
“Haru, Ceria & Membahagiakan”, ya itulah suasana 300 jamaah haji Bryan Mekkah Surabaya, campur aduk jadi satu, mulai di pesawat, asrama haji sampai di masjid Nasional Alakbar Surabaya.
Bagaimana kisahnya ?, berikut ini laporan Ustadz Yahya Aziz dari Masjid Alkbar kepada tim redaksi MenaraMadinah Online.

A. Suasana di Pesawat Saudi Air Line & Antri di Bandara King Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi.
300 jamaah haji “BM” Bryan Makkah Surabaya berdiri sabar mengular. Antri pemeriksaan paspor di Bandara King Abdul Aziz Jeddah bukan beban, tapi jeda terakhir sebelum pulang. Di wajah mereka bukan lelah, tapi bahagia yang tak bisa disembunyikan. Segera bertemu keluarga di tanah air… itu yang membuat langkah terasa ringan.

KH. Imam Chambali berjalan hilir mudik. Suaranya lembut tapi tegas: “Sabar, Bapak Ibu. Sabar antri koper, sabar antri paspor. Ini ujian terakhir Allah untuk kita.” Pesan itu diulang-ulang, bukan karena jamaah bandel, tapi karena beliau tahu rindu bisa bikin orang lupa diri.
B. Di Dalam Pesawat, Jasad di Langit Hati di Rumah
300 jamaah sabar mengantri masuk pesawat. Tak ada dorong-dorongan. Yang ada senyum, sapa, dan “monggo silakan dulu Pak Bu”. Aura ceria itu menular sampai ke kokpit.
Aura kebahagiaan paling nyata ada di wajah KH. Imam Chambali, KH. Syukron Jazilan, KH. Ali Zainal. Tugas berat membimbing 300 jiwa akhirnya tuntas. 300 jamaah sehat, yang sakit sembuh, yang susah jadi bahagia. Para pembimbing ikut bahagia karena jamaahnya rukun, kompak, saling bantu angkat koper, saling suapi kalau ada yang mual.
Di kursi 34D, H. Maulan tertawa kecil: “Ha…ha…ha… jasad kita di langit 10 ribu kaki, tapi hati sudah nunggu di depan pintu rumah. Lagi nunggu antri toilet aja kebayang pelukan anak istri.”
Sementara itu Dokter Hj. Retno tak bisa duduk tenang. Ada amanah berat: jamaah sepuh dari Gresik, kloter 29, penderita kanker usus. Sepanjang penerbangan beliau temani, cek tensi, bisiki doa. “Allahu Akbar” lirihnya saat pramugari kabarkan: “Bu Dokter, begitu landing Juanda ambulans sudah standby.” Tugas belum selesai, tapi cinta sudah dibuktikan.
C. Di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pukul 18.30-21.00
Tepat 18.30 roda pesawat Saudi Air Line menyentuh landasan Juanda. Sorak takbir kecil pecah dari dalam kabin. 8 bis kuning sudah menunggu, dikawal mobil polisi dengan sirine yang bukan menakutkan, tapi mengharukan. Ini iring-iringan “Tamu Allah”.
Pukul 20.00 kaki menginjak Asrama Haji Sukolilo. Pengurus Haji Jawa Timur menyambut dengan nampan kopi panas, teh hangat, dan makanan sederhana. Tapi rasanya seperti jamuan raja. “Silakan, Bapak Ibu. Ini hidangan untuk tamu-tamu Allah yang baru pulang dari Tanah Suci.”
Acara ditutup dengan doa syahdu oleh Dr. KH. Moh Yahya, tim petugas kloter 50. Air mata jatuh tanpa aba-aba. 40 hari rindu, lelah, tangis di Arafah… lunas di ruang sederhana ini.
D. Dijemput di Masjid Nasional Alakbar Surabaya
Lapangan parkir Al Akbar penuh. 500 mobil berjejer, mesin menyala, lampu hazard berkedip seperti bintang menunggu kekasihnya pulang. 40 hari berpisah, wajar kalau rindu, ceria, haru jadi satu.
Saya di bis 3 bersama istri. Dari kejauhan sudah kelihatan: Mas Aldi, Mbak Alya, saudara Hidayatus Solihah sekeluarga, Ust Syaikhul Amin sekeluarga, Ustazah Tutik, Bu Ani, Bu Lutfiyah, Bu Suryani… perwakilan ibu-ibu Majlis Taklim Miftahul Jannah. Keluarga dari Kediri, 2 anak saya, semua ikut.
Kami dijemput 3 mobil. Salaman, pelukan, tangis. Tak ada kata yang cukup. Di pelataran Al Akbar, saya dan istri langsung sujud syukur. Dah dahi menyentuh marmer masjid. “Ya Allah, selamatkan kami, sehatkan kami, pulangkan kami…”
Tepat jam 11.00 malam pintu rumah terbuka. Sujud syukur lagi. Dan pagi ini, tamu silih berganti datang. Cerita, pelukan, air mata bahagia.
Ya Allah… semoga haji kami tahun 2026 ini Engkau terima. Jadikan haji mabrur, haji maqbula, haji yang Engkau ridhoi. Al Fatih
