Surat Terakhir Habib Usman bin Yahya di Kongres Sarekat Islam dan Jasadnya Dicuri Pejuang Kemerdekaan

 

Seratus tiga belas tahun yang lalu, tepatnya pada akhir bulan Maret 1913, Habib Usman pernah menginjakkan kakinya di Solo. Bagaimana ceritanya. Berikut ini :

Ia hadir dalam acara Kongres Sarekat Islam (SI) dan memberikan pidato di sana. Karena waktu itu tokoh tokoh Sarekat Islam tidak tahu kalau cucu Nabi Palsu.

Dari Batavia, Habib Usman berangkat bersama D. A. Rinkes, seorang pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda yang juga Direktur Balai Pustaka pada zamannya.

Dalam kongres itu, hadir sejumlah petinggi SI, seperti H.O.S. Tjokroaminoto (Surabaya), H. Samanhoedi (Solo), Hassan Ali Soerati (Malang), D.K. Ardiwinata (Bandung), Rd. Soewardi Soerjaningrat (Yogyakarta), dan lain-lain.

Dalam sepucuk surat yang ditulis oleh Habib Usman dari Batavia dan dikirimkan untuk Snouck di Leiden pada tarikh 04 Oktober 1913, Sayyid Usman menceritakan perihal perjalanannya ke Solo dan kehadirannya dalam kongres SI.

Surat tersebut sekaligus menjadi surat terakhir yang ditulis dan dikirim oleh Sayyid Usman untuk Snouck sang sahabat dekatnya, di mana beberapa bulan kemudian, Sayyid Usman meninggal dunia (19 Januari 1914).

Kemudian dimakamkan di Jakarta. Saat menjelang Kemerdekaan. Jenazahnya diambil oleh pejuang kemerdekaan. Hal tersebut diketahui saat jenazahnya mau dipindahkan ternyata jasadnya tidak ada.

Oleh karena itu, ahli waris hanya mengambil tanah di makam Habib Usman bin Yahya kesempatan makam sekarang. Kini makamnya hanya berupa tanah dan tidak ada jasanya.

Pencurian dilakukan pejuang kemerdekaan pada Zaman Jepang. Karena selama hidupnya membuat kita yang isinya menyesatkan ajaran para kiai di Banten dan Batavia.

Pecurian jasad Habib Usman bin Yahya dimakamkannya sebagai upaya balas dendam umat Islam terhadap perilakunya ketika masa jasanya penjajah Belanda.

Tidak ada orang yang mencegah aksi pencurian itu. Karena rasa benci telah mendarah daging para pejuang kemerdekaan. Atas kematian luluhurnya dalam perang pemberontakan petani di Pandeglang Banten.