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan Istana Gebang sebagai pusat pembelajaran sejarah, lanjut Mas Ibin menjadi bukti bahwa warisan leluhur terus dijaga agar tetap menginspirasi generasi sekarang dan mendatang.*Imam Kusnin Ahmad*