Berhaji di Indonesia : Menjadi Teladan Bagi Muslim Indonesia.

Inilah catatan tausiah yang saya ingat dari KH.Imam Khambali, KH. Syukron Jazilan dan KH.Ali Zainal Pembimbing Haji Bryan Mekkah sebelum pulang ke tanah air.
Intinya : Jadilah Haji Teladan di Masyarakat, Anda jadi penerang dan penyejuk hati di komunitas Anda.
Jadilah orang baik kepada siapapun, itulah TIRAKAT yang paling TOP MARKOTOP, begitu kata KH.Imam Khambali.

Ada pulang yang mengubah segalanya. Pulang dari tanah suci bukan hanya membawa koper dan air zamzam. Inilah obrolan hati anggota rombongan 3 bersama ketua kloter H.Sumbito dan dokter hj Retno yang haru dan membahagiakan di asrama haji Sukolilo Surabaya. HAJI TELADAN.
Haji bukan hanya bergelar pak haji dan bu hajjah, tapi membawa hati yang baru.

1). Haji itu memohon taubat

Di Arafah, kita bukan siapa-siapa. Hanya hamba yang menunduk, menangis, dan berbisik: Ya Allah ampuni aku.
Ampuni dosa kepadaMu. Ampuni durhaka pada Ibu Bapak yang dulu pernah kita bentak. Ampuni lalai pada anak istri yang haknya belum kita tunaikan. Ampuni kata kasar ke teman, janji yang ingkar, hati yang sombong.
Haji mengajari kita berani jujur sama diri sendiri. Karena kalau bukan di depan Ka’bah kita minta ampun, lalu di mana lagi?

2). Tiga larangan, tiga pelajaran seumur hidup

Allah titip pesan lewat haji dalam Alquran : _”Wala rofatsa, wala fusuqo, wala jidala”_. Jangan berkata kotor, jangan berbuat dolim, jangan suka berdebat.

_Jangan berkata kotor_
Di Mina yang sesak, di toilet yang antri, di bis yang rebutan kursi. Di situlah ujian lisan. Bisa nggak kita tetap lembut? Kalau bisa menahan diri di sana, mestinya lebih bisa di rumah Surabaya. Karena menyakiti orang lewat omongan itu lukanya lama sembuhnya. Kalau bisa, jadikan omongan kita penyejuk. Seperti air zamzam.

_Jangan berbuat dolim/jahat_
Sekamar 6 orang, beda kebiasaan, beda ngoroknya. Teman sekloter rebutan makan. Di sinilah latihan “baik”. Dahulukan orang lain, sabar, tolong yang lemah. Haji tanpa akhlak baik rasanya hampa. Karena Allah nggak lihat seberapa jauh kita jalan, tapi seberapa lembut kita memperlakukan sesama.

_Jangan suka berdebat_
Ingin menang sendiri, merasa paling benar, ngot soal remeh. Capek sendiri. Di tanah suci kita belajar ngalah. Demi jamaah lain, demi lancarnya ibadah.

3). Bisakah dipraktekkan setelah pulang ke tanah air ?

Ini pertanyaan paling jujur. Mudah jadi lembut saat pakai ihram putih. Susahnya saat sudah pakai baju batik lagi, sudah balik macet, kerjaan numpuk, tetangga cerewet.
Bisa, kalau kita mau. Haji mabrur tandanya bukan gelar di depan nama. Tandanya: akhlak yang berubah. Pulang ke Indonesia lalu jadi orang yang paling duluan minta maaf ke orang tua. Paling sabar ngadepin anak. Paling ringan tangan nolong tetangga.

4). Bisakah jadi Haji Teladan di Tanah Air ?
Bisa. Malah itu tujuannya. Mekkah ngajari, Indonesia tempat mempraktikkan.
Teladan itu sederhana: nggak nyakitin lewat WA grup RT. Nggak serobot antrean. Nggak gibah di warung kopi. Nebar kebaikan sekecil senyum ke tukang parkir.
Kalau sepulang haji kita jadi orang yang bikin orang lain nyaman, itulah barangkali arti _mabrur_. Barakallah.

Haji bukan garis finish. Haji itu titik balik. Semoga kita pulang bukan hanya bergelar, tapi berubah. Menjadi manusia yang dirindukan surga, dan dirindukan sesama.

Barakallah